Cari Blog Ini
Sabtu, 07 Maret 2020
Catatan dari Petak Sembilan
Aroma dupa menguar di udara ketika memasuki area Petak Sembilan di Pecinan Glodok, tak jauh dari Pasar Asemka. Deretan lapak dan toko memanjang dari gerbang Pecinan sampai ke Wihara Darma Bakti.
Wihara Darma Bakti adalah wihara tertua di Kota Jakarta. Dibangun pada tahun 1650 oleh seorang Luitenant Tionghoa, Kwee Hoen, dan semula wihara ini bernama Kwan Im Teng.
Ada banyak pedagang pernak-pernik peribadatan bagi warga Tionghoa, berdampingan dengan pedagang buah, sayur dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Seorang ibu rumah tangga, suka menulis, suka membaca, suka sejarah, suka petualangan....
Minggu, 03 Maret 2019
Senyuman Anak Kebahagiaan Orangtua
Seorang ibu rumah tangga, suka menulis, suka membaca, suka sejarah, suka petualangan....
Jumat, 28 Desember 2018
Peran Pertama dan Utama dalam Mendidik Anak
*Peran Utama dan Pertama dalam Mendidik Anak*
Mendidik anak adalah tugas utama orang tua. Guru juga berperan dalam mendidik tetapi tetap orang tualah yang kelak dimintai pertanggungjawaban atas anak-anaknya.
Bukan karena orang tua sudah membayar biaya sekolah lantas menuntut sekolah menjadikan anaknya baik, sholeh sholehah dan segala macam prestasi. Sekolah hanya membantu orang tua dalam menyampaikan ilmu, mendidik anak-anak didik dengan kapasitas keilmuan yang dimilikinya.
Bagaimana mungkin orang tua berharap anaknya ekspress jadi pintar, sholeh sholehah dalam waktu 3 tahun SMP atau SMA, sementara bersama mereka sudah belasan tahun dilalui. Entah dengan didikan seperti apa di rumahnya?
Kemanjaan yang berlebihan? Kekerasan yang menyakitkan? Bully-an yang tak beradab? Hanya orang tua yang bisa menjawabnya.
Wabil khusus jika anaknya dipesantrenkan. Entah kenapa ada anggapan umum bahwa jika masuk pesantren anak akan jadi: sholeh, mandiri, qonaah, hafal Qur'an dan hadits. Sedangkan di rumahnya sendiri tidak dididik supaya mandiri, qonaah dan terbiasa menghafal Qur'an bersama-sama?
Faktanya?
Anak yang terbiasa dimanja akan menjadi anak yang ingin segala sesuatunya dituruti oleh pengasuhnya di pesantren. Cenderung tidak taat aturan. Sekarep dewek.
Anak yang terbiasa dididik dengan kekerasan akan menjadi anak yang keras kepala, keras hati dan tak segan menyakiti temannya baik verbal maupun lisan. Lebih menyedihkan lagi jika hatinya sudah membatu, sulit menerima nasihat.
Anak yang terbiasa dididik dengan permisif, cenderung merasa terkekang selama di pesantren. Jam pelajaran dianggap membatasi kesenangannya. Sehingga ketika pulang ke rumah saat libur, mereka memuaskan kesenangannya entah dengan gadget, tontonan yang tidak baik, lupa semua yang sudah diajarkan di pesantren.
Ada juga anak yang di depan guru tampak baik, sedangkan di depan orang tuanya menceritakan keburukan guru. Dalam kasus ini, tentu tergantung dari sikap orang tuanya. Kalau saya dulu, mana berani menjelekkan guru atau mengadu pada orang tua. Yang ada malah saya diomeli balik.
Adab murid kepada guru, tergantung pada adab orang tua terhadap guru anaknya. Ingat kasus murid memukul gurunya sampai tewas? Atau orang tua yang melaporkan guru ke polisi? Subhanllah..... Guru bukan pegawai yang dibayar saja. Guru berkewajiban mendidik murid atas dasar rasa sayang...
Salah besar jika orang tua heran "kok anak saya malas ibadah? Di sekolah gak diajarin?"
Bukan gak diajarin, tapi anak itu merasa ajaran ibadah itu sebagai kekangan atas kesenangannya atau kesadaran dan kebiasaan sejak di rumah?
Orang tua dan guru harus sinergis dalam mendidik anak. Artinya, kalau di sekolah sudah disiplin, di rumah pun harus. Jangan serba boleh melakukan apapun. Ujung-ujungnya nanti menyalahkan sekolah kalau anaknya tidak baik...
