Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label blogger banten. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label blogger banten. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Desember 2018

Maaf Bang, Aku Tak Pandai Menawar




Ket.foto: dari google

Sore itu anggaplah saya sedang ngidam buah juwet/jamblang. Kami pergi ke pasar dan mencari buah langka tersebut. Hanya ada satu kios yang menjual juwet, itu pun kecil-kecil. Harganya masih mahal. Rp.23.000/kg. Namanya sudah kepingin banget, langsung saya beli setelah mencoba nawar Rp.20.000 tapi nggak dikasih.

Suami sempet nyari ke kios lain, tapi saya pikir "Ah ribet. Mesti keliling pasar lagi. Belum tentu nanti dapat. Kan sebenarnya buah juwet itu musiman, lebih sering gak adanya. Nggak kayak buah tomat yang ada di mana-mana di pasar.

"Bener nih Bu nggak dapat Rp. 20.000?" Tanyaku.

"Iya Neng, ini buah langka. Gak dapet 20 mah." Jawab pedagang yang berlogat Sunda itu.

Baca juga tulisan Niya Blogger Banten: Suami dan Hobi

Aku menyerah, dan membeli saja 1 kg. Sekalian sama kolang-kaling 1/2 kg seharga Rp. 10.000. Sudah itu kami pulang. Pedagangnya bilang begini sebelum kami pergi, "makasih ya Neng.. semoga berkah hidup Neng..." Betapa gembiranya daku Bang....

Sambil di jalan, kami ngobrol tentang juwet tadi. Tampaknya suami belum ikhlas karena belanjaanku itu sama sekali gak ada hasil nawar.

"Bang, kita kalo ke supermarket ada gitu nawar ke kasir? Nggak kan? Biarin ajalah, seribu duaribu yang kita berhasil tawar apa manfaatnya buat kita? Tapi bagi pedagang itu sangat berharga. Denger gak tadi, pedagangnya ngedoain keberkahan buat kita. Udahlah jangan nawar pedagang kecil... Biar berkah hidup kita."

"Iya juga ya. Betul itu Neng." Ungkapnya.

Dalam beberapa kesempatan belanja di pasar, kadang suami menegur "Kok nggak ditawar sih?"

Aku pun nyengir saja, bukannya mau pamer putihnya gigiku tapi memang kelemahanku adalah tak pandai menawar apalagi ke pedagang kecil. Ya kalau pedagangnya "mudah" ditawar ya nggak apa-apa. Tetapi kalau dia nggak ridho, kita sebagai pembeli jangan maksa. Berjual-beli itu harus sama-sama ridho... Jangan sampai ada yang terzalimi.

Postingan ini untuk memenuhi tugas kedua Menulis60hariBloggerBanten

Sabtu, 01 Desember 2018

Titip Anak Saya ya....

"Titip anak saya ya Umm..." Kata beberapa wali santriwati​ sebelum mereka pulang dengan meninggalkan putrinya di pesantren.

Aura keharuan memancar, betapa sedih dan mengharukannya momen ini. Saat orang tua, terutama ibu harus 'berpisah' untuk sementara demi anaknya bisa belajar jauh dari rumah.

Meninggalkan anak di pesantren adalah sesuatu yang berat dirasakan tak hanya oleh orang tua, bagi sang anak berpisah sementara dari rumah adalah ujian yang terasa berat. Setiap hari teringat suasana rumah, rindu ayah-ibu, teman-teman dan tentunya fasilitas yang biasa ada di rumah.

Sedangkan di pesantren, fasilitas itu terbatas. Setiap hari hanya bertemu asrama, masjid, majelis, halaqah, ngaji dan ngaji lagi. Tak ada waktu untuk hang out dengan teman-teman sepermainan. Mungkin membosankan, ya?

Sebagai orang yang diamanahi menjaga mereka di pesantren, saya kadang merasa sedih. Betapa kuatnya anak-anak ini meski jauh dari keluarganya. Makan dan jajan kadangkala kurang, pelajaran juga tak selalu mudah. Mereka menghadapi banyak problematika remaja tapi tidak bisa dekat dengan ayah ibunya.

Maka, sebagai orang tua yang menitipkan anaknya ke pesantren, hendaklah untuk selalu mendoakan anak-anaknya. Menitipkan anak tidak bersifat mutlak, sebab pendidikan utama adalah dari dalam rumahnya. Bagaimana anak belajar kemandirian, keterampilan dasar dll sebenarnya adalah tugas orang tua sebelum anak masuk pesantren.

Jika orang tua dan pengasuh serta guru di pesantren bekerja sama dengan baik, insya Allah anak pun akan menjadi lebih baik...

#bloggerbanten

Tugas Blogger Banten