Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Desember 2018

Peran Pertama dan Utama dalam Mendidik Anak

*Peran Utama dan Pertama dalam Mendidik Anak*

Mendidik anak adalah tugas utama orang tua. Guru juga berperan dalam mendidik tetapi tetap orang tualah yang kelak dimintai pertanggungjawaban atas anak-anaknya.

Bukan karena orang tua sudah membayar biaya sekolah lantas menuntut sekolah menjadikan anaknya baik, sholeh sholehah dan segala macam prestasi. Sekolah hanya membantu orang tua dalam menyampaikan ilmu, mendidik anak-anak didik dengan kapasitas keilmuan yang dimilikinya.

Bagaimana mungkin orang tua berharap anaknya ekspress jadi pintar, sholeh sholehah dalam waktu 3 tahun SMP atau SMA, sementara bersama mereka sudah belasan tahun dilalui. Entah dengan didikan seperti apa di rumahnya?
Kemanjaan yang berlebihan? Kekerasan yang menyakitkan? Bully-an yang tak beradab? Hanya orang tua yang bisa menjawabnya.

Wabil khusus jika anaknya dipesantrenkan. Entah kenapa ada anggapan umum bahwa jika masuk pesantren anak akan jadi: sholeh, mandiri, qonaah, hafal Qur'an dan hadits. Sedangkan di rumahnya sendiri tidak dididik supaya mandiri, qonaah dan terbiasa menghafal Qur'an bersama-sama?
Faktanya?

Anak yang terbiasa dimanja akan menjadi anak yang ingin segala sesuatunya dituruti oleh pengasuhnya di pesantren. Cenderung tidak taat aturan. Sekarep dewek.

Anak yang terbiasa dididik dengan kekerasan akan menjadi anak yang keras kepala, keras hati dan tak segan menyakiti temannya baik verbal maupun lisan. Lebih menyedihkan lagi jika hatinya sudah membatu, sulit menerima nasihat.

Anak yang terbiasa dididik dengan permisif, cenderung merasa terkekang selama di pesantren. Jam pelajaran dianggap membatasi kesenangannya. Sehingga ketika pulang ke rumah saat libur, mereka memuaskan kesenangannya entah dengan gadget, tontonan yang tidak baik, lupa semua yang sudah diajarkan di pesantren.

Ada juga anak yang di depan guru tampak baik, sedangkan di depan orang tuanya menceritakan keburukan guru. Dalam kasus ini, tentu tergantung dari sikap orang tuanya. Kalau saya dulu, mana berani menjelekkan guru atau mengadu pada orang tua. Yang ada malah saya diomeli balik.

Adab murid kepada guru, tergantung pada adab orang tua terhadap guru anaknya. Ingat kasus murid memukul gurunya sampai tewas? Atau orang tua yang melaporkan guru ke polisi? Subhanllah.....  Guru bukan pegawai yang dibayar saja. Guru berkewajiban mendidik murid atas dasar rasa sayang...

Salah besar jika orang tua heran "kok anak saya malas ibadah? Di sekolah gak diajarin?"
Bukan gak diajarin, tapi anak itu merasa ajaran ibadah itu sebagai kekangan atas kesenangannya atau kesadaran dan kebiasaan sejak di rumah?

Orang tua dan guru harus sinergis dalam mendidik anak. Artinya, kalau di sekolah sudah disiplin, di rumah pun harus. Jangan serba boleh melakukan apapun. Ujung-ujungnya nanti menyalahkan sekolah kalau anaknya tidak baik...

Kesimpulan:
Sekolah bukan tempat "cuci piring". Ingin anak jadi baik, maka itu dimulai sejak di rumah. Bahkan sejak anak masih di dalam kandungan. Atau jauh sebelum itu, sejak Ayah dan Bunda belum menikah. Mendidik diri sendiri lebih dulu.(yuni)

Rabu, 21 Maret 2018

Motivasi Menulis dari Drama Waikiki

Drama Waikiki Eps 11 berkesan sekali buat kita yang merasa senang menulis, tetapi belum makmur seperti penulis terkenal. Makmur secara finansial maksudnya. Karena seperti yang kita tahu, jadi penulis itu sebuah proses. Kalau mengharapkan bisa langsung jadi penulis hebat dalam waktu singkat dan uang datang berlimpah ya mending putar haluan aja jadi tukang tahu bulat. Dijamin kaya raya apalagi kalau jual sotong dan baso goreng juga.





 

Soo Ah menganggap hidup Du Shik memprihatinkan karena Du Shik hanya menulis novel online tanpa dibayar. Tapi Du Shik melakukannya karena dia hanya suka menulis.

Simak kelanjutan percakapan mereka: 






 

Meski orang lain meremehkan pekerjaan menulis yang kadang tak ada hasilnya berupa uang, selama kita bahagia melakukannya ya tak usah peduli apa kata orang. Terlebih lagi bagi saya pribadi, menulis itu berarti sedang membuat warisan sejarah untuk anak cucu saya kelak. Supaya mereka bisa mengenal leluhurnya meski saya sudah hancur bersama tanah. Amal jariyah. Jangan lupakan itu.


