Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Maret 2020

Catatan dari Petak Sembilan



Aroma dupa menguar di udara ketika memasuki area Petak Sembilan di Pecinan Glodok, tak jauh dari Pasar Asemka. Deretan lapak dan toko memanjang dari gerbang Pecinan sampai ke Wihara Darma Bakti.

Wihara Darma Bakti adalah wihara tertua di Kota Jakarta. Dibangun pada tahun 1650 oleh seorang Luitenant Tionghoa, Kwee Hoen, dan semula wihara ini bernama Kwan Im Teng.
Ada banyak pedagang pernak-pernik peribadatan bagi warga Tionghoa, berdampingan dengan pedagang buah, sayur dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

Rabu, 03 Januari 2018

Hebatnya Orang Indonesia; Senyum Salam Sapa



Perjalanan kami berakhir di Palur Plasa. Kami harus berpisah di sini setelah setengah hari menikmati waktu bersama-sama. Friliyo harus pulang ke Ngawi, dan saya ke Karanganyar.

Jalan-jalan Seru di Surakarta

Siang ini janjian dengan adik imut saya dari Ngawi, Friliyo Latuconsino. Ketemuan di Taman Pancasila, lalu naik bus ke Tirtonadi.

Kemudian dilanjutkan naik angkutan online ke kantor penerbit Indiva Media Kreasi, disambut oleh hujan yang cukup deras. Kami berteduh sejenak, lalu jalan 100 m dari Gapura Kerten arah barat. Kami sengaja ingin bertemu Bu Ketua baru FLP, Mbak Afifah Afra. Sekadar silah ukhuwah dan disuguhi secangkir teh rasa lemon hangat.

Keramahan dan keteduhan wajahnya membuat saya merasa betah, apalagi sedang ada diskon 50% untuk novel. Aih sayang sekali gak bawa uang lebih, jadi gak bisa borong 😁.

"Mampir ke rumah, nanti saya traktir makan malam." Kata Mbak Afra. Sayang sekali, saya gak bisa lama-lama ngobrol dengan beliau, sebab rumah saya jauh jadi takutnya kemalaman.

Dari sekian puluh menit perbincangan hangat itu, Mbak Afra berpesan, "Jangan terfokus untuk membuat event besar, target ratusan orang tapi melupakan esensi FLP itu sendiri. Yakni, belajar bersama. Kumpul saja, belajar bersama, tapi rutin. Ke depannya nanti bisa membuat acara apa saja."

Hujan belum juga reda. Kami berdua (saya dan Friliya) diantarkan oleh salah satu karyawannya ke halte bus Trans Solo yang tak jauh dari kantor. Terima kasih Mbak Afra. 😊

Pulangnya naik bus Trans Solo, berhenti di Palur. Saya melanjutkan pulang ke Karanganyar, Friliyo kembali ke Ngawi.



Soto Solo; Murah dan Mengenyangkan



Hujan memaksa kami berteduh pagi itu, tepat di depan warung soto. Tak ada niat makan soto tadinya, tapi sepertinya enak juga hujan-hujan begini makan soto yang panas. Sip lah.

Kami masuk dan pesan dua porsi. Satu porsinya Rp. 6000. Waw murah sekali...
Begitu dihidangkan, dalam satu mangkok sudah ada nasinya ternyata. Sotonya bening, tak seperti di Banten, hehe.

Ibu mertua saya sering membuat soto untuk hidangan lebaran. Bahannya daging sapi atau ayam, dengan tambahan sayuran tauge, daun bawang dan seledri serta taburan bawang goreng. 

Bumbunya juga sederhana, hanya bawang putih, garam, daun jeruk dan serai. Alhamdulillah setelah kenyang sarapan soto, kami melanjutkan perjalanan...

Keesokan harinya diajak Bapak ke warung. Ini di luar prediksi, ternyata warungnya banyak berisi mbah-mbah alias aki-aki dan bapak-bapak yang sarapan sebelum pergi ke ladang. Fiuuhh.... Malu saya, emak-emak nyempil di warung mbah-mbah. Dan saya pesan soto lagi, dengan penampakan yang mirip dengan soto yang saya beli sebelumnya di tempat lain. 


