Cari Blog Ini

Jumat, 03 Februari 2017

Positif, Peduli, Penuh Cinta


Ini hari terakhir dari challenge 10 hari Komunikasi Produktif. Apa yang sudah saya dapatkan dari tantangan ini?

Baru saja kejadiannya. Ba’da Isya ini biasanya Aa langsung pulang dari masjid, tapi ditunggu sampai pukul 20.30 belum pulang juga. Saya pun WA ke Abahnya.

“Abah masih di masjid. Emang Aa belum pulang?”

Duh, saya mulai cemas. Ditanya ke teman dekatnya, Aa nggak ada di sana. Nggak ada di rumah temannya yang mungkin saja dia di sana. Pikiran mulai bingung, apalagi kali di belakang rumah lagi banjir. Khawatir kecemplung trus tenggelam nggak ada yang tahu, kan bahaya..

Abahnya lalu keliling  ke rumah temannya Aa. Saya juga ikut mencari, walaupun nggak tahu harus nyari kemana. Tak lama kemudian, Abah pulang bawa Aa.

“Ya Ampun Aa...” saya langsung peluk dia.

 Sebisa mungkin saya tahan emosi supaya tidak memarahinya. Dan dia juga langsung minta maaf.

“Lain kali, kalau udah solat Isya langsung pulang ya. Izin juga ke Abah kalau mau pulang. Umu kuatir soalnya. Trus Aa ngapain di sana?”
Dengan polosnya dia jawab,
“Main mobil-mobilan...”

Duh yah... dasar anak-anak.
Peristiwa ini mengingatkan saya 17 tahun yang lalu waktu sepulang dari sekolah, saya tidak langsung pulang. Malah main ke rumah teman, trus nyari gondang di sawah. Lanjut main ke rumah Ibu Guru sambil bawain gondang. Main sampai sore dan nggak izin ke orangtua.

Jelas aja sampai rumah saya dimarahi, kenapa nggak izin, kenapa nggak pulang dulu, bla bla bla....

Kejadian itu, dalam frame orangtua yang sangat peduli pada anak adalah ingin agar anaknya selalu terpantau olehnya. Selalu selamat, sehat dan jelas keberadaannya.

Sedangkan dalam frame anak, adalah jika minta izin ke orangtua dulu, bakalan ribet prosedurnya. Pasti nggak boleh, pasti dimarahin. Udah beda persepsi duluan. Jadilah main kucing-kucingan gini.

Karena itulah, anak jangan terlalu banyak dilarang. Selama masih dalam batas aman, biarkan saja. Kalau sudah nyerempet bahaya, diingatkan. Kuncinya ada pada komunikasi.

Bagaimana menunjukkan bahwa kita peduli, bukan malah anak menangkap maksud itu sebagai bentuk kemarahan. Kan, nggak nyambung.
“Nak, Ibu mencemaskanmu. Kamu dari mana saja?”

Akan berbeda dengan yang dipahami anak kalau kalimatnya diubah

“Kamu dari mana saja? Ibu kan sudah bilang, kalau main jangan jauh-jauh. Dasar kamu ini, maunya main terus.”

Komunikasi produktif adalah tentang kalimat positif, kalimat efektif dan kalimat penuh cinta. Sampai saat ini kadang saya merasa ada banyak komunikasi yang tidak produktif  antara saya dan suami, atau antara saya dan anak-anak. Itu disebabkan banyak hal, di antaranya:
1. Bicara terlalu banyak, malah terdengar seperti omelan.
2. Minta tolong ke suami atau anak tapi nggak segera dikerjakan? Itu karena saya tidak melakukan upaya eye to eye. Jadi merepet sendiri kayak kaleng dibanting. Ributnya doang.
3. Masih suka marah. Ini jelas-jelas penghambat komunikasi produktif. Maka, harus dikurangi nih marahnya, biar bisa masuk surga. Laa taghdhob, walakal jannah.



#hari10
#tantangan10hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunSayIIPBCCG

Kamis, 02 Februari 2017

Gaya Belajar Kakak



Setiap anak itu unik. Cara belajarnya juga berbeda satu sama lain. Masing-masing bisa menempuh jalan yang tidak sama untuk menemukan kesimpulan. 

Seperti dini hari ini, Kakak tiba-tib bangun dan bertanya
“Mumu.... Kenapa kasurnya basah....”
Kulirik kasurnya, dan aahhh dia ngompol. Kalau langsung saya jawab bahwa dia ngompol, dia tak akan percaya. Menganggapnya hoax kali. Intinya tidak mau ngaku kalau itu hasil perbuatannya.

Maka saya bertanya
“Emangnya itu basah karena apa?” saya tanya sambil mata sepet-sepet nguantuk. 
“Ompol?” Kakak balik tanya.
“Iya. Terus yang tidur di situ siapa?”
“Thoriq...”
“Berarti yang ngompol siapa?” 
“Thoriq....”
Nah. Dia telah mengakuinya. Dia menemukan jawaban atas kegelisahannya sendiri melalui pertanyaan-pertanyaan yang dia jawab sendiri. Dia tipe anak yang sudah tahu jawabannya, tapi tidak mau mendengar kesimpulan jawaban langsung.. Dia suka berdiskusi daripada disodorkan dengan kesimpulan.

