Saya teringat
zaman SD, waktu itu menjelang pilpres. Kira-kira tahun 1999-ya, berarti saya
kelas 5. Berarti wali kelas saya Bu Mustimar. Berarti saya umur 11 tahun. Berarti….
Ah sudahlah bagian ini nggak penting.
Yang mau
saya ceritakan adalah, pada tahun-tahun itu sungguh sangat mencekam. Di rumah,
di sekolah, horror aja keadaannya. Bukan karena ada hantu suster ngesot yang
nikah sama hantu pocong, lalu melahirkan suster keramas. Tapi, lebih serem dari
itu semua yaitu… anak angkatnya Mak Lampir yang bergentayangan di tempat
tinggal saya. Ini mah serius….
Waktu itu
lagi tenar sinetron “Mak Lampir”, apa tuh judulnya… Misteri Gunung Merapi ya? Di
situ ka nada tokoh namanya Gerandong. Nah, di bagian ini nih yang serem. Konon kabarnya,
sebagaimana biasa isu berembus di udara bahwa ada sosok Gerandong telah
memasuki desa kami.
Dia adalah
manusia yang cari pesugihan, dengan tumbal harus memperkosa sejumlah perawan,
sejumlah ibu-ibu dan sejumlah nenek-nenek. Nah lho gimana nggak serem tuh! Saya
kan waktu itu(11 thn) udah tergolong perawan, kan? Takut jadi sasaran dong. Apalagi
kabarnya, siapa aja yang udah jadi korban, maka akan mati! Sebab, senjatanya
Gerandong itu akan menjadi seukuran paha orang dewasa, ada kawatnya. Ih pokoknya
serem deh.
Jadilah
setiap malam kami semua yang ada di kampung nggak ada yang berani tidur di
kamar! Lalu tidur di mana? Di teras rumah. Beneran ini kayak pengungsi aja. Kalau
udah lepas Isya langsung gelar tikar di teras, lalu pakai baju yang dirangkap
celana panjang dobel-dobel deh. Para pria berjaga-jaga di halaman, gak tidur. Luar
biasa ya isu kala itu, sampai mendengar suara gedebuk di loteng aja langsung
dibilang itu gerandong. Ada suara di belakang pintu, gerandong juga. Padahal mah
bisa jadi itu Cuma tikus jatoh!
Tetangga
kami, tengah malam katanya berantem sama Gerandong. Sampai diumumkan di masjid,
supaya semua warga berjaga-jaga. Huffft…. Ini benar-benar membuat saya nggak
berani berada di dalam kamar sendirian pada waktu malam!
Setelah
isu Gerandong ini hilang dengan sendirinya, dan nggak pernah ada pengakuan
korban secara langsung sih baik dari pihak perawan maupun nenek-nenek, Cuma katanya
katanya doing… jadi ya kita semua kembali ke kehidupan normal. Tapi muncul lagi
kasus serupa, yaitu kolor ijo. Kalau ini sih masuk TV dan ada pengakuan korban.
Namun akhirnya si korban mengaku juga kalau itu hanya trik dia supaya cari
sensasi, numpang tenar. Gak ada sosok kolor ijo dalam dunia nyata. Cuihhh! Berkali-kali
kena isu murahan.
Oya,
sebelumnya, ada juga isu yang nggak kalah serem menjelang pilpres yaitu isu
Ninja yang menyerang para kyai di kegelapan malam. Hah kalau ini sih saya nggak
tahu pasti, namanya aja sasarannya kyai, jadi saya nggak begitu takut seperti
isu Gerandong.
Kini,
begitu banyak isu. Yaaaa….hati-hati aja jangan sampai kena tipu. Bisa jadi, apa
yang sedang ramai dibahas di media ini sekadar pengalihan isu aja buat menutupi
masalah yang sebenarnya. Ya misalnya aja, Mister Joko mau diculik sama
gerandong lalu ditutupi oleh isu begal lah, teroris lah, teh manis lah, bang
kumis lah, atau sosis ya entahlah…semua bisa jadi isu murahan yang tergetnya
bikin takut warga.
Sehingga,
bisa jadi, bisa jadi lho yaaaa… kita akan mengabaikan masalah yang lebih serius
dibandingkan msalah yang Cuma rekayasa. Ada ular phyton yang akan memangsa semua orang di negeri ini,
eeeh kita malah ngeributin isu teroris yang sebenarnya ditujukan ke umat islam.
Lihat ikhwan berjenggot dan sering baca buku jihad langsung ditangkap,
jangan-jangan ntar pedagang Iqro keliling juga ditangkep. Hadeeeh…. Aya2 wae
negri ini.
Bukankah
yang menjadi teroris sebenarnya adalah orang2 yang ngakunya berpangkat tapi
korupsi dan ngejual-jualin asset Negara ke asing? Barang tambang milik Negara dibiarkan
dikelola asing sampai tahun kapan itu selesainya… Lalu rakyat dibiarkan aja
beli beras mahal, gas mahal, listrik mahal, mau berobat harus dipalak dulu tiap
bulan pake BPJS, bensin naiknya gak ketahuan, dan ujung-ujungnya batu akik jadi
mahal. Hahaha… siapa yang gila coba?
Cuma mericin
dan rambutan yang sekarang lagi murah!