Senin, 12 Februari 2018

Tentang Me Time



Tentang Me Time

Apa sih “Me Time”? Kedengerannya seperti merk biskuit gitu. Bahasa mudahnya sih, “Waktu buat diriku sendiri”biasanya emak-emak zaman now yang sering ngomong begini. “Aku butuh me time agar aku bahagia. Kalau aku bahagia, keluargaku juga bahagia.”. hehe....
Saya sangat setuju bahwa setiap orang (bukan hanya emak) butuh “me time”, supaya tetap punya ruang untuk diri sendiri. Bisa macam-macam ya “me time” itu, bisa ke salon, shoping, baca buku, nulis, traveling, naik gunung, pengajian, ikut seminar, main game, dll. Atau sekadar nongkrong di toilet pun bisa jadi “me time”.
Tujuannya? Emang kenapa sih kita perlu waktu buat sendirian? Waktu jomblo pengen nikah. Sekarang udah nikah, pengen punya ruang buat sejenak “menjauh” dari suami dan anak-anak. Emangnya pernikahan sebegitu membosankan hingga para emak menuntut “me time”?
Jangan nyinyir deh buk,  kita tuh butuh me time biar bahagia! Lha, emangnya selama ini sama suami dan anak-anak gak bahagia?
Saya nggak nyinyir, Cuma mempertanyakan aja sih. Kalo skripsi kan ada pendahuluan, ada pokok masalah dan pemecahan masalah. Kita mesti tahu tuh, tujuan “sendiri sejenak” itu buat apa? Okelah, buat bahagia. Lalu selama ini gak bahagia gitu? Ini pertanyaan mendasar aja sih. Jangan sampai salah kaprah memahami “me time”.
Saya sendiri, butuh banget yang namanya “me time”. Alasannya, karena setelah menikah saya tetaplah saya. Gak lantas mengubah saya jadi istri dan ibu semata. Semua tahu bahwa dunia emak itu rempong, apalagi yang baru punya bayi. Tidurnya aja digosipin. Serius! Coba aja deh, baru lahiran, bayi masih merah, kita tidur siang. Bisa jadi materi curhat ke mamah dedeh itu. Kalau malem tidur kelewat pulas, juga dikomentarin. Besoknya kalau bayinya bentol sedikit aja kena gigitan nyamuk, ibu yang akan disalahin! Padahal yang gigit kan nyamuk, bukan si ibu! Kenapa bukan nyamuk yang dipidana? Jadi emak baru lahiran harus setrong kayak kalong. Iya setrong, setres tak tertolong!
Apalagi di zaman medsos gini, gak keluar rumah pun kita bisa tahu dunia pergosipan udah ngalahin kecepatan boboiboy galaxy. Kanan kiri depan belakang pun tahu apa yang terjadi sama kita. Harus punya mental sekuat boboiboy tanah. Ups! Ini ketularan anak gue nih nonton boboiboy mulu.
Makanya kunci kebahagiaan di zaman now itu ada tiga. Satu, sabar. Dua, syukur. Tiga, jangan baper.
Kembali lagi ke “me time”. Gini ya, semua orang punya hobi kan ya? Macem-macem hobinya; miara burung, mancing, main game, main PES, baca, nulis, ngoprek komputer, dll. Oya itu hobi mancing, pernah ya saya lewat kolam pancing pas Idul Adha. Itu ada bapak-bapak anteng mainan pancingan. Seketika saya langsung berkesimpulan, itu istrinya sabar banget. Hahaha.... lagian lebaran-lebaran mancing! Di rumah ada daging kambing tuh. Ada juga yang hobi miara burung. Burung seharga goceng sampai seharga emas 1 gram pun akan dibeli. Bahkan meski harganya setara motor, kalau seneng pasti bakal dibeli. Kepuasan cuy! Puas kalau pagi-pagi denger suara kicau burung, daripada denger omelan istrinya melulu kan?
Nah, sebelum menikah, kamu, iya kamu. Punya hobi apa? Apa? Lupa? Temukan apa yang menjadi passion kita. Sesuatu yang membuat kita berbinar-binar bahagia saat melakukannya. Dan kebahagiaan ini tak bisa disamakan dengan kebahagiaan pernikahan. Ini dua hal yang berbeda, tidak saling bertentangan. Ya asalkan tahu diri aja sih. Mentang-mentang hobinya baca buku, lalu baca buku terus 24 jam gak ngopenin anak dan suami. Tahu-tahu kamu kaget lihat suamimu rambutnya putih semua. Ubanan, kelamaan nunggu kamu baca terus. Gak sadar udah 50 tahun kamu habiskan buat baca. Wadaaaw!
Sebelum melakukan “me time” ada baiknya kita harus komunikasi sama suami. Aku mau me time dulu nih, tolong jagain anak-anak ya bentar. Nah, kalau suami bisa ngerti, asyik banget. Suaminya mengerti, bahwa istrinya udah meluangkan banyak waktunya di rumah bersama anak-anak, segala pekerjaan rumah dll, saatnya dia santai tanpa gangguan anak dan suami, kan bahagia.
Asalkan, pilih “me time” yang bermanfaat ya. Misalnya ikut pelatihan menulis bareng FLP. Hehehe....