Terima kasih Kak, ini pelajaran penting buat Mumu...

#Hari9
#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunSayIIPBCCG

Rabu, 01 Februari 2017

Tempat Ternyaman

Bila matahari adalah pusat tata surya, maka tempat tidur adalah pusat dari kegiatan keluarga kami. Bukan hanya berfungsi sebagai tempat tidur, melainkan tempat untuk ngobrol, bercanda, main game bahkan (jangan ditiru ya) ngemil. Jadi, tempat tidur selalu berantakan. Kecuali saat sore hari karena persiapan untuk tidur.
Membincangkan kegiatan seharian tiap anggota keluarga. Membahas dunia perpolitikan. Seru-seruan main game Zombie sama-sama. Juga nonton film. Yang penting kumpul. Seperti siang tadi. Saya merasa kalau sedang kumpul gini ikatan batin jadi makin kuat.
Mungkin karena tempat tidur adalah tempat yang bikin rileks. Jadi tidak terasa ada masalah. Bahkan ketika sedang bermasalah dengan suami, pun, bicarakanlah di tempat tidur. Kondisi pikiran tenang, perut kenyang, tempat nyaman, maka semua unek-unek akan keluar dengan santai. Mau tengkar juga gimana, takut ngebangunin anak-anak yang lagi tidur.

#hari8
#Tantangan10Hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunSayIIPBCCG

Selasa, 31 Januari 2017

Agar Kita Tidak Tersesat

Siang ini kami berempat jalan keluar... Kalau lagi jalan kemana gitu, suka lihat gang-gang yang belum pernah dilewati trus ngomong
“ini tembusnya kemana ya?”
Seringnya sih dicoba. Ditelusuri untuk kemudian, oooohhh ternyata nyambungnya ke sini...
Kayak tadi, habis dari Bank di Cibeber, masuk ke gang Desa. Suami mengira, ini tembusnya ke perumahan PCI.
Oke dicoba.
Lurus teruuuusssss.........
“ini kita nyoba jalan pintas A.” Kata suami ke Aa.
Jalan terusss sambil ngobrol... N
Ternyataaaa...
Wakwawww!!!
Pemakaman umum. Dan Aa pun komentar “Ini sih bukan jalan pintas. Ini jalan buntu!”
Hahaha...
“Makanya, biar kita gak tersesat, kita harus tahu ilmunya. Kalau gak pake ilmu, kayak ginilah. Nyasar!” kata saya.
“Seperti Aa juga supaya hidup kita gak tersesat, kita harus punya ilmu. Caranya dengan belajar.”
Lalu kami pun melanjutkan perjalanan dengan menempuh jalan yang benar dan diakui semua orang.

#hari7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiipbccg

Minggu, 29 Januari 2017

Memilih Sekolah untuk Aa

Memilih sekolah yang bagus untuk Aa sudah lama kami bicarakan. Sebagai orangtua, tentu ingin anaknya mendapatkan pendidikan yang baik dan visi misinya sama dengan kita. Ada tiga alternatif, yakni pesantren, SDIT dan SD Negeri. 
Sebenarnya sudah lama kami ingin Aa masuk pesantren sejak SD. Target kami Ponpes Tahfidz Yanbu’ul Quran Kudus. Info pun sudah dicari, tanya Ustadznya. Bahkan sudah download banyak video tentang Ponpes tersebut. Aa juga sudah sejak jauh hari, bertahun-tahun yang lalu dijelaskan bahwa dia akan masuk pondok. Dia mau saja.

Namun, kami pikir lagi, kejauhan. Aa masih 7 tahun, masih sangat butuh kasih sayang orangtuanya. Terutama ibunya. Ditambah lagi, proses masuknya saja ada dua tahapan seleksi yang pada tahap kedua mengharuskan anak dikarantina selama sebulan. Itupun belum tentu keterima. Pondok ini memang jadi primadona, nggak boleh ada santri pindahan. Jadi meminimalisir kontaminasi pengaruh buruk yang biasanya dibawa oleh santri pindahan.

Ok, deal, alternatif pertama gagal. Pilihan kedua, SDIT. Untuk saya, biaya masuk SDIT sangat mahal. Apalagi kalau yang sudah punya nama besar. Sulit dijangkau oleh dompet saya. Hehe. Selain itu, pertimbangan jarak, jemputan, uang bulanan dan uang saku juga kami bicarakan. Setiap kami bahas tentang ini, Aa kami libatkan. 
“Aa maunya sekolah di mana?”
“Maunya sama Si X, Y, Z.”

Kami pun paham. Berarti dia mau ‘di sana’. Sempat juga saya ingin memasukkan Aa ke SD Negeri, tapi sangat khawatir dengan pergaulan zaman sekarang yang sulit dikonrol. Sedangkan anak itu dididik oleh lingkungannya juga, bukan hanya orangtuanya. 

Telah banyak waktu kami habiskan untuk diskusi soal ini. Seringkali terhenti karena belum sepakat terutama masalah biayanya bagaimana. Dan seterusnya. 

