Cari Blog Ini
Tampilkan postingan dengan label Suami Istri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suami Istri. Tampilkan semua postingan
Selasa, 06 Maret 2018
Makna Pernikahan-Part 2
6/31
"Menurut Yuni, pernikahan itu apa?" Tanya sang pengantin baru padaku.
Aku tak segera menjawab. Kali ini, aku akan menuliskannya. Makna pernikahan, bagiku.
Pernikahan adalah persahabatan sejati lelaki dan perempuan yang direstui Allah dan penduduk semesta. Bila akad nikah telah terucap, setan akan berusaha sekuat mungkin untuk memisahkan mereka.
Pernikahan adalah saling berbagi dan melihat diri kita sendiri secara lebih jujur. Siapa diri kita sebenarnya.
Suami/istri, adalah garwa (sigaraning nyawa) atau belahan jiwa. Yang jika sudah saling mengenal, tanpa dia mengungkapkan apa maunya dan apa yang dipikirkannya, kita sudah tahu.
Saya lebih senang memaknainya seperti itu. Pernikahan bukan tentang aku atau kamu yang berkuasa. Bukan tentang aku atau kamu yang harus mengerjakan ini dan itu. Akan tetapi, pernikahan serupa sahabat yang mau saling memikul dan menopang ketika salah satunya lemah. Hingga nanti tutup usia. Hingga nanti bisa bertemu di surga-Nya.
#RBMenulisBanten
#ODOP31Hari
#TantanganMenulis
Label:
2018,
Keluarga,
Kontemplasi,
Rumah Tangga,
Suami Istri
Seorang ibu rumah tangga, suka menulis, suka membaca, suka sejarah, suka petualangan....
Senin, 12 Februari 2018
Tentang Me Time
Tentang Me Time
Apa sih “Me Time”? Kedengerannya seperti merk biskuit gitu. Bahasa mudahnya sih, “Waktu buat diriku sendiri”biasanya emak-emak zaman now yang sering ngomong begini. “Aku butuh me time agar aku bahagia. Kalau aku bahagia, keluargaku juga bahagia.”. hehe....
Saya sangat setuju bahwa setiap orang (bukan hanya emak) butuh “me time”, supaya tetap punya ruang untuk diri sendiri. Bisa macam-macam ya “me time” itu, bisa ke salon, shoping, baca buku, nulis, traveling, naik gunung, pengajian, ikut seminar, main game, dll. Atau sekadar nongkrong di toilet pun bisa jadi “me time”.
Tujuannya? Emang kenapa sih kita perlu waktu buat sendirian? Waktu jomblo pengen nikah. Sekarang udah nikah, pengen punya ruang buat sejenak “menjauh” dari suami dan anak-anak. Emangnya pernikahan sebegitu membosankan hingga para emak menuntut “me time”?
Jangan nyinyir deh buk, kita tuh butuh me time biar bahagia! Lha, emangnya selama ini sama suami dan anak-anak gak bahagia?
Saya nggak nyinyir, Cuma mempertanyakan aja sih. Kalo skripsi kan ada pendahuluan, ada pokok masalah dan pemecahan masalah. Kita mesti tahu tuh, tujuan “sendiri sejenak” itu buat apa? Okelah, buat bahagia. Lalu selama ini gak bahagia gitu? Ini pertanyaan mendasar aja sih. Jangan sampai salah kaprah memahami “me time”.
Saya sendiri, butuh banget yang namanya “me time”. Alasannya, karena setelah menikah saya tetaplah saya. Gak lantas mengubah saya jadi istri dan ibu semata. Semua tahu bahwa dunia emak itu rempong, apalagi yang baru punya bayi. Tidurnya aja digosipin. Serius! Coba aja deh, baru lahiran, bayi masih merah, kita tidur siang. Bisa jadi materi curhat ke mamah dedeh itu. Kalau malem tidur kelewat pulas, juga dikomentarin. Besoknya kalau bayinya bentol sedikit aja kena gigitan nyamuk, ibu yang akan disalahin! Padahal yang gigit kan nyamuk, bukan si ibu! Kenapa bukan nyamuk yang dipidana? Jadi emak baru lahiran harus setrong kayak kalong. Iya setrong, setres tak tertolong!
Apalagi di zaman medsos gini, gak keluar rumah pun kita bisa tahu dunia pergosipan udah ngalahin kecepatan boboiboy galaxy. Kanan kiri depan belakang pun tahu apa yang terjadi sama kita. Harus punya mental sekuat boboiboy tanah. Ups! Ini ketularan anak gue nih nonton boboiboy mulu.
Makanya kunci kebahagiaan di zaman now itu ada tiga. Satu, sabar. Dua, syukur. Tiga, jangan baper.
Kembali lagi ke “me time”. Gini ya, semua orang punya hobi kan ya? Macem-macem hobinya; miara burung, mancing, main game, main PES, baca, nulis, ngoprek komputer, dll. Oya itu hobi mancing, pernah ya saya lewat kolam pancing pas Idul Adha. Itu ada bapak-bapak anteng mainan pancingan. Seketika saya langsung berkesimpulan, itu istrinya sabar banget. Hahaha.... lagian lebaran-lebaran mancing! Di rumah ada daging kambing tuh. Ada juga yang hobi miara burung. Burung seharga goceng sampai seharga emas 1 gram pun akan dibeli. Bahkan meski harganya setara motor, kalau seneng pasti bakal dibeli. Kepuasan cuy! Puas kalau pagi-pagi denger suara kicau burung, daripada denger omelan istrinya melulu kan?