Senin, 05 Februari 2018

Tentang Romantis


Saya sedang mencuci labu siam ketika suami pulang dari masjid Ashar ini dan menghampiri saya.

“Sini, Abah mau ngomong. Serius!” Wajahnya tumben gak ada senyum. Bener-bener seriuskah?

Aku digandengnya, mau diajak bicara berdua.
“Di sini aja, di kamar ada anak-anak.” Katanya sambil duduk di ruang tengah. Aku pun ikut duduk di depannya.

“Ya, mau ngomong apa?” Tanyaku sambil masih menggerakkan tangan. Dia menyuruhku diam, jangan melakukan gerakan apapun. Karena ini serius sekali.

Kan jadi takut, mau ngomong apaan sih? Jadi penasaran...

“Ini serius.” Katanya lagi
 “Iya... Serius. Apaan sih?”
Dia menarik napas, lalu ujarnya, “I Love You.”
“Hah? Apa lagi?”
“Udah.”
“Hah?”
“Itu serius tau!”

“Oh.... Iya.” Aku menahan tawa. Dapat ilham dari mana suamiku itu, kok bisa ngomong i love you. Biasanya kan saya yang suka gombalin dia. Hihihi...

Tentang romantis. Saya sudah lupa atau lebih tepatnya gak peduli lagi. Serius. 8 tahun kurang 5 bulan pernikahan, rasanya udah gak merasa penting lagi buat romantis-romantisan. Apa yang lebih penting?

Kasih sayang. Saling mengasihi, saling menyayangi. Di awal-awal sih iya ngarep diromantisin, tapi karena tipe suami cuek aja bukan tipe pujangga yaudah capek lah kalau berharap isi dunia ini adalah romantisme belaka. Yang penting sikapnya baik, sabar, pengertian. Udah cukup.

Awal-awal pernikahan juga masih sering bete tuh kalau nulis status FB jarang dikomentarin. Sekalinya komentar, Cuma “sip” “oke”. Padahal lihat pasutri lain mah kadang kelihatan romantis pisan di FB. Panggilan sayang, foto mesra, hadiah ini itu.

Tapi sekarang mah udah lebih tenang menjalani hidup. Biarin aja rumah tangga orang mau romantis kayak Kahlil Gibran geh sok aja. Mau mesra kayak apaan juga foto-fotonya bodo amatlah, syukurlah mereka bahagia. Semoga bahagia betulan, bukan pencitraan. Hehe.

Setiap keluarga punya standar romantis berbeda-beda. Lagian lah buat rakyat jelata macam saya mah, yang penting hari ini bisa makan. Kan tau sendiri beras sekarang harganya tinggi banget. Biasanya harga 280 ribu itu berasnya enak, eh ini apek bau tengik. Nasib....nasib.....

Belum lagi harga lainnya. Lah, kenapa romantis nyambungnya ke harga perdapuran? Soalnya..... Urusan keuangan ini berhubungan dengan keromantisan. Kalau uang belanja dirasa kurang, yang ada saat digombalin bukannya seneng malah ngamuk.

Karena kalau suasana hati lagi bete, kesel, gak ridho, jangankan diromantisin, diajak jalan-jalan ke bulan aja gak mau. Makanya, penting banget para istri untuk qonaah.
Dapet suami cuek, qonaah.
Dapet uang belanja kurang, qonaah.

Yang penting keluarga tak pernah kehilangan senyum dan tawa. Maka peliharalah kehangatan itu, senyum dan tawa itu, meski bagaimanapun kondisinya. Jika sesekali kau menangis tak apa. Ingatlah bahwa setiap tetes airmata itu, konon kabarnya mengandung racun yang bagus bila dikeluarkan.

Jadi tak apa menangis, asal jangan lupa untuk tersenyum. Terutama kepada suamimu, anak-anakmu, juga dirimu sendiri, juga pada murid-muridmu, teman-temanmu, tukang sayur, tukang konter, penjaga warung pecel, tukang beras, dan tak lupa kasir Alpa dan Indo.
Sekian.

Rabu, 03 Januari 2018

Hebatnya Orang Indonesia; Senyum Salam Sapa



Perjalanan kami berakhir di Palur Plasa. Kami harus berpisah di sini setelah setengah hari menikmati waktu bersama-sama. Friliyo harus pulang ke Ngawi, dan saya ke Karanganyar.

Because This Is My First Life; MIRIS!


Selesai juga nonton drama yang sering bikin ketiduran saat menontonnya😁. Gimana ya, romantis lucu dan gemesin banget.

Tersebutlah Nam Se-Hee (Lee Min Ki) seorang developer app yang sangat cuek dan hanya memikirkan cicilan rumah dan kucingnya. Bertemu dengan Yoon Ji-Ho (Jung So Min) seorang asisten penulis skenario yang gak punya rumah.