Agaknya malam ini diskusi santai sebelum tidur sudah menemukan kata sepakat. Ya, insya Allah ini jalan yang terbaik. Semoga SDIT itu masih menerima pendaftaran. Karena kabarnya, most wanted.
Alhamdulillah, wasyukurillah atas semua nikmat ini. 


#hari6
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiipbccg

Sabtu, 28 Januari 2017

Jalan-jalanlah....


Keluarga kami senang jalan-jalan, nggak harus jauh dan mahal sih. Yang deket-deket aja yang penting happy. Tempat yang sering dikunjungi itu perpustakaan daerah, pasar, pelabuhan Karangantu, Banten Lama, dan apa saja asalkan bukan mal. Hehe...

Kebetulan hari ini Imlek, jadi kami lihat sebentar ke vihara yang ramai orang Tionghoa berkumpul di sini. Berdekatan dengan vihara, ada benteng Spelwijck. Saat lewat benteng itu, Aa bertanya.
"Ini apa Mu?"
Maka jadilah sambil jalan-jalan, sambil bercerita sejarah.
Lanjuuut... Ke Karangantu. Airnya sedang surut. Jadi sebagian tanah bakau ini tampak, eh ada yuyu. Di sinilah Aa tanya, itu apa Mu?
Oh itu kepiting. Tapi aku juga ragu, itu kepiting atau yuyu atau rajungan ya?
Saya sulit membedakannya. 
"Nanti ya A, kita belajar lagi. Umu kurang tahu apa bedanya mereka".

Kalau sedang jalan-jalan, kita menghirup udara segar. Jadi nggak sumpek di rumah terus. Kalau Aa betah main seharian, beda dengan Kakak, dia ngajaknya pulang terus...

#hari5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiipbccg

Jumat, 27 Januari 2017

Anak Bahagia Karena Ibunya Bahagia



Kapan seorang anak merasa bahagia? Saat diajak jalan-jalan ke tempat rekreasi?
Saat dibelikan mainan baru? Saat dibelikan jajan? Ya, benar. Namun ada yang lebih membahagiakan dari semua itu. Yakni ketika ibunya juga bahagia.

Ibu yang bahagia, energinya akan positif. Bicara ke anak pelan dan lemah lembut. Sebaliknya ibu yang sedang kalut, stress, kadang sikap ke anak juga nggak jelas.

Ini sulungku yang pengertian banget sama ummunya. Sore ini sepulang dari TPA, berdua kami ke apotek beli obat untuk adiknya. Deket dari rumah.

Adalah kebiasaan dia, kalau jalan kaki suka memerhatikan sekitar. Lihat sungai, rumput liar, entah itu putri malu atau "pletekan" yang bisa meledak di air, dan kadang sambil foto juga.

Saya merasakan sekali, kalau saya bersikap manis padanya, dia juga balas dengan yang lebih manis. Suka tiba-tiba memeluk dan mencium, dan suka kasih bunga (walaupun yaaa rumput liar). Dia itu sensitif, jadi bicara dengan dia harus hati-hati sekali jangan sampai tersinggung.

Dia sering mengingatkanku agar jangan marah, nanti masuk neraka lho! Sebab di buku yang pernah saya ceritakan, ada tentang "jangan marah, maka bagimu surga". Semoga ya Nak, ummu bisa terus belajar memperbaiki diri. 


#hari4
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiipbccg

Kamis, 26 Januari 2017

Aa Baik Kan, Mu?

Anak-anak, pada dasarnya suka membantu pekerjaan orang tuanya. Sedari kecil, sebenarnya mereka bisa dikondisikan untuk mandiri. 

Seperti baru saja yang dilakukan si sulung. Dia menyetrika bajunya sendiri. Kalau mengikuti naluri khawatir saya, tentu akan saya larang.
“Nanti kena tangan.”
“Nanti nggak rapi.”
Dan sebagainya. Namun saya biarkan dia melakukan itu. Toh kalau nggak rapi, bisa disetrika ulang. Dan kalau kena tangan, bisa diobatin.
Jadi, saya katakan “hati-hati. Caranya begini.”
Dia mengangguk. Dan azan Isya berkumandang, saya ajak dia salat. Katanya, “Sebentar lagi ini satu lagi. Aa kan mau bantuin Ummu...”
Begitu selesai, dia bertanya. “Mu, Aa baik kan?”
“Iya... Aa baik... Makasih yaaa....” dan dia mengecup pipiku. Ah Nak, rupanya kamu juga ingin dipuji sebagai wujud apresiasi bahwa kamu anak baik. Lantas kami salat dan menemani dia tidur. Setelah itu kulanjutkan setrikaan. Merapikan yang belum rapi. Alhamdulillah... Semoga saya bisa sabar menghadapi anak-anak....


#hari3
#Tantangan10hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBunSayIIP

Rabu, 25 Januari 2017

Jangan Salah Niat



Suatu hari saya posting foto bertuliskan “Jadilah Pejuang Shubuh” lalu mulai ada yang komentar, di antaranya kakak dan adik ipar. Adik ipar merasa, belum bisa konsisten menjalankan solat Shubuh berjamaah di masjid.

Malam tadi, adik ipar chat dengan suami, mengaku bahwa kemarin Shubuh sudah bisa berjamaah di masjid.