Kesimpulan:
Sekolah bukan tempat "cuci piring". Ingin anak jadi baik, maka itu dimulai sejak di rumah. Bahkan sejak anak masih di dalam kandungan. Atau jauh sebelum itu, sejak Ayah dan Bunda belum menikah. Mendidik diri sendiri lebih dulu.(yuni)
Seorang ibu rumah tangga, suka menulis, suka membaca, suka sejarah, suka petualangan....
Jumat, 07 Desember 2018
Maaf Bang, Aku Tak Pandai Menawar
Sore itu anggaplah saya sedang ngidam buah juwet/jamblang. Kami pergi ke pasar dan mencari buah langka tersebut. Hanya ada satu kios yang menjual juwet, itu pun kecil-kecil. Harganya masih mahal. Rp.23.000/kg. Namanya sudah kepingin banget, langsung saya beli setelah mencoba nawar Rp.20.000 tapi nggak dikasih.
Suami sempet nyari ke kios lain, tapi saya pikir "Ah ribet. Mesti keliling pasar lagi. Belum tentu nanti dapat. Kan sebenarnya buah juwet itu musiman, lebih sering gak adanya. Nggak kayak buah tomat yang ada di mana-mana di pasar.
"Bener nih Bu nggak dapat Rp. 20.000?" Tanyaku.
"Iya Neng, ini buah langka. Gak dapet 20 mah." Jawab pedagang yang berlogat Sunda itu.
Baca juga tulisan Niya Blogger Banten
Aku menyerah, dan membeli saja 1 kg. Sekalian sama kolang-kaling 1/2 kg seharga Rp. 10.000. Sudah itu kami pulang. Pedagangnya bilang begini sebelum kami pergi, "makasih ya Neng.. semoga berkah hidup Neng..." Betapa gembiranya daku Bang....
Sambil di jalan, kami ngobrol tentang juwet tadi. Tampaknya suami belum ikhlas karena belanjaanku itu sama sekali gak ada hasil nawar.
"Bang, kita kalo ke supermarket ada gitu nawar ke kasir? Nggak kan? Biarin ajalah, seribu duaribu yang kita berhasil tawar apa manfaatnya buat kita? Tapi bagi pedagang itu sangat berharga. Denger gak tadi, pedagangnya ngedoain keberkahan buat kita. Udahlah jangan nawar pedagang kecil... Biar berkah hidup kita."
"Iya juga ya. Betul itu Neng." Ungkapnya.
Dalam beberapa kesempatan belanja di pasar, kadang suami menegur "Kok nggak ditawar sih?"
Aku pun nyengir saja, bukannya mau pamer putihnya gigiku tapi memang kelemahanku adalah tak pandai menawar apalagi ke pedagang kecil. Ya kalau pedagangnya "mudah" ditawar ya nggak apa-apa. Tetapi kalau dia nggak ridho, kita sebagai pembeli jangan maksa. Berjual-beli itu harus sama-sama ridho... Jangan sampai ada yang terzalimi.
Seorang ibu rumah tangga, suka menulis, suka membaca, suka sejarah, suka petualangan....
Maaf Bang, Aku Tak Pandai Menawar
Ket.foto: dari google
Sore itu anggaplah saya sedang ngidam buah juwet/jamblang. Kami pergi ke pasar dan mencari buah langka tersebut. Hanya ada satu kios yang menjual juwet, itu pun kecil-kecil. Harganya masih mahal. Rp.23.000/kg. Namanya sudah kepingin banget, langsung saya beli setelah mencoba nawar Rp.20.000 tapi nggak dikasih.
Suami sempet nyari ke kios lain, tapi saya pikir "Ah ribet. Mesti keliling pasar lagi. Belum tentu nanti dapat. Kan sebenarnya buah juwet itu musiman, lebih sering gak adanya. Nggak kayak buah tomat yang ada di mana-mana di pasar.
"Bener nih Bu nggak dapat Rp. 20.000?" Tanyaku.
"Iya Neng, ini buah langka. Gak dapet 20 mah." Jawab pedagang yang berlogat Sunda itu.
Baca juga tulisan Niya Blogger Banten: Suami dan Hobi
Aku menyerah, dan membeli saja 1 kg. Sekalian sama kolang-kaling 1/2 kg seharga Rp. 10.000. Sudah itu kami pulang. Pedagangnya bilang begini sebelum kami pergi, "makasih ya Neng.. semoga berkah hidup Neng..." Betapa gembiranya daku Bang....