Nah, sebelum menikah, kamu, iya kamu. Punya hobi apa? Apa? Lupa? Temukan apa yang menjadi passion kita. Sesuatu yang membuat kita berbinar-binar bahagia saat melakukannya. Dan kebahagiaan ini tak bisa disamakan dengan kebahagiaan pernikahan. Ini dua hal yang berbeda, tidak saling bertentangan. Ya asalkan tahu diri aja sih. Mentang-mentang hobinya baca buku, lalu baca buku terus 24 jam gak ngopenin anak dan suami. Tahu-tahu kamu kaget lihat suamimu rambutnya putih semua. Ubanan, kelamaan nunggu kamu baca terus. Gak sadar udah 50 tahun kamu habiskan buat baca. Wadaaaw!
Sebelum melakukan “me time” ada baiknya kita harus komunikasi sama suami. Aku mau me time dulu nih, tolong jagain anak-anak ya bentar. Nah, kalau suami bisa ngerti, asyik banget. Suaminya mengerti, bahwa istrinya udah meluangkan banyak waktunya di rumah bersama anak-anak, segala pekerjaan rumah dll, saatnya dia santai tanpa gangguan anak dan suami, kan bahagia.
Asalkan, pilih “me time” yang bermanfaat ya. Misalnya ikut pelatihan menulis bareng FLP. Hehehe....
Label:
Inspirasi,
Keluarga,
Rumah Tangga,
Suami Istri
Seorang ibu rumah tangga, suka menulis, suka membaca, suka sejarah, suka petualangan....
Senin, 05 Februari 2018
Tentang Romantis
Saya sedang mencuci labu siam ketika suami pulang dari masjid Ashar ini dan menghampiri saya.
“Sini, Abah mau ngomong. Serius!” Wajahnya tumben gak ada senyum. Bener-bener seriuskah?
Aku digandengnya, mau diajak bicara berdua.
“Di sini aja, di kamar ada anak-anak.” Katanya sambil duduk di ruang tengah. Aku pun ikut duduk di depannya.
“Ya, mau ngomong apa?” Tanyaku sambil masih menggerakkan tangan. Dia menyuruhku diam, jangan melakukan gerakan apapun. Karena ini serius sekali.
Kan jadi takut, mau ngomong apaan sih? Jadi penasaran...
“Ini serius.” Katanya lagi
“Iya... Serius. Apaan sih?”
Dia menarik napas, lalu ujarnya, “I Love You.”
“Hah? Apa lagi?”
“Udah.”
“Hah?”
“Itu serius tau!”
“Oh.... Iya.” Aku menahan tawa. Dapat ilham dari mana suamiku itu, kok bisa ngomong i love you. Biasanya kan saya yang suka gombalin dia. Hihihi...
Tentang romantis. Saya sudah lupa atau lebih tepatnya gak peduli lagi. Serius. 8 tahun kurang 5 bulan pernikahan, rasanya udah gak merasa penting lagi buat romantis-romantisan. Apa yang lebih penting?
Kasih sayang. Saling mengasihi, saling menyayangi. Di awal-awal sih iya ngarep diromantisin, tapi karena tipe suami cuek aja bukan tipe pujangga yaudah capek lah kalau berharap isi dunia ini adalah romantisme belaka. Yang penting sikapnya baik, sabar, pengertian. Udah cukup.
Awal-awal pernikahan juga masih sering bete tuh kalau nulis status FB jarang dikomentarin. Sekalinya komentar, Cuma “sip” “oke”. Padahal lihat pasutri lain mah kadang kelihatan romantis pisan di FB. Panggilan sayang, foto mesra, hadiah ini itu.
Tapi sekarang mah udah lebih tenang menjalani hidup. Biarin aja rumah tangga orang mau romantis kayak Kahlil Gibran geh sok aja. Mau mesra kayak apaan juga foto-fotonya bodo amatlah, syukurlah mereka bahagia. Semoga bahagia betulan, bukan pencitraan. Hehe.
Setiap keluarga punya standar romantis berbeda-beda. Lagian lah buat rakyat jelata macam saya mah, yang penting hari ini bisa makan. Kan tau sendiri beras sekarang harganya tinggi banget. Biasanya harga 280 ribu itu berasnya enak, eh ini apek bau tengik. Nasib....nasib.....
Belum lagi harga lainnya. Lah, kenapa romantis nyambungnya ke harga perdapuran? Soalnya..... Urusan keuangan ini berhubungan dengan keromantisan. Kalau uang belanja dirasa kurang, yang ada saat digombalin bukannya seneng malah ngamuk.
Karena kalau suasana hati lagi bete, kesel, gak ridho, jangankan diromantisin, diajak jalan-jalan ke bulan aja gak mau. Makanya, penting banget para istri untuk qonaah.
Dapet suami cuek, qonaah.
Dapet uang belanja kurang, qonaah.
Yang penting keluarga tak pernah kehilangan senyum dan tawa. Maka peliharalah kehangatan itu, senyum dan tawa itu, meski bagaimanapun kondisinya. Jika sesekali kau menangis tak apa. Ingatlah bahwa setiap tetes airmata itu, konon kabarnya mengandung racun yang bagus bila dikeluarkan.
Jadi tak apa menangis, asal jangan lupa untuk tersenyum. Terutama kepada suamimu, anak-anakmu, juga dirimu sendiri, juga pada murid-muridmu, teman-temanmu, tukang sayur, tukang konter, penjaga warung pecel, tukang beras, dan tak lupa kasir Alpa dan Indo.
Sekian.
Label:
Inspirasi,
Keluarga,
Romantis,
Rumah Tangga,
Suami Istri
Seorang ibu rumah tangga, suka menulis, suka membaca, suka sejarah, suka petualangan....
Langganan:
Postingan (Atom)