Lalu suami membalas, “Iya bagus, biar dapat istri sholehah”

Saya yang sudah biasa membaca semua riwayat chat suami, begitupun sebaliknya, ikut berkomentar.
“Lho, Bah, kok gini bilangnya? Jangan niatin biar dapet istri sholehah dong. Niatin karena Allah...”
“Yaaa kan biar dia termotivasi.” Jawab suami.
“Tapi Motivasinya harus karena Allah...” saya tetap pada pendapat awal.
“Iya. Abah salah tuh.”
Begitulah. 

#hari2

#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Selasa, 24 Januari 2017

Belajar dari Semut



Aku dan si sulung (6y8m) sering mendiskusikan sesuatu. Seperti malam ini, kulihat semut di dinding sedang berbaris.
Me: Lihat deh A, semut-semut itu. Mereka lagi cari makanan..
Aa: Di mana sarangnya?
Me: Sepertinya di balik tembok ini. Semut itu rajin ya, bekerja keras. Eh lihat deh A, semutnya lagi pada ngapain? Coba perhatiin.

Aa: (diam sejenak) Lagi.... Salaman! Iya Mu, semutnya salam-salaman.

Me: Iya... Nah bagus itu. Semut nggak suka bertengkar. Kita harus tiru tuh. Oiya, Aa bisa dengar suara semut nggak?
Aa: Nggaklah. Yang bisa denger suara semut mah Nabi Sulaiman...
Me: Apa yang diomongin semut?
Aa: Lupa..
Me: Semut bilang, ‘ayooo teman-teman masuk ke sarang. Pasukan Nabi Sulaiman lewat. Nanti kita terinjak'
Aa: Iya, iya begitu bilangnya.
Me: Trus kata Nabi Sulaiman, ‘Hahaha... Tenang aja semut, kami tidak akan menginjak kalian. Masuklah ke sarang dengan tenang.’

Seringkali, di waktu lampau apa yang pernah diceritakan kepadanya ternyata masih diingatnya. Sholih ya Nak....

#hari1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasbunsayiip

Senin, 09 Januari 2017

Cantik, Ya Cantik! Part 2

Cantik part 2

Tiga tahun yang lalu, Ar datang ke kota hujan, menelusuri garis nasibnya sendiri. Dan itu dimulai sejak dia diterima menjadi jurnalis sebuah surat kabar di kota itu. Dia sendirian, belum punya kenalan. Belum ada teman. 
Iqbal yang sudah satu tahun bekerja di kantor barunya, banyak membantu Ar. 
“Kalau kamu belum tahu harus kemana, aku akan bantu carikan kosan. Atau, kamu sementara bisa tinggal di kosanku.” Tawar Iqbal.
Ar langsung kaget, “Ah, ti...tidak usah Mas. Saya bisa tinggal sendiri.”
“Hahaha.... Tenang aja, saya orang baik kok. Saya nggak akan macem-macem.” Iqbal tersenyum ramah.
“Jangan percaya sama dia Mbak. Korbannya banyak!” bisik Tasya, sesama karyawan.
“Iya termasuk kamu!” balas Iqbal. Wajah Ar yang tegang mulai mengendur karena Tasya tertawa. Iqbal kelihatannya orang baik, tapi tetap saja akan terasa aneh baginya jika harus tinggal bersama lelaki lain di kosannya. Apa kata orang nanti?
“Saya tahu kosan yang bagus dekat sini. Yuk saya anterin.” Lagi-lagi Iqbal menawarkan bantuan. Yah, apa salahnya menerima kebaikannya, Ar pun mengangguk. Toh ia masih sama sekali belum tahu mau kemana. Baru datang pagi tadi dia langsung mencari kantornya untuk interview dan langsung diterima.
Sepanjang jalan Ar diam saja, canggung untuk memulai pembicaraan. Sementara Iqbal juga tampaknya sedang sibuk dengan gadgetnya.
Mata Ar menyapu jalan, menghafal tempat-tempat yang kelak akan ia jelajahi. 
“Udah mau sampai tuh.” Kata Iqbal. Di depan mereka tampak bangunan kos-kosan berdinding biru cerah.
“Kosan saya nggak jauh dari sini.” 
Ar diperkenalkan dengan ibu pemilik kosan, kebetulan ada kamar kosong. Ar menempati satu kamar di ujung lantai atas. Iqbal membantu membawakan barang dan merapikan kamar yang sedikit berantakan.
“Makasih ya Mas, sudah repot bantuin saya.” Kata Ar.
“Ahhh bukan masalah. Sesama perantau harus saling membantu.” Jawabnya diplomatis.
“Oya, Mas dari mana?”
“Jogja.”
“Tetanggaan sama saya Mas. Saya Solo.”
“Iya. Eh jangan panggil Mas dong. Kesannya tua amat. Panggil Iqbal aja.”
Ar tersenyum. “Iya, Mm....Iqbal.”
Iqbal pamit. Sore itu Ar rapi-rapi sendiri, tinggal menata kasur dan membereskan pakaiannya. Dia merasa punya teman, jadi dia tak akan kesepian.
*
Bekerja satu tim dengan Iqbal, membuat Ar jadi tidak kesulitan. Iqbal banyak membantunya, mengajarinya banyak hal baru. Iqbal memang mudah akrab dengan siapa saja. Karyawan yang perempuan sering menggodanya, menjulukinya playboy. Kenyataannya, Iqbal masih jomblo.
Ketika mereka mencari berita dalam kota, kebersamaan semakin membuat mereka akrab. Hingga waktu terus berlalu. Membersamai mereka. Semakin dekat. Meski kedekatan itu tanpa status. Ar hanya tahu bahwa mereka tak lebih dari teman. 
Suatu siang di kantor, Ar tiba-tiba terlihat lelah. Sangat lelah. Ia terkulai lemas di sofa, bahkan menggerakkan jemarinya saja sulit. Iqbal mendekat.
“Kamu kenapa Ar?”
Ar juga sulit untuk menjawab. Terlalu lelah. Padahal dia tidak melakukan pekerjaan yang menguras tenaga.
Refleks Iqbal menyentuh dahi Ar. “Ar kamu sakit! Ayo kita ke rumah sakit!” ia berusaha menuntun Ar. Namun, Ar seketika itu pingsan. Iqbal semakin panik. Dipanggilnya semua orang untuk membantunya memapah Ar ke mobil kantor.