Sambil di jalan, kami ngobrol tentang juwet tadi. Tampaknya suami belum ikhlas karena belanjaanku itu sama sekali gak ada hasil nawar.
"Bang, kita kalo ke supermarket ada gitu nawar ke kasir? Nggak kan? Biarin ajalah, seribu duaribu yang kita berhasil tawar apa manfaatnya buat kita? Tapi bagi pedagang itu sangat berharga. Denger gak tadi, pedagangnya ngedoain keberkahan buat kita. Udahlah jangan nawar pedagang kecil... Biar berkah hidup kita."
"Iya juga ya. Betul itu Neng." Ungkapnya.
Dalam beberapa kesempatan belanja di pasar, kadang suami menegur "Kok nggak ditawar sih?"
Aku pun nyengir saja, bukannya mau pamer putihnya gigiku tapi memang kelemahanku adalah tak pandai menawar apalagi ke pedagang kecil. Ya kalau pedagangnya "mudah" ditawar ya nggak apa-apa. Tetapi kalau dia nggak ridho, kita sebagai pembeli jangan maksa. Berjual-beli itu harus sama-sama ridho... Jangan sampai ada yang terzalimi.
Postingan ini untuk memenuhi tugas kedua Menulis60hariBloggerBanten
Seorang ibu rumah tangga, suka menulis, suka membaca, suka sejarah, suka petualangan....
Sabtu, 01 Desember 2018
Titip Anak Saya ya....
"Titip anak saya ya Umm..." Kata beberapa wali santriwati sebelum mereka pulang dengan meninggalkan putrinya di pesantren.
Aura keharuan memancar, betapa sedih dan mengharukannya momen ini. Saat orang tua, terutama ibu harus 'berpisah' untuk sementara demi anaknya bisa belajar jauh dari rumah.
Meninggalkan anak di pesantren adalah sesuatu yang berat dirasakan tak hanya oleh orang tua, bagi sang anak berpisah sementara dari rumah adalah ujian yang terasa berat. Setiap hari teringat suasana rumah, rindu ayah-ibu, teman-teman dan tentunya fasilitas yang biasa ada di rumah.
Sedangkan di pesantren, fasilitas itu terbatas. Setiap hari hanya bertemu asrama, masjid, majelis, halaqah, ngaji dan ngaji lagi. Tak ada waktu untuk hang out dengan teman-teman sepermainan. Mungkin membosankan, ya?
Sebagai orang yang diamanahi menjaga mereka di pesantren, saya kadang merasa sedih. Betapa kuatnya anak-anak ini meski jauh dari keluarganya. Makan dan jajan kadangkala kurang, pelajaran juga tak selalu mudah. Mereka menghadapi banyak problematika remaja tapi tidak bisa dekat dengan ayah ibunya.
Maka, sebagai orang tua yang menitipkan anaknya ke pesantren, hendaklah untuk selalu mendoakan anak-anaknya. Menitipkan anak tidak bersifat mutlak, sebab pendidikan utama adalah dari dalam rumahnya. Bagaimana anak belajar kemandirian, keterampilan dasar dll sebenarnya adalah tugas orang tua sebelum anak masuk pesantren.
Jika orang tua dan pengasuh serta guru di pesantren bekerja sama dengan baik, insya Allah anak pun akan menjadi lebih baik...
#bloggerbanten
Seorang ibu rumah tangga, suka menulis, suka membaca, suka sejarah, suka petualangan....
Senin, 02 April 2018
Wader Picek
Sios waktos, wenten jejake tue sing boten medamel. Saban dinten ning griye saos. Ibune kesel ningalane. Laju Kabayan dikongkon ibune mancing iwak wader picek. Kabayan linggar ning kali, ngebakte alat pancingan lan ember.
Sampe ning kali, Kabayan mancing. Antuk iwak wader sios, ditingali matane
"Gale iki mah ore picek? Buang bae lah." PLUNG! Dibalangaken iwake malih ning kali.
Mancing malih, antuk iwak wader tapi boten picek.
"Tak colok bae tah matane kien endahan picek?" Kabayan bingung.
Sampe sore mancing, boten antuk wader picek. Antuke sing seger langsung dibalang sedanten ning kali. Kabayan mantuk. Embere kosong. Ibune ngamuk.
"Gusti Kabayan sire kuen dadi uwong aje bloon-bloon amat sih. Pribasane kuen daripade ning umah bae bengong doang mending gelati pegawean. Senajan ulehe iwak wader picek tah ore pape!" Cepe ibune Kabayan.