Wedang Ronde



Kami baru saja selesai solat Ashar, mendadak hujan turun. Jadilah kami duduk lagi di teras masjid Agung Karanganyar.
Saat cuaca begitu dingin karena hujan, wedang ronde menjadi teman yang sangat nikmat. Air jahe dengan kacang tanah, irisan kolang-kaling dan biji salak terasa manis dan gurih. Harganya murah, cuma Rp. 5000.

Wedang ronde ini menurut sejarahnya berasal dari tradisi Chinese yang menjadikan wedang ronde sebagai persembahan di upacara peribadahan mereka.

Minggu, 31 Desember 2017

Mini Waterboom Ranca Tales; Liburan Murah Meriah





“Kalau Aa Fatih sudah hafal An-Naba, hadiahnya boleh ke kolam renang.” Itulah janji yang kami berikan. Maka Aa mulai menghafal ayat demi ayat dalam surat tersebut. Awalnya berat, tapi mulai semangat lagi sejak liburan ini. Akhirnya bisa hafal dalam seminggu liburan.

Tujuan kami ke Waterboom Mini Ranca Tales. Di mana itu? Kata tetangga saya, ini kolam renang baru. Lokasinya memang agak jauh dari jalan raya. Ranca Tales, dekat dengan SD Ranca Tales dan SDIT Insantama. Kalau dari Jalan Raya Cilegon, turun di SMK Pertanian, lalu masuk ke arah Ranca Tales sekira 700 meter lah.



Bagian depannya adalah sebuah rumah yang tampaknya sedang dibangun. Kami memasuki area kolam renang yang tak seberapa besar, tapi ada beberapa kolam mulai dari yang paling dangkal sekitar 20 cm, sampai yang paling dalam 175 cm. Banyak juga perosotannya. Yah namanya juga mini waterboom jadi wajarlah kalau kolamnya kecil-kecil, wahananya tidak terlalu banyak. Yang penting anak-anak seneng main air, hehehe.


Area kolam berada di dekat sawah. Jadi, pemandangannya asri dan alami sekali. Selain itu, kolamnya bersih tanpa kaporit seperti yang biasanya ada di kolam renang biasa. Beberapa kali tertelan air, rasanya layaknya air biasa.
Oya, tiket masuknya juga terjangkau. Untuk dewasa 15.000, untuk anak di atas lima tahun dikenai biaya 12.000. Murah meriah kan?
Jajanannya juga murah, bahkan bisa lebih murah lagi kalau bawa bekal dari rumah. So, liburan gak harus mahal kan?



Rabu, 20 Desember 2017

Wisata Pantai Goa Langir Malingping



Pantai Sawarna, sudah cukup lama menjadi target kunjungan para santriwati Salsabila. Akhirnya kesampaian juga bisa menjejakkan kaki ke sana.

Diawali dengan kunjungan ke rumah santriwati asal Pandeglang, lalu menginap semalam di rumah Ustadz Taufik pada hari Sabtu, maka hari Ahad kami menuju Sawarna. Start dari rumah pukul 09.00 WIB, melalui jalan yang tidak mudah. Ya karena rute satu-satunya yang dilalui itu jalannya berkelok-kelok, naik turun sampai agak curam yang membuat kami banyak berdoa semoga mobil yang kami naiki bisa melaluinya dengan baik.

Pemandangan indah sepanjang jalan, di sisi kiri pegunungan yang serba hijau, di sisi kanan sudah tampak pesisir yang lautnya indah dengan ombak yang tampak besar. Pantai Bayah memang terkenal dengan ombaknya yang fantastis. Namanya saja Laut Selatan. Ini satu garis lurus dengan Pantai Pelabuhan Ratu.

Ada pabrik semen Merah Putih di atas laut Pantai Selatan ini. Tampak kapal-kapal hilir mudik di pelabuhan khususnya.


Semakin mendekati area pantai tujuan kami, jalanan semakin sempit, curam dan agak remang. Tanjakan dan turunannya bikin resah. Khawatir gak ketanjak aja nih mobil. Hihi.... Lalu ada monyet-monyet di pinggir jalan. Hmm... Kasihan ya mereka. Pasti heran deh daerahnya jadi banyak dikunjungi manusia.

Nah uniknya pantai Selatan Bayah ini, dikelilingi tebing karang yang begitu kokoh, jadi kita bisa duduk di saung-saung sepanjang jalan, sambil memandang pemandangan lautan luas dan pegunungan hijau. Menyenangkan sekali kan?