Awal nonton drama ini karena suka sama profesi tokohnya, penulis skenario. Dan lumayan bikin senyum-senyum sendiri sih, gemes sama Se-Hee yang ampun deh kuat banget sepanjang 15 episode cool gitu. Baru di episode 16 aja dia punya emosi. Hihi.


Ada 3 hal tidak baik yang tampak jelas dalam drama ini, yaitu:
1. Seks bebas itu udah biasa.
Karena itu di awal episode selalu muncul warning: tayangan ini sebaiknya ditonton untuk 15 tahun ke atas, karena kalau anak kecil nonton ini bisa-bisa ditelan bulat-bulat pesannya. Seks bebas yang dilakukan Soo Ji seakan sudah biasa, meski pada akhirnya dia memutuskan untuk menikah. Terbukti kan ya, seks bebas itu gak membahagiakan.

2. Kumpul Kebo udah biasa.
Ho-Rang dan Won Seok juga melakukan gaya hidup barat. Kumpul kebo itu kayak biasa banget. Apalagi ada perbedaan pemikiran soal pernikahan. Cinta dan pernikahan adalah dua hal yang berbeda. 

3. Kawin kontrak.
Dulu pernah nonton Full House yang berkisah tentang kawin kontrak. Ini gara-gara Ji Ho pengen ngontrak rumah dengan harga hemat, dia kawin kontrak. Tapi Se Hee juga nyebelin, cuma biar ada yang ngurus kucingnya dan bantu bayar cicilan rumah, dia nikah. Woy istri tuh tulang rusuk, bukan tulang punggung. 


Ini tuh semacam realita sosial masyarakat Korea, yang anak mudanya tidak terlalu mementingkan pernikahan. Ribet, tradisi kolot, harus tanggung jawab soal anak dan ini itu lainnya. Maka gak heran kalau mereka ini malas menikah. Ngapain? Wong seks bebas aja bisa kok memenuhi kebutuhan biologis. Miris kan?

Tapi ambil baiknya aja, kalau saya sih terus terang jadi makin cinta sama suami 😍 karena ya sebenarnya setiap rumah tangga mah ada aja ujiannya. Tapi toh kita harus bisa bertahan. Merasa punya suami cuek? Tenang... Bersyukur aja, yakin deh gak akan secuek dan sepelit Se Hee. Hihihihi......

Minggu, 31 Desember 2017

Resolusiku; 2018 Semoga Lebih Baik!

 2018 sudah di depan mata. Tinggal menghitung jam, Desember kelabu akan segera berlalu. Apakah diri ini sudah siap menyambut tahun baru dan seperti tahun-tahun sebelumnya, dengan segala resolusinya? Padahal resolusi tahun silam pun rasanya belum sepenuhnya tercapai. Lebih banyak yang terlupakan malah.

Namun, tak ada salahnya juga membuat resolusi kan? Anggap saja sebagai motivasi dan harapan yang kelak menjadi pemantik semangat mengerjakan apa yang sudah ditargetkan. Hidup akan lebih hidup kalau kita tahu apa yang kita tuju, entah itu rencana jangka pendek, menengah atau panjang.

Baiklah, kini saya bukan lagi anak remaja yang targetnya hanya seputar apa yang saya suka. Saya akan mencoba membuat resolusi untuk mereka yang ada di sekitar saya juga. Bismillah.

1) Resolusi Sebagai Pribadi
Saya harus menyadari dulu, bahwa saya tetaplah saya. Punya target dan hasrat pribadi. Ingin melakukan banyak hal yang bersesuaian dengan passion saya. Itu semua agar menjaga diri saya tetap bahagia. Sebab bagaimana orang di sekitar saya akan bahagia kalau diri saya sendiri tidak bahagia?

Adapun resolusi pribadi saya adalah:
- Menulis sebuah novel
- Menjadi penulis skenario
- Rutin mengisi buku harian
- Rutin menulis opini di koran


Semoga bisa terlaksana. Biarlah sedikit tetapi konsisten untuk dikerjakan

2) Resolusi Sebagai Istri
Saya adalah seorang istri, juga ingin meningkatkan kapasitas diri untuk menjadi lebih baik. Meski sudah menikah selama delapan tahun, rasanya belumlah cukup untuk bisa disebut sebagai istri yang baik. Banyak kekurangan di sana sini yang masih perlu untuk ditambal, dijahit, supaya masih bisa layak untuk dipakai sebagai pakaian yang baik.

Untuk itu, resolusi saya sebagai istri adalah:
- Lebih patuh pada suami
- Lebih hormat pada suami
- Lebih bisa menyenangkan suami.
- Lebih bisa menghargai segala usaha suami. Sebab hubungan yang rusak itu dimulai bukan dari hilangnya rasa cinta, tapi hilangnya penghargaan atas diri pasangan.

3) Resolusi Sebagai Ibu

Saya seorang ibu berputra tiga. Mereka tentu saja sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Maka, saya berharap:
- Bisa menjadi ibu yang banyak tersenyum kepada anak-anak
- Mengurangi sifat pemarah
- Lebih banyak meluangkan waktu bermain bersama anak-anak
- Mendongeng secara rutin setiap menjelang tidur.
Sebab dongeng dan bermain adalah dunia anak yang sangat disukai. Tak ada anak yang menolak dongeng dan permainan. Semoga saya bisa lebih baik lagi.