Kabayan emang dasar nurut ning ibune dadi bener-bener milari wader picek. 😁
Seorang ibu rumah tangga, suka menulis, suka membaca, suka sejarah, suka petualangan....
Rabu, 21 Maret 2018
Motivasi Menulis dari Drama Waikiki
Seorang ibu rumah tangga, suka menulis, suka membaca, suka sejarah, suka petualangan....
Selasa, 20 Maret 2018
Blogger Pancasilais
Siapa manusia Indonesia yang paling Pancasilais kini? Saya merenung cukup lama, sangat lama. Apakah seorang yang senantiasa berteriak "Mari junjung tinggi nilai-nilai Pancsila!" sudah bisa disebut sebagai manusia yang Pancasilais? Atau yang kemana-mana menyebarluaskan slogan "Kembalikan Ideologi Pancasila!" sudah lebih hebat dibanding masyarakat negeri ini yang bahkan tidak hafal sila-sila Pancasila itu sendiri? Ah, bahkan masih banyak yang buta aksara tampaknya.
Kemkominfo bekerja sama dengan Provinsi Banten menyelenggarakan Flash Blogging dengan tema "Mengimplementasi Nilai-nilai Pancasila dalam Bermedia Sosial", mempertemukan para blogger se-Banten pada hari ini, 20 Maret 2018 yang bertempat di Hotel Le Dian, Serang. Bertujuan agar para blogger bisa bijak dalam bermedia sosial.
Bermedia sosial juga harus menerapkan nilai-nilai Pancasila, bukan asal nulis yang bisa jadi mengandung hoax. Berita hoax memang berpotensi memviralkan sebuah tulisan, tetapi apa manfaatnya bagi masyarakat? Telur palsu, beras plastik, dan sebagainya, hanya membuat masyarakat panik dan merugikan banyak pihak.
Dalam acara tersebut, Banyumurti memaparkan bagaimana cara menyusun blog. Desain, fitur dan yang tak kalah penting yaitu konten. Konten blog yang baik adalah yang dibutuhkan oleh masyarakat dan kita senang saat menulisnya.
"Jangan ngeblog kalau nggak happy." begitu ungkapnya.
Selain itu Banyu juga menjelaskan empat faktor penting dalam menulis di blog, yaitu:
* Listen : Dengarkan apa yang terjadi di masyarakat, apa yang menjadi isu. Maka tulislah itu.
* Focus: Kita harus fokus menulis kategori dalam blog kita, misalnya: kuliner, parenting, pendidikan.
* Consistent: Yang tak kalah penting adalah konsistensi dalam menulis.
* Unique: Kita menjadikan blog kita unik, punya branding yang catchy.
Panelis kedua, Diasma Sandi Swandaru menjelaskan dengan penuh semangat tentang "dakwah Pancasila". Termasuk dalam menulis blog pun, kita jangan melupakan nilai-nilai Pancasila. Sebab menurutnya, Pancasila saat ini sudah mulai hilang dari pelajaran formal sekolah.
Tiba-tiba saya teringat pada sosok seorang pemuda yang wafat 49 tahun yang lalu, Soe Hok-gie. Dia mempertanyakan siapa manusia yang paling Pancasilais dan patriotis? Dia yang kecewa karena teman-teman seperjuangannya ternyata oportunis dengan mengambil jabatan di sisi Pemerintahan yang baru. Maka menurutnya, tidak akan bisa disebut Pancasilais jika seorang aktivis sudah memasuki dunia kekuasaan, sebab mereka akan tidak objektif mengkritik penguasa dengan segala kebijakannya.
Baginya seorang aktivis adalah seperti koboi, yang datang menyelamatkan kekacauan di suatu kota, lalu pergi setelah kota itu damai kembali.
Begini kutipan dari kalimat Soe Hok-gie:
"Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung."
Zaman now begini, zaman ketika hampir semua orang ingin menjadi yang terdepan dalam mereportase suatu peristiwa, sudah seharusnya menjadi blogger yang punya idealisme demi menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Bukan menyebarkan berita bohong dan provokasi.
Jadilah blogger Pancasilais, menulis untuk kebaikan.
#flashbloggingbanten
Seorang ibu rumah tangga, suka menulis, suka membaca, suka sejarah, suka petualangan....
Selasa, 06 Maret 2018
Makna Pernikahan-Part 2
6/31
"Menurut Yuni, pernikahan itu apa?" Tanya sang pengantin baru padaku.