Bersambung
#ODOPfor99Days
#Day2

Jumat, 06 Januari 2017

Cantik, Ya Cantik!

“Kau tahu? Dia sangat cantik…” katanya dengan antusias.
 “Cantik?”
“Ya.”
“Secantik apa dia?”
Matanya menerawang, jauh…. “secantik….bintang!” namun segera ia meralat ucapannya. “Tidak! bukan bintang, sebab bintang hanya tampak pada malam hari.”
“lalu?” kejar wanita yang memainkan penanya di atas meja kerja, sementara kawannya, lelaki yang bercerita tentang wanita cantik itu terus menerawang.
“Aku melihatnya di depan gedung DPRD! saat ia berjalan membawa spanduk aksi… uhhh luar biasa! Aku mengabadikannya di kamera, kamu mau lihat? Ah! Mengapa???!” ia menggeleng lemah ketika wanita itu menhawab tidak.
“Dia sangat…..cantik!”

Wanita yang mukanya sudah merah itu tiba-tiba beranjak dari kursinya. Menuju meja resepsionis untuk ngobrol dengan Mbak Sofia.
lelaki yang semangat bercerita itu hanya menatap wanita itu, Arnalia dengan heran. Tak biasanya dia begitu murung…

Lelaki yang memakai jaket hitam itu mengejar Arnalia ke meja resepsionis, “Ar, kamu kenapa? cemburu ya mendengar ceriataku?”
“Apa? cemburu? maaf, aku tak ada waktu untuk bermain dengan perasaan anak ingusan macam itu.” katanya, tanpa ekspresi.
“Benar?” sang lelaki meyakinkan. 
“Aku bisa menebak isi hati wanita, lho Ar.”
“Oya? aku tak tertarik. Maaf ya! Aku harus ketik berita. Deadline jam 4!” ujar Arnalia sambil menunjuk jam tangannya, menuju meja kerjanya.
Sang lelaki menatapnya dalam-dalam.
***
Seminggu kemudian….
Sang lelaki sedang membaca koran harian di sofa depan resepsionis, saat seorang wanita memasuki kantor redaksi koran tempatnya bekerja. Wanita itu yang dilihatnya seminggu yang lalu, saat ia sedang meliput unjuk rasa mahasiswa di DPRD. Wanita itu, adalah yang tercantik dalam pandangan Iqbal.
Ia segera menghampiri wanita yang mengenakan kerudung hitam dan bergamis pink polos. Ia menanyakan honor menulisnya.
“Oh, Mbak menulis di kolom pembaca ya?” tanya Iqbal.
Wanita itu tersenyum.
Setelah ia menyelesaikan urusannya, ia pamit pulang. Segera Iqbal menanyakan siapa namanya, dan di mana alamatnya. Tahulah ia bahwa wanita cantik tadi bernama Ayudya. 

Alamat rumah dan nomor HP-nya pun kini dalam genggamannya. Arnalia melihat kejadian itu, hanya bisa mendesah panjang. Lelah.
Iqbal menangkap sekilas bayangan Arnalia mengintipnya dari balik dinding. Ia tersenyum sendiri.
***
Hampir dua minggu identitas tentang si cantik mengendap dalam dompet Iqbal. Tak tersentuh, tak terjamah. Ia seakan lupa pada pesona wanita itu. Sibuk dengan urusannya sendiri. 

Mencari berita, mewawancarai narasumber, dan menuliskannya hingga menjadi makanan sehari-hari tiap pagi penduduk kota.
Sejenak ia ingin menghubunginya, sekadar kirim SMS atau telepon untuk menyambungkan tali cinta, barangkali saja ada kesempatan. Namun waktu untuk melakukan itu rasanya tak ada. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya.

“Bal, aku mau pergi!” kata Ar pagi itu, sambil membereskan barang-barangnya.
Iqbal langsung berjingkat, “Ke mana?”

“Simbokku di kampung nyuruh aku pulang. Kasihan, beliau sudah sepuh.”