4) Resolusi Sebagai Guru

Selain sebagai istri dan ibu, saya juga seorang guru. Saya ingin di tahun 2018 bisa:
- Menjadi guru berintegritas yang menyemaikan benih-benih integritas ke dalam diri anak didik.
- Menjadi guru yang amanah.
- Menghasilkan karya yang berkaitan dengan dunia pendidikan.
- Rutin mengupdate tulisan inspiratif tentang pendidikan dan pengajaran.
- Menjadi guru yang sabar, ikhlas dan tulus.


5) Resolusi Sebagai Anggota Komunitas
Ini masih ada kaitannya dengan resolusi pribadi, sebab berkomunitas adalah salah satu bagian dari kebahagiaan diri saya. Sebab dengan berkomunitas, saya bisa berkarya dan bersinergi dengan teman-teman lain yang satu visi misi dengan saya. Untuk itu, saya ingin:
- Lebih serius menjalankan peran saya sesuai tugas yang diamanahkan kepada diri saya.
- Siap memimpin dan dipimpin dengan baik
- Mau belajar lagi dan lagi tanpa henti
- Berbagi inspirasi kepada anggota komunitas, saling belajar dengan semangat.
- Tentu saja, kegiatan berkomunitas tidak boleh bertentangan dengan tugas utama saya sebagai istri dan ibu.




Semoga, resolusi ini bukan hanya tulisan yang terpajang, tetapi bisa menjadi penyemangat di kala diri lupa akan tugasnya sebagai manusia yang memilih untuk bahagia. Ya, ketika kita seimbang menjalani peran sebagai diri pribadi, sebagai istri dan ibu serta sebagai anggota komunitas maka sesungguhnya kita sedang menyeimbangkan kehidupan kita. Sebab dengan berkomunitas, kita sebenarnya sedang mengajak lebih banyak orang untuk berbuat kebaikan. Dan sifat kebaikan itu adalah bertambah dan berantai. Bila kita berbuat baik kepada orang lain, maka bisa jadi anak cucu kita yang kelak akan memanen kebaikan entah dari mana saja, terserah Allah menurunkannya dari pintu yang dikehendakinya. Kita manusia, hanya bisa berusaha untuk berbuat lebih baik, kepada orang lain, juga kepada diri sendiri.
Wallahu a'lam

Selasa, 21 November 2017

Kisah Romantis Love Rain




Love Rain menggambarkan sebuah kisah cinta yang manis tapi tragis tahun 1970-an. Begitulah Jang Geun Suk yang berperan sebagai Seo In Ha seorang mahasiswa seni mencintai Kim Yoon Hee yang diperankan Yoona. Mereka saling mencintai, berawal dari “tiga detik”nya In Ha saat melihat Yoon Hee dan langsung jatuh cinta. Ternyata, sahabat In Ha, Lee Dong Wook (Kim Si-Hoo) juga mencintai Yoon Hee, bahkan dia lebih agresif dan perhatian daripada In Ha yang cenderung pemalu.


Love Rain juga merupakan kisah cinta banyak segi yang cukup rumit. Son Eun-seo berperan sebagai Baek Hye Jung sangat mencintai In Ha, tetapi cinta In Ha hanya untuk Yoon Hee. Banyak kisah di antara mereka yang pada akhirnya tidak menakdirkan mereka untuk hidup bersama meski mereka saling cinta. In Ha menikah dengan Hye Jung, sementara Yoon Hee juga menikah dengan lelaki lain.

Takdir pula yang mempertemukan mereka kembali di usia tua. In Ha yang tidak pernah bahagia dalam pernikahannya meski telah mempunyai seorang putra bernama Seo Joon, seorang fotografer handal tapi gemar mempermainkan wanita. Sementara Yoon Hee hidup bahagia dan mensyukuri kenangan cintanya bersama In Ha. Sampai-sampai, anak perempuannya, Ha Na (juga diperankan oleh Yoona) yang  sifatnya sangat berkebalikan dari sang ibu sangat mengidolakan cinta pertama ibunya dan terobsesi ingin bertemu dengannya.

Kejadian demi kejadian pun mempertemukan Ha Na dan Seo Joon. Terjalinlah kisah cinta di antara mereka, tetapi terjadi dilema saat mengetahui bahwa orangtua mereka akan menikah. Apalagi In Ha sudah bercerai dari Hye Jung, sebab tidak pernah bisa melupakan Yoon Hee. Duh, makanya ya kalau mau move on itu jangan pernah menjadikan orang lain sebagai pelarian. Jadinya tidak bahagia dan menyakiti hati pasangannya.

Meski ini adalah pertama kalinya Yoona dan Jang Geun Suk berperan, sutradara Yoon Seok Ho menyatakan bahwa keduanya cocok untuk membawa ke konsep pemeran yang dia inginkan. Dan memang keduanya mampu berperan secara apik, meski dengan dua karakter yang berbeda. Ketika menjadi mahasiswa tahun 70an yang cenderung pemalu, pendiam dan tenang, sementara berperan juga sebagai anak-anak mereka di tahun 2010 dengan karakter yang ceria, apalagi sebagai Seo Joon seorang fotografer yang dikelilingi banyak wanita, sehingga mudah pula baginya merayu mereka.  Hanya dalam tiga detik.