Aku tak segera menjawab. Kali ini, aku akan menuliskannya. Makna pernikahan, bagiku.
Pernikahan adalah persahabatan sejati lelaki dan perempuan yang direstui Allah dan penduduk semesta. Bila akad nikah telah terucap, setan akan berusaha sekuat mungkin untuk memisahkan mereka.
Pernikahan adalah saling berbagi dan melihat diri kita sendiri secara lebih jujur. Siapa diri kita sebenarnya.
Suami/istri, adalah garwa (sigaraning nyawa) atau belahan jiwa. Yang jika sudah saling mengenal, tanpa dia mengungkapkan apa maunya dan apa yang dipikirkannya, kita sudah tahu.
Saya lebih senang memaknainya seperti itu. Pernikahan bukan tentang aku atau kamu yang berkuasa. Bukan tentang aku atau kamu yang harus mengerjakan ini dan itu. Akan tetapi, pernikahan serupa sahabat yang mau saling memikul dan menopang ketika salah satunya lemah. Hingga nanti tutup usia. Hingga nanti bisa bertemu di surga-Nya.
#RBMenulisBanten
#ODOP31Hari
#TantanganMenulis
Seorang ibu rumah tangga, suka menulis, suka membaca, suka sejarah, suka petualangan....
Senin, 05 Maret 2018
Makna Pernikahan- Part 1
5/31
Seorang perempuan berusia 35-an beranak tiga itu tampak selalu ceria dan humoris. Kadang latah "eh macan urip!" jika dipanggil secara mendadak. Dia bercerita tentang awal mula pernikahannya dengan sang suami yang duda beranak dua.
"Teteh dulu perawan, kok mau nikah sama duda yang punya anak?" Tanyaku.
"Orang zaman dulu mah, namanya dijodohin sama orang tua. Jadi segan buat menolaknya."
"Cinta gak Teh?"
"Nggak. Sampe sekarang juga nggak."
"Lho kok gitu sih Teh?"
"Nggak cinta, tapi sayang. Lebih baik sayang daripada cinta. Cinta mah kayak gitu doang. Kalo sayang, kan, selamanya."
Hm... Iya, itulah makna sakinah mawaddah warohmah. Sakinah artinya tenang, mawaddah artinya kasih dan rohmah artinya sayang. Maka meski sang suami sudah beranjak tua sedangkan istri masih enerjik, ya tetap setia sama suaminya. Bisa jadi penampilan suami sudah tak menarik untuk dicintai, tapi dengan adanya kasih dan sayang, istrinya selalu sabar bersamanya. Begitu pula sebaliknya, maka kalau ada suami yang woles aja dengan istrinya yang dulunya cantik langsing berubah jadi ndutz, gak usah heran. Itu karena ada kasih sayang di antara mereka.
Rumah tangga mungkin tak selamanya adem ayem dan tenang (sakinah), tapi masih ada mawaddah dan rohmah yang menahan pasutri untuk melakukan hal-hal keji (misal: KDRT, cerai). Pernah bertengkar dengan pasangan? Pernah ngambek berhari-hari? Pernah kabur ke rumah orangtua? Atau pernah curhat masalah rumah tangga ke orang lain? Itu tandanya rumah tangga sedang tidak sakinah. Tapi masih peduli untuk memasak buat suami, masih mau mencucikan bajunya, masih taat saat diperintah meski cemberut, masih cemas ketika suami di luar kehujanan atau nggak, dan kepedulian lainnya. Itu tandanya rumah tangga yang masih diliputi mawaddah dan rohmah. Maka berbahagialah....
#RBMenulisBanten
#ODOP31Hari
#TantanganMenulis
Seorang ibu rumah tangga, suka menulis, suka membaca, suka sejarah, suka petualangan....
Kamis, 22 Februari 2018
Tentang Pelakor
Seorang ibu rumah tangga, suka menulis, suka membaca, suka sejarah, suka petualangan....
Senin, 12 Februari 2018
Tentang Me Time
Tentang Me Time
Apa sih “Me Time”? Kedengerannya seperti merk biskuit gitu. Bahasa mudahnya sih, “Waktu buat diriku sendiri”biasanya emak-emak zaman now yang sering ngomong begini. “Aku butuh me time agar aku bahagia. Kalau aku bahagia, keluargaku juga bahagia.”. hehe....