Oke, sampailah kami di salah satu pantai di kecamatan Bayah. Kami memilih Pantai Goa Langir. Tarif masuk per orangnya murah, Cuma Rp.5.000. Ini sifatnya tidak resmi sih, hanya ada pemuda-pemuda lokal yang menjaga di depan gerbang masuk.



Suasananya sepi. Ada beberapa penginapan dengan tarif antara 250.000-500.000 per malam. Saat kami datang, kebetulan sedang musim hujan jadi banyak sampah-sampah daun dan ranting  di pantai yang pasirnya putih lembut seperti di Parangtritis.


Para santriwati langsung menuju pantai. Halaqah Tahfidz dan Inspirasi Spesial persis di pinggir laut. Dengan latar suara debur ombak dan angin laut pesisir, menjadikan suasana baru yang menyegarkan. Sayang sekali, baru sebentar bermain, hujan turun deras sekali. Kami berteduh. Sambil makan ubi bakar dan ayam bakar. Sedap sekali. Setelah sholat, mulailah kami eksplorasi goa yang ada di sekitar pantai.


Mula-mula kami memasuki Goa Langir. Goa berbentuk horizontal dan buntu. Gelap dan sempit. Terdengar suara tetesan air dari stalaktit. Bongkahan batu karang berada di tengah goa. Pantai ini benar-benar indah dan masih perawan. Terlindungi oleh perbukitan karang terjal.. Jadi, selain bisa menikmati suasana pantai, bisa juga sekalian wisata goa.



Ada goa lainnya. Goa Harta Karun, Goa Seribu Candi yang stalaktit nya menyerupai bangunan candi. Hanya, lokasinya berada di ketinggian, jadi kita harus siap memanjat, kemudian turun ke dalam goa. Track nya licin, harus hati-hati sekali.





Tentang pantainya, hmm lihat saja betapa keren perpaduan karang dan ombaknya. Menyatu dengan syahdu. Ombaknya yang lumayan besar sepertinya asyik buat surfing. Namun harus hati-hati karena katanya ada palung laut, yang kalau tidak waspada, bisa terseret ombak dan terjebak dalam Palung laut yang dalam. Makanya, ya, kalau mau berenang jangan terlalu jauh. Di pinggirnya saja sudah memacu adrenalin kok. (IMHO, hehehe)




Sekian sudah perjalanan kami. Usai mandi di laut dan ganti pakaian, saatnya menikmati mie instan hangat. Lalu pulang dan mampir di warung bakso setelah solat Maghrib. Hanya bakso biasa, padahal pengen banget bakso ikan khas Malingping yang endeeesss pisan.

Sabtu, 16 Desember 2017

Jejorong & Teh Lemon; Surga Dunia


Jejorong. Kue khas Pandeglang, Banten. Rasanya manis dan gurih, perpaduan tepung beras, gula merah dan santan. Siapa yang bisa menolak?

Hari ini agenda silah ukhuwah ke rumah salah satu santriwati kami di Desa Tegal, kecamatan Cikedal, Pandeglang. Baru datang kami sudah disuguhi kue jejorong. Minumnya, teh lemon hangat. Hmmm....  Sungguh surga dunia yang tak terbantahkan. Menjadi obat lelah dan penat selama di perjalanan. 

Kata tuan rumah, jejorong ini terbuat dari tepung beras yang diuleni dengan santan lalu dikukus dengan irisan gula merah di bagian bawah bungkusan daun pisang, serta santan di bagian atasnya. Manisnya kerasa, gurihnya mantap. Apalagi, minum teh lemon. 


Nyummyyy saya sampai lupa habis berapa banyak, mungkin empat atau lima buah. Tehnya, habis tiga gelas. Benar-benar saya lupa bahwa makanan manis begini mungkin akan membuat diet saya gagal. Ah kapan sih saya ingat diet kalau sudah ketemu makanan? Paling-paling baru sadar kalau foto, hasilnya bulet-bulet di bagian pipi dan perut, barulah anak saya komentar "Makanya Ummu jangan makan banyak-banyak."

Hah? Dasar kamu kids zaman now, komentarnya gak pake filter apa?