Iqbal duduk kembali, “Kapan pulang ke sini lagi?”
Ar menggeleng. “Tidak!”
“Maksud kamu…. selamanya menetap di sana???” pekik Iqbal kaget.

Ar tak bereaksi, ia meneruskan saja pekerjaannya. Hingga semuanya beres, ia pun siap untuk berangkat.
“Secepat ini?? Tak ada kabar sebelum ini Ar!” ujar Iqbal.
Ar melangkah ke pintu, “Jaga dirimu!”

“Ar!” Iqbal mengejar, namun Ar menghilang di balik pintu. Bersamaan dengan itu, air matanya diterbangkan angin. Ar berusaha menghilangkan segala perasaan yang bercampur aduk di hatinya. Ia sebenarnya ingin menetap lebih lama di kota hujan ini, menjadi jurnalis seperti yang sejak dulu diidam-idamkannya. 

Namun sejak dokter memvonisnya dengan penyakit kanker otak, ia seakan hendak kehilangan hidupnya. Ibunya di kampung berkali-kali memintanya pulang, namun Ar terlalu asyik dengan kehidupannya.
“Ar! Kasih aku kabar, Ar!” teriak Iqbal saat Ar sudah naik angkot menuju Baranangsiang. Ar tak menjawab, dan itu tak butuh jawaban.
“Kau tahuuuu… dia sangat cantik….” kata-kata itu terngiang dalam gendang telinga Ar. 

Hatinya gundah. Sebab ketika Iqbal mendakwa wanita itu cantik, bahkan sangat cantik, Ar merasa inferior. Ia merasa tak ada apa-apanya dengan wanita manapun di dunia ini sebab ia lagi-lagi merasa, ajalnya sudah demikian dekat.
“Iqbal, dia memang cantik…sangat cantik….” serta merta airmatanya menetes satu-satu. Ia tertawa lirih, bahkan ia tak mengajukan surat pengunduran diri pada Pemred. Ia merasa gila.

#ODOPfor99Days
#Day1


Bersambung....

Selasa, 20 Desember 2016

Testimoni Matrikulasi IIP



Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di penghujung kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP). Mungkin ada yang belum tahu apa itu IIP dan kelas matrikulasi? 

Jadi begini, Institut Ibu Profesional adalah komunitas bagi ibu dan calon ibu untuk berproses menjadi profesional. Sepertinya aneh ya, kalau “IRT” kok disandingkan dengan kata profesional? Memangnya jadi ibu butuh profesionalisme? Memangnya jadi ibu merupakan pekerjaan? Dapet gaji aja nggak, komoh deui ada bonus kenaikan pangkat dan libur. Kerjanya aja 24 jam tanpa istirahat. 

Sedangkan kelas matrikulasi adalah “pintu gerbang” untuk menjadi member IIP. Jadi semacam masa ospek gitulah... Selama 9 pekan dengan materi yang sistematis setiap pekannya, lengkap dengan tugas yang harus dikerjakan di blog/google doc/drive. Dan ada review atas tugas kita. Lengkap dengan tanya jawab juga loh... Jadi makin jelas.

Foundernya, Ibu Septi Peni Wulandari. Terima kasih Ibu, sudah membimbing kami selama 9 pekan ini. 

Terus, apa yang dirasakan setelah kelas usai? Ada perubahan gak? Hihi... Kasih tahu gak ya? Sebenernya sih gak pengen kasih tahu, biar antunna rasakan sendiri sensasinya. Tapi, bolehlah saya kasih gambaran sedikit.

Saya itu, kadang masih “gak waras” jadi ibu. Iya stress, iya uring2an, kerjaan rumah gak beres2, perilaku anak yang luar biasa aktif, banyak lah. Nah, ditambah lagi, kebingungan saya membuat “peta terstruktur” tentang akan menjadi apakah diri saya, keluarga saya, dan khususnya anak2 saya. Dalam tugas2 yang diberikan, IIP membuat saya memetakan mana nih wilayah saya, mana wilayah saya dan suami, dan mana wilayah anak-anak. Jadi, menjadi ibu gak lantas membuat saya “kehilangan” jati diri saya. Tetap saya bisa menjalani passion saya selama ini. 

Juga wilayah saya dan suami, pernah satu kesempatan kami ditugaskan membuat surat cinta untuk suami. Ada yg suaminya cuek aja, ada yg balas romantis, dsb. Intinya, komunikasi dengan suami akan melancarkan proses kita menjadi ibu profesional.

Dalam wilayah saya dan anak-anak, lebih luar biasa lagi. Gimana caranya mendidik mereka sesuai dengan gaya belajar masing-masing, apa yang harus dilakukan untuk menjadi apa. Dan seterusnya. Amazing!

Kadang, saya ngerasa gak habis-habis dengan aneka pekerjaan rumah. Selalu berantakan, Cuma menguras e energi dan pikiran. Abis itu, ngeluh kurang piknik. Padahal ada caranya, supaya kita gak stress dengan segudang urusan domestik itu.