Saya sangat setuju bahwa setiap orang (bukan hanya emak) butuh “me time”, supaya tetap punya ruang untuk diri sendiri. Bisa macam-macam ya “me time” itu, bisa ke salon, shoping, baca buku, nulis, traveling, naik gunung, pengajian, ikut seminar, main game, dll. Atau sekadar nongkrong di toilet pun bisa jadi “me time”.
Tujuannya? Emang kenapa sih kita perlu waktu buat sendirian? Waktu jomblo pengen nikah. Sekarang udah nikah, pengen punya ruang buat sejenak “menjauh” dari suami dan anak-anak. Emangnya pernikahan sebegitu membosankan hingga para emak menuntut “me time”?
Jangan nyinyir deh buk, kita tuh butuh me time biar bahagia! Lha, emangnya selama ini sama suami dan anak-anak gak bahagia?
Saya nggak nyinyir, Cuma mempertanyakan aja sih. Kalo skripsi kan ada pendahuluan, ada pokok masalah dan pemecahan masalah. Kita mesti tahu tuh, tujuan “sendiri sejenak” itu buat apa? Okelah, buat bahagia. Lalu selama ini gak bahagia gitu? Ini pertanyaan mendasar aja sih. Jangan sampai salah kaprah memahami “me time”.
Saya sendiri, butuh banget yang namanya “me time”. Alasannya, karena setelah menikah saya tetaplah saya. Gak lantas mengubah saya jadi istri dan ibu semata. Semua tahu bahwa dunia emak itu rempong, apalagi yang baru punya bayi. Tidurnya aja digosipin. Serius! Coba aja deh, baru lahiran, bayi masih merah, kita tidur siang. Bisa jadi materi curhat ke mamah dedeh itu. Kalau malem tidur kelewat pulas, juga dikomentarin. Besoknya kalau bayinya bentol sedikit aja kena gigitan nyamuk, ibu yang akan disalahin! Padahal yang gigit kan nyamuk, bukan si ibu! Kenapa bukan nyamuk yang dipidana? Jadi emak baru lahiran harus setrong kayak kalong. Iya setrong, setres tak tertolong!
Apalagi di zaman medsos gini, gak keluar rumah pun kita bisa tahu dunia pergosipan udah ngalahin kecepatan boboiboy galaxy. Kanan kiri depan belakang pun tahu apa yang terjadi sama kita. Harus punya mental sekuat boboiboy tanah. Ups! Ini ketularan anak gue nih nonton boboiboy mulu.
Makanya kunci kebahagiaan di zaman now itu ada tiga. Satu, sabar. Dua, syukur. Tiga, jangan baper.
Kembali lagi ke “me time”. Gini ya, semua orang punya hobi kan ya? Macem-macem hobinya; miara burung, mancing, main game, main PES, baca, nulis, ngoprek komputer, dll. Oya itu hobi mancing, pernah ya saya lewat kolam pancing pas Idul Adha. Itu ada bapak-bapak anteng mainan pancingan. Seketika saya langsung berkesimpulan, itu istrinya sabar banget. Hahaha.... lagian lebaran-lebaran mancing! Di rumah ada daging kambing tuh. Ada juga yang hobi miara burung. Burung seharga goceng sampai seharga emas 1 gram pun akan dibeli. Bahkan meski harganya setara motor, kalau seneng pasti bakal dibeli. Kepuasan cuy! Puas kalau pagi-pagi denger suara kicau burung, daripada denger omelan istrinya melulu kan?
Nah, sebelum menikah, kamu, iya kamu. Punya hobi apa? Apa? Lupa? Temukan apa yang menjadi passion kita. Sesuatu yang membuat kita berbinar-binar bahagia saat melakukannya. Dan kebahagiaan ini tak bisa disamakan dengan kebahagiaan pernikahan. Ini dua hal yang berbeda, tidak saling bertentangan. Ya asalkan tahu diri aja sih. Mentang-mentang hobinya baca buku, lalu baca buku terus 24 jam gak ngopenin anak dan suami. Tahu-tahu kamu kaget lihat suamimu rambutnya putih semua. Ubanan, kelamaan nunggu kamu baca terus. Gak sadar udah 50 tahun kamu habiskan buat baca. Wadaaaw!
Sebelum melakukan “me time” ada baiknya kita harus komunikasi sama suami. Aku mau me time dulu nih, tolong jagain anak-anak ya bentar. Nah, kalau suami bisa ngerti, asyik banget. Suaminya mengerti, bahwa istrinya udah meluangkan banyak waktunya di rumah bersama anak-anak, segala pekerjaan rumah dll, saatnya dia santai tanpa gangguan anak dan suami, kan bahagia.