Drama ini disiarkan juga di Jepang oleh jaringan Pony Canyon pada tahun 2012. Love Rain ditulis oleh Oh Soo Yun yang menulis drama Autumn In My Heart dan Winter Sonata, dan berlokasi syuting di Universitas Keimyung di Daegu, Korea Selatan.
Satu hal lagi yang menambah keromantisan drama ini adalah OST yang salah satunya dinyanyikan oleh Jang Geun Suk sendiri, dengan judul yang sama, Love Rain. Lagu yang masuk ke dalam cerita, dijadikan sebagai lagu buatan In Ha yang dinyanyikan untuk Yoon Hee, dengan sebuah pesan di akhir lagu, i love rain...i love you... Jadi ketika mendengarkan OSTnya, sudah terbayang kisah romantis tapi menyakitkan antara In Ha dan Yoon Hee.

Sabtu, 06 Mei 2017

Saimdang Review #6 (END)


Gak tau mau ngomong apa di episode terakhir Saimdang Light's Diary ini. Rasanya sih kayak ada yang janggal. Ya wajar sih, namanya juga episodenya dipangkas yang harusnya berakhir di 30 episode, ini jadi 28 episode. Apalagi di sana ratingnya rendah, padahal bagus sih kalau menurut saya mah.

Namanya ending, pasti ceritanya hanya penyelesaian. Nasib Saimdang gimana, Lee Gyeom dll semua punya kisah masing-masing. Walaupun, tetep yaaa nasib Lee Gyeom yang paling ngenes. Jadi jomblo seumur hidup gara-gara gak bisa move on dari Saimdang. Emangnya enak baper seumur hidup? Naif sih iya.

Saya lebih melihat kisahnya Seo Ji Yoon, seorang sejarawan yang sedang meneliti lukisan Ahnkyun dan buku harian Sujinbang milik Saimdang. Jadi sejak awal memang alurnya maju mundur antara masa kini dan masa lalu. Itu malah yang bikin seru.

Nah, Ji Yoon ini lagi memperjuangkan lukisan asli Keumkangsando karya Ahnkyun, demi membuktikan bahwa lukisan punya profesor Min Jung Hak itu palsu. Pada saat yang sama, suaminya kena jebakan di perusahaannya yang menjadikannya buronan polisi. Sejak awal memang diceritain Ji Yoon ini pisah sama suaminya, karena suaminya harus membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. Sempat suaminya mengajak bercerai tapi akhirnya Ji Yoon gak mau. Dia lebih memilih menunggu suaminya sampai kapanpun Sampai masalah mereka selesai. Dikabarkan pada suatu hari bahw suaminya kecelakaan dan meninggal. Tambah terpuruklah Ji Yoon dan anaknya. Udah mah dipecat dari kampus, suaminya bangkrut, rumah disita, suaminya kabur, dikabarkan meninggal. Opo ora stress?

Tapi Ji Yoon terus berjuang, dengan ditemani dua sahabatnya dalam meneliti buki harian Saimdang itu. Dan seperti layaknya film baik vs jahat, pasti yang baik bakalan menang. Ji Yoon berhasil membuktikan mana lukisan asli Ahnkyun, suaminya ternyata masih hidup, dan Ji Yoon menjadi salah satu anggota RADE, organisasi yang mengungkap kepalsuan benda-benda bersejarah.

Sementara Saimdang, juga sudah lebih baik lagi menerima suaminya Yang punya istri muda itu. Bagi Saimdang, yang penting cinta suaminya ke anak2nya jangan pernah berubah. Selama ini kau sudah menjadi ayah yang hebat bagi mereka. Kepada anak2nya juga dikatakan, bahwa ayahnya selama ini sudah sangat hebat kan? Kalau tanpa ayah kalian, mana mungkin kalian bisa tumbuh seperti ini?

Namun, Saimdang meninggal. Saya menyimpulkannya demikian, ketika di pantai anak2nya bermain dengan ayahnya, Saimdang malah senyum terus mengambil jalan lain sendirian. apalagi sebelumnya dia nyeri dada. Setelah itu, di endingnya dia tiba-tiba ada di Italia bersama Lee Gyeom. Mereka berduaan, berpelukan, itu artinya mereka berdua sama2 udah meninggal. Jiwa mereka yang bersatu. Dan dalam sejarah, Saimdang meninggal di usia yang masih relatif muda, kalau gak salah umur 48 tahun.

Oiya tadi saya mau ngasih kesimpulan yah. Hehe...
Jadi, seberat apapun masalah rumah tangga, itu harus sabar dan kuat... Jangan menyerah. Kalaupun harus ada yang berkorban, berkorbanlah... Asalkan sama2 berjuang...

Juga, bersabarlah terhadap pasangan. Penghormatan dan cinta harus seiring sejalan. Jangan sampai ada yang tersakiti nantinya.