Nah, kata siapa menjadi ibu gak perlu profesionalisme? Memanage semua urusan dapur, sumur, kasur kan harus cerdas. Kalau asal-asalan ngikutin arus sih, gimana coba nantinya? Sedangkan zaman sudah penuh fitnah. Zaman dulu sih iya aja, belum ada FB, belum ada medsos, belum ada racun2 yang merusak perkembangan anak. Kalau sekarang kan, wuiiihhh tahu sendirilah. Jika kita sebagai ibu, yang katanya dan memang benar adanya, “madrasah pertama” bagi anak-anaknya ternyata gak mengatur rumah tangga dengan baik, mau jadi apa generasi masa depan kelak? Ingat, kualitas pemimpin masa depan ditentukan oleh kita, kaum ibu.

Terima kasih IIP... Terima kasih Bu Septi... Terima kasih Bu Rizqie, Bu Tati, Bu Ulfah, Bu Marfa, Bu Dewi dan semuaaaaa yang sudah membimbing saya di IIP ini. Thanks a lot juga buat Bu Neneng, yang sudah mengajak saya ke sini. Buat teman2 di wilayah Banten, boleh deh kita inbox2 kalau ingin tanya2 lebih lanjut. Kalau di luar Banten, bisa googling tentang IIP ini. 
Wassalam

Rabu, 14 Desember 2016

NHW #9

Ini NHW terakhir. Rasanya sedih harus mengakhiri kelas matrikulasi ini. Tapi kan harus berlanjut proses belajarnya dengan praktik.
Bismillah. Semoga bermanfaat....

Sabtu, 10 Desember 2016

NHW #8

NHW #8 
Misi Hidup dan Produktivitas

1. Salah satu hal yang saya ambil di NHW 7 tentang apa yang saya suka dan bisa adalah MENULIS
2. Karena itulah saya ingin menjadi penulis, lalu saya ingin menulis, dan ingin memiliki tulisan yang bisa menginspirasi banyak orang sehingga semoga tulisan saya menjadi amal yang tiada terputus meskipun saya telah tiada.
3. Tujuan hidup saya adalah ingin menjadi orang baik, bisa masuk surga.
5-10 tahun kemudian saya ingin bersama-sama dengan suami membangun pesantren. Karena mewujudkan cita-cita suami adalah cita-cita saya juga.
1 tahun ke depan, saya ingin menerbitkan Buku. Ide-ide sudah terkonsep di kepala, tinggal eksekusi.

Selasa, 29 November 2016

Jangan Jadi Istri Kufur



Seorang ibu bercerita tentang anaknya, lalu ceritanya mulai ke arah dirinya semasa masih bekerja. Menurutnya, saat masih bekerja dia bisa menghasilkan uang yang lumayan untuk bantu2 suami. Namun ketika suaminya melarangnya bekerja untuk fokus di rumah, dia pun bersedih dan menyesal. Ada beberapa tawaran bekerja dari tetangganya tapi gajinya kecil maka ia menolaknya. “Kerjanya capek, nungguinnya sebulan, gajinya Cuma segitu. Buat beli sabun aja gak keliatan.”
Sy sepakat tentang harga yang semakin gila. Uang 50ribu dibawa masuk mart-mart paling dapat sabun dan minyak. Gak kerasa. Namun, sambil terus mendengarkan dia bercerita, tiba2 sy terperenyak.
“Astaghfirullah... Memang harga2 sekarang mahal semua. Tapi, khawatir jika keluh kesah itu berlanjut, akan membuat kita para istri tidak bersyukur atas rizki yg didapat suami.”.
Sy sering bingung menjinakkan uang, agar jangan sampai lepas kendali. Harga semua kebutuhan terus naik, bikin resah dan gelisah menunggu di sini di sudut sekolah.. Aihhh nyanyi!
“Karena skrg sy gak kerja, jadinya begini. Susah. Kerjaan suami gak jelas, sy jualan juga banyak ruginya.” Lanjutnya.
Mendadak sy jadi sedih dan kasihan sama suaminya. Mbrabak mata saya. Keinget sama suami sy sendiri. Suami udah susah cari nafkah buat istri dan anaknya, tapi istrinya ngeluh terus. Menganggap dirinya berjasa besar kalau bisa punya penghasilan sendiri. Bahkan mungkin lebih besar dr pendapatan suami. Jauhkan sy dr sikap kufur nikmat ya Allah..

#selfreminder
Yuni Astuti

Rabu, 23 November 2016

NHW #6

NHW #6
Belajar Menjadi Manajer Keluarga Handal
1) 3 aktivitas yang paling penting:
a) Mendidik Anak
b) ODOJ
c) Merapikan rumah
3 aktivitas yang paling tidak penting:
a) Online
b) Nonton TV
c) Tidur
2) Anehnya, waktu saya selama ini habis untuk kegiatan yang mana? Tidak jelas juga. Menemani anak bermain, tapi sambil menjaga bayi yang selalu butuh ASI kapan saja dia mau. Bahkan, kadang (atau malah seringnya) sampai saya ketiduran. Aktivitas yang sangat tidak penting malah menghabiskan waktu saya. Sungguh tragis.
3) Insya Allah. Mulai sekarang harus lebih konsisten lagi agar jangan melakukan hal-hal yang tidak penting di waktu yang penting.
4) Aktivitas rutin dikumpulkan dalam satu waktu. Urusan mencuci dari jam 08.00-09.00. bersih-bersih rumah dari jam 15.00-16.00
5) Insya Allah.
6) Jadwal harian:
Jenis kegiatan Terlaksana  / Tidak Terlaksana X
ODOJ
Sholat Dhuha
Menyiapkan sarapan
Antar anak sekolah
Mencuci
Memberi ASI
Menemani anak bermain
Tidur
Baca buku
Persiapan sekolah TPA
Menunggu anak di TPA
persiapan solat dan makan
Mendongeng sebelum tidur
Relax Time: Nulis
Tidur