Asalkan, pilih “me time” yang bermanfaat ya. Misalnya ikut pelatihan menulis bareng FLP. Hehehe....
Seorang ibu rumah tangga, suka menulis, suka membaca, suka sejarah, suka petualangan....
Senin, 05 Februari 2018
Tentang Romantis
Saya sedang mencuci labu siam ketika suami pulang dari masjid Ashar ini dan menghampiri saya.
“Sini, Abah mau ngomong. Serius!” Wajahnya tumben gak ada senyum. Bener-bener seriuskah?
Aku digandengnya, mau diajak bicara berdua.
“Di sini aja, di kamar ada anak-anak.” Katanya sambil duduk di ruang tengah. Aku pun ikut duduk di depannya.
“Ya, mau ngomong apa?” Tanyaku sambil masih menggerakkan tangan. Dia menyuruhku diam, jangan melakukan gerakan apapun. Karena ini serius sekali.
Kan jadi takut, mau ngomong apaan sih? Jadi penasaran...
“Ini serius.” Katanya lagi
“Iya... Serius. Apaan sih?”
Dia menarik napas, lalu ujarnya, “I Love You.”
“Hah? Apa lagi?”
“Udah.”
“Hah?”
“Itu serius tau!”
“Oh.... Iya.” Aku menahan tawa. Dapat ilham dari mana suamiku itu, kok bisa ngomong i love you. Biasanya kan saya yang suka gombalin dia. Hihihi...
Tentang romantis. Saya sudah lupa atau lebih tepatnya gak peduli lagi. Serius. 8 tahun kurang 5 bulan pernikahan, rasanya udah gak merasa penting lagi buat romantis-romantisan. Apa yang lebih penting?
Kasih sayang. Saling mengasihi, saling menyayangi. Di awal-awal sih iya ngarep diromantisin, tapi karena tipe suami cuek aja bukan tipe pujangga yaudah capek lah kalau berharap isi dunia ini adalah romantisme belaka. Yang penting sikapnya baik, sabar, pengertian. Udah cukup.
Awal-awal pernikahan juga masih sering bete tuh kalau nulis status FB jarang dikomentarin. Sekalinya komentar, Cuma “sip” “oke”. Padahal lihat pasutri lain mah kadang kelihatan romantis pisan di FB. Panggilan sayang, foto mesra, hadiah ini itu.
Tapi sekarang mah udah lebih tenang menjalani hidup. Biarin aja rumah tangga orang mau romantis kayak Kahlil Gibran geh sok aja. Mau mesra kayak apaan juga foto-fotonya bodo amatlah, syukurlah mereka bahagia. Semoga bahagia betulan, bukan pencitraan. Hehe.
Setiap keluarga punya standar romantis berbeda-beda. Lagian lah buat rakyat jelata macam saya mah, yang penting hari ini bisa makan. Kan tau sendiri beras sekarang harganya tinggi banget. Biasanya harga 280 ribu itu berasnya enak, eh ini apek bau tengik. Nasib....nasib.....
Belum lagi harga lainnya. Lah, kenapa romantis nyambungnya ke harga perdapuran? Soalnya..... Urusan keuangan ini berhubungan dengan keromantisan. Kalau uang belanja dirasa kurang, yang ada saat digombalin bukannya seneng malah ngamuk.
Karena kalau suasana hati lagi bete, kesel, gak ridho, jangankan diromantisin, diajak jalan-jalan ke bulan aja gak mau. Makanya, penting banget para istri untuk qonaah.
Dapet suami cuek, qonaah.
Dapet uang belanja kurang, qonaah.
Yang penting keluarga tak pernah kehilangan senyum dan tawa. Maka peliharalah kehangatan itu, senyum dan tawa itu, meski bagaimanapun kondisinya. Jika sesekali kau menangis tak apa. Ingatlah bahwa setiap tetes airmata itu, konon kabarnya mengandung racun yang bagus bila dikeluarkan.
Jadi tak apa menangis, asal jangan lupa untuk tersenyum. Terutama kepada suamimu, anak-anakmu, juga dirimu sendiri, juga pada murid-muridmu, teman-temanmu, tukang sayur, tukang konter, penjaga warung pecel, tukang beras, dan tak lupa kasir Alpa dan Indo.
Sekian.
Seorang ibu rumah tangga, suka menulis, suka membaca, suka sejarah, suka petualangan....