Minta maaflah kepada anak2, bila kita merasa ada yang kurang. Bicara dari hati ke hati untuk mengerti mereka

Sebenarnya masih banyak falsafah hidup yang bagus, dan pelajaran berharga tentang menjadi istri dan ibu, yang bermanfaat untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Pantas saja Saimdang menjadi tokoh perempuan inspiratif di Korea Selatan, bahkan gambar wajahnya menjadi mata uang 50.000 won. Ambil yang baik-baiknya aja, tak masalah kan? Karena sebaik-baik teladan bagi kaum perempuam adalah Khadijah.

Wallahu a'lam

Selasa, 25 April 2017

Hujan (Tere Liye). Hujan Beneran!



Tere Liye gak salah banget ngasih judul "Hujan" untuk novelnya ini. Karena aku bener-bener hujan airmata. Nangis nyesek! 
"Kenapa kamu nangis?" suamiku tanya.
"Nih, gara-gara Tere Liye"
"Masa gitu aja nangis?"
Dan akupun masih terisak-isak pada bagian hampir ending itu. 

Emang ceritanya tentang apa sih, kok bisa banjir airmata gitu? Sebenernya bukan kisah cinta biasa, pasangannya meninggal atau mutusin tokohnya. Bukan. Bukan sesederhana itu. Ini rumit. Jauh lebih rumit daripada menyulam.

Kalau yang udah baca novel ini, hayooo pada hujan airmata juga gak? Atau saya aja yang baperan yah?

Jadi ceritanya begini...

Setting cerita tahun 2050an. Zaman itu teknologi maju pesat. Ada jam tangan yang berfungsi sebagai kartu debit, ada mesin pembuat baju otomatis tinggal masukin ukuran aja. Trus ada mobil terbang, ada tablet setipis kertas HVS. Semua teknologi pada zaman itu amazing banget. Pendeskripsiannya itu filmis banget, jadi kebayang kayak apa adegan per adegannya. Cuma, ya jangan sampe difilmin deh, ntar jadinya kayak sinema Indo**ar.

Tokoh utamanya Lail dan Esok. Mereka selamat dari bencana gunung meletus saat berada dalam kereta bawah tanah. Ibu Esok tewas, dan keempat kakak Esok juga tertimbun kapsul kereta. Zaman itu, kereta cepat gak nempel di rel. Jadi terbang aja gitu.

Esok nolongin Lail, trus mereka tinggal di pengungsian. Esok anak genius dalam hal permesinan. Jadi dia diadopsi oleh Walikota untuk disekolahkan setinggi mungkin. Sementara Esok tinggal di Panti Sosial. Dia yatim piatu sekarang.

Mereka jadi dekat, tapi digambarinnya itu lucu banget. Malu-malu mau, gak berani telepon, dan segala keseruan jatuh cinta anak ABG zaman dululah. Bukan ABG zaman sekarang yang kalau suka seseorang, diumbar di status FB. Berani buat chatting telpon video call gak abis-abis. Lail dan Esok saling mencintai tapi disimpen dalam hati, gak saling tahu. Segitu teknologi canggih, telepon aja cuma tiga kali selama 4 tahun!

Lail jadi relawan bencana alam. Esok sibuk bikin proyek besar untuk masa depan, sampai sibuk banget gak bisa mudik.

Ada rasa cemburu saat Esok dekat dengan Claudia, anak pak Walikota. Claudia cantik dan baik. Kayak Princess. Sedangkan Lail tak secantil Claudia.

Lail punya sahabat dekat namanya Maryam yang selalu bersamanya kemanapun. Maryam ini tokoh yang menghidupkan cerita. Dia humoris, kocak banget. Ada kalimat-kalimat yang bikin terpingkal-pingkal, padahal sebelumnya aku nangis kayak Anandhi ditinggal Jagdis.
"Aku ini kan cuma dayang-dayang berambut kribo"
Juga obrolan dia sama taksi
"hei mobil kamu bisa terbang gak?"
Giliran dia diantar mobil walikota tanpa sopir,
"mobil, kamu bisa terbang gak?"
Bisa.
"kenapa gak dari restoran aja kamu terbangnya!"
Kocak, padahal kan Lail lagi cemburu banget, kesel, baper, eh malah Maryam ngeributin mobil terbang.

Lalu, bagian mana yang nyesek itu?
Saat Lail didatangi walikota, dan Walikota memohon dengan sangat agar Lail memberikan satu tiket dari Esok untuk Claudia. Kalau aja walikota orang jahat, gampang aja menolaknya. Nah ini baiiiiik banget. berjasa besar dalam karier Esok. Mau nolaknya juga kepiyeeeee? Di situlah saya nyesek! Lah aku cinta sama yayangku, kok ini ayah angkat yayangku nyuruh aku ikhlasin tiket masa depan itu untuk putrinya. Artinya, aku kudu ngiklasin yayangku dengan putrinya. Gek aku mati dewe di bumi yang menuju kehancuran ini????

Wait. Ini tiket masa depan opo to maksude?