Kamis, 25 Januari 2018
FLP Selalu di Hati
Teman-teman sekelasku di SMP selalu menyemangati dengan cara membaca apa saja yang kutulis di buku bekas. Pokoknya nulis ajalah, tentang isinya aku belum begitu memikirkan. Tak memedulikan isi serta EYD, yang penting nulis!
Mulai kupanjangkan kerudung, mulai sering pakai kaos kaki. Sebab, nilai plus dari FLP adalah dakwah bil qolam. Masa iya mau dakwahin orang lain, tapi kita sendiri belum berproses hijrah?
Menghidupkan lagi FLP Banten dari tidur panjangnya. Menghasilkan karya lagi yang menginspirasi. Agar lebih banyak orang yang tercerahkan dan akhirnya berminat gabung di forum yang luar biasa ini. Siapa tahu ada anak desa sepertiku yang hobi nulis tapi tidak tahu harus gabung ke mana. Semoga FLP bisa dikenal oleh semua orang.. baik di kota maupun di desa... {*}
Seorang ibu rumah tangga, suka menulis, suka membaca, suka sejarah, suka petualangan....
Rabu, 03 Januari 2018
Hebatnya Orang Indonesia; Senyum Salam Sapa
Seorang ibu rumah tangga, suka menulis, suka membaca, suka sejarah, suka petualangan....
Jalan-jalan Seru di Surakarta
Keramahan dan keteduhan wajahnya membuat saya merasa betah, apalagi sedang ada diskon 50% untuk novel. Aih sayang sekali gak bawa uang lebih, jadi gak bisa borong 😁.
"Mampir ke rumah, nanti saya traktir makan malam." Kata Mbak Afra. Sayang sekali, saya gak bisa lama-lama ngobrol dengan beliau, sebab rumah saya jauh jadi takutnya kemalaman.
Dari sekian puluh menit perbincangan hangat itu, Mbak Afra berpesan, "Jangan terfokus untuk membuat event besar, target ratusan orang tapi melupakan esensi FLP itu sendiri. Yakni, belajar bersama. Kumpul saja, belajar bersama, tapi rutin. Ke depannya nanti bisa membuat acara apa saja."
Hujan belum juga reda. Kami berdua (saya dan Friliya) diantarkan oleh salah satu karyawannya ke halte bus Trans Solo yang tak jauh dari kantor. Terima kasih Mbak Afra. 😊
Pulangnya naik bus Trans Solo, berhenti di Palur. Saya melanjutkan pulang ke Karanganyar, Friliyo kembali ke Ngawi.
Seorang ibu rumah tangga, suka menulis, suka membaca, suka sejarah, suka petualangan....
Because This Is My First Life; MIRIS!
Selesai juga nonton drama yang sering bikin ketiduran saat menontonnya😁. Gimana ya, romantis lucu dan gemesin banget.
Tersebutlah Nam Se-Hee (Lee Min Ki) seorang developer app yang sangat cuek dan hanya memikirkan cicilan rumah dan kucingnya. Bertemu dengan Yoon Ji-Ho (Jung So Min) seorang asisten penulis skenario yang gak punya rumah.
Awal nonton drama ini karena suka sama profesi tokohnya, penulis skenario. Dan lumayan bikin senyum-senyum sendiri sih, gemes sama Se-Hee yang ampun deh kuat banget sepanjang 15 episode cool gitu. Baru di episode 16 aja dia punya emosi. Hihi.
Seorang ibu rumah tangga, suka menulis, suka membaca, suka sejarah, suka petualangan....
Soto Solo; Murah dan Mengenyangkan
Seorang ibu rumah tangga, suka menulis, suka membaca, suka sejarah, suka petualangan....
Wedang Ronde
Kami baru saja selesai solat Ashar, mendadak hujan turun. Jadilah kami duduk lagi di teras masjid Agung Karanganyar.
Saat cuaca begitu dingin karena hujan, wedang ronde menjadi teman yang sangat nikmat. Air jahe dengan kacang tanah, irisan kolang-kaling dan biji salak terasa manis dan gurih. Harganya murah, cuma Rp. 5000.
Wedang ronde ini menurut sejarahnya berasal dari tradisi Chinese yang menjadikan wedang ronde sebagai persembahan di upacara peribadahan mereka.
Seorang ibu rumah tangga, suka menulis, suka membaca, suka sejarah, suka petualangan....



