Dunia dilanda musim panas ekstrem, disebabkan oleh intervensi stratosfer oleh negara-negara subtropis. Pasca gUnung meletus, negara subtropis dilanda musim dingin ekstrem. Lalu diintervensilah itu lapisan stratosfer, wusss negara subtropis kembali hangat. Tapiii musim dinginnya pindah ke negara tropis. Salju turun. Gantian negara tropis yang intervensi. Jadinya 6 bulan kemudian, kekeringan melanda. Parah banget.

Nah Esok, membuat mega proyek pengungsian ke luar angkasa dengan naik kapal antariksa. Cuma ada kuota 10.000 orang perkapal. Total ada 4 kapal di seluruh dunia. Esok dapet dua tiket. Lail dak dapet, tapi pasti Esok ngasih tiket itu ke dia. Makanya walikota mohon banget agar Claudia yang pergi, biar jangan mati di bumi.

Tapi, sampai satu jam sebelum kapal berangkat, Esok gak ngasih kabar apa-apa ke Lail. Jadi berangkat gak sih? Ya gimana gak galau. Tiba-tiba walikota datang bilang makasih atas tiketnya untuk Claudia. Lail gak melakukan apa2! Jadi, Esok udah milih Claudia? 😭😭😭😭

Maka Lail pergi ke Pusat Terapi Saraf. Mau menghapus ingatannya tentang hujan. Yang artinya, dia akan lupa dengan Esok. Siapa Esok? Zaman itu canggih, kita bisa menghapus memori tidak menyenangkan. Memori kesedihan, hanya dengan sebuah mesin. Kamu mau coba?

Trus endingnya gimana? aku gak mau cerita ah.... Hehe

Minggu, 23 April 2017

Malulah Pada Yasmin


“Wah selamat ya bukunya udah terbit. Hebat kamu, udah jadi penulis. Saya masih aja jadi penonton, belum menghasilkan karya apa-apa.” Pernah dengar kalimat seperti ini?

Ya, memang sering yah kita dengar ungkapan kekaguman atas karya orang lain. Lalu menatap diri, apa yang sudah dilakukan?

“Omong kosong kalau kita Cuma jadi penonton! Setiap kita adalah penulis, Cuma males atau rajin?” teman yang lain berkomentar gamblang.

Hari ini, di acara World Book Day yang bertempat di Rumah Dunia, seorang gadis kecil bernama Yasmin, membuat saya berlinangan air mata. Yasmin anak berkemampuan khusus. Duduk di atas kursi roda, saat menceritakan tentang proses kreatifnya menulis, ayahnya menerjemahkannya. Sudah ada TIGA buku yang diterbitkan. Buku pertamanya, My Story in Holland merupakan buku hariannya yang diterbitkan.

Yasmin butuh waktu setidaknya enam bulan paling cepat, dan satu tahun paling lama untuk menghasilkan sebuah buku. Ia mengetiknya sendiri, dengan keterbatasannya. Yasmin menunjukkan pada kita, bahwa keterbatasan diri bukanlah hambatan untuk menulis.

Lalu, jika sekarang ada orang dewasa yang tidak memiliki “kemampuan khusus”, beralasan tidak bisa menulis, tidak punya waktu menulis, tidak mood, tidak percaya diri, tidak punya komputer, repot ngurus anak, tidak punya waktu, tidak inilah tidak itulah segudang alasan, malulah pada Yasmin. Sebab masalah terbesarnya bukan tidak ini tidak itu, tapi mau atau tidak mau. Rajin atau malas, yah, seperti kata teman saya yang kalau komentar selalu gamblang itu. Yasmin begitu tekun dan sabar, menulis selama setahun demi jadinya sebuah buku.

Bagaimana ayah dan ibunya mendidiknya? Biasa. Ayah ibunya mendidiknya sama seperti adik-adik Yasmin. Ayah yang selalu menjawab semua pertanyaan Yasmin tentang kepenulisan. Ibu yang sabar menerima kondisi putrinya itu, melupakan kekurangan dan fokus pada kelebihan.  Yasmin memang didukung oleh keluarganya untuk berkembang menjadi lebih baik.

Lalu, apa kita harus baper kalau lingkungan keluarga tidak mendukung? Jangankan menjawab semua pertanyaan tentang dunia menulis, saya dulu dinyinyirin oleh orangtua saya. “ngapain jadi penulis. Kayak bisa aja.”. Waktu coba kirim novel ke penerbit, ditanyain terus. “mana, terbit gak? Lama amat.” Yah walaupun beberapa bulan kemudian akhirnya datang jawaban penerbit, yang isi suratnya diawali dengan mohon maaf, diakhiri dengan “coba kirim lagi naskah yang lebih layak.” Tapi kita menjadi penulis bukan untuk sekarang saja. Kita menulis berkelanjutan, jadi jangan baper sama komentar orang walaupun itu orang terdekatmu. Harus tahan banting, tahan kritikan, jangan purik.

“Membaca mengubah dirimu, menulis mengubah dunia.” Slogan ini jadi tema WBD di Rumah Dunia kali ini. Nah, semoga menginspirasi.

Salam Literasi,
Yuni Astuti