7) Insya Allah akan saya amati

Jumat, 18 November 2016

NHW #5

NHW #5 kali ini cukup membuat saya merenung lama. Sebenarnya, metode pembelajaran yang “gue banget” itu yang seperti apa?
Yah, mau tidak mau harus saya tulis juga. Baiklah, meskipun sederhana, tetap akan saya tulis.
Saya suka menulis. Maka saya fokuskan di bidang ini.
Bagaimana cara belajar saya?
Sebenarnya, pola pembelajaran itu sudah sejak kecil terbentuk.
Yakni:
1. Membaca: buku pelajaran, novel, majalah, koran, dll
2. Menyalin: menuliskan kembali apa yang sudah saya baca. Meringkas dan mengambil poin pentingnya.
3. Berlatih menulis. Ini sudah pasti ya. Lagipula, setiap menulis saya gembira sekali.
4. Nonton film. Ya, saya suka nonton dan menganalisa alur serta konfliknya. Suatu saat saya berharap bisa membuat skenario film yang bagus.
Nah, soal waktunya, saya hanya bisa menulis saat malam hari. Ketika anak-anak sudah tidur. Karena siang hari saya disibukkan dengan kegiatan emak-emak. Mencuci, nyapu, mengurus anak dll.

Secara alamiah, saya menularkan kegemaran membaca ini kepada anak. Sebelum tidur saya ceritakan kepadanya kisah-kisah. Secara rutin pula saya ajak mereka ke perpustakaan untuk membaca dan meminjam buku. Semoga mereka terbiasa dengan suasana perpustakaan. Dan secara alamiah jadi suka menulis juga, itu harapan saya. Tapi tidak memaksa.

Sekiranya itu saja dulu.

Kamis, 10 November 2016

NHW #4 Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

NHW #4
a. Sampai sekarang, saya tetap pada passion saya. Tidak ingin mengubahnya.
b. Sudah lebih baik. Saya mulai lebih rapi dan rajin. Kalau biasanya menyetrika seminggu sekali, sekarang jadi seminggu tiga kali. Sedikit demi sedikit checklist itu bisa diikuti.
c. Saya ingin menjadi seorang ibu yang bisa tetap menjadi diri sendiri. Saya suka menulis, maka saya akan menulis buku yang bisa mencerahkan orang lain. Semoga bisa menjadi amal yang tiada terputus bagi saya kelak.
Misi hidup: menginspirasi orang lain untuk berbuat baik
Bidang: menulis
Peran: Penulis
d. Ilmu yang harus dipelajari adalah ilmu kepenulisan, serta ilmu lainnya yang berhubungan dengan tema tulisan.
e. Saya akan menetapkan milestone dalam 1 tahun saya harus bisa menulis minimal 1 buku.
f. Dengan begitu, maka saya harus menambah jam terbang. Menulis minim selama 1 jam/hari.


Kamis, 03 November 2016

NHW #3

NHW #3
1. Surat cinta. Sudah lama aku tak menulisnya. Dulu pernah kuberikan pada suamiku surat cinta, tapi responnya datar saja. Yowis... Suamiku memang tipe plegmatis, tak banyak ekspresi. Datar dan damai sentosa saja. Marah juga hampir tak pernah. Yang penting rumah tangga ayem tentrem. Nah kali ini kubuat lagi surat cinta sepanjang satu halaman saja. Dan yaaa mimik wajahnya datar saja, bahkan bacanya cepet banget biar segera selesai. Trus Cuma ngacungin jempol. Abang Sayang, ini bukan status FB ya... Jadi gak butuh like. Lalu dibalasnya di bawah surat itu. Dua huruf dengan satu tanda baca, yaitu: OK!. Hmmm..... Abang, daku sudah menulis panjang ya masa dibalasnya Cuma segituuu? Lalu, diralatlah. Setelah cukup lama menulis katanya saya tak boleh komentar. Apapun itu. Okelah... Dan balasannya adalah:
“wa’aasyiruuhunna bil ma’ruuf. Fain karihtumuuhunna fa’asaa an tukrihu syai’an wa yaj’alallahu khoiron katsiro”.
Sayang, terima kasih karena menjadi suamiku. Aku bahagia. Mungkin engkau tak romantis, mungkin tak pandai merayu, tapi... Perlakuan baikmu selama ini sudah lebih dari cukup. Ketika engkau ridho, engkau sangat baik. Ketika engkau marah, diriku tak pernah kausakiti, meski hanya seujung kuku. Bahkan marahmu selama 7 tahun pernikahan ini bisa dihitung denga jari. Terima kasih telah menerimaku menjadi istrimu, dengan segala kekuranganku.
2. Anak-anakku, 3 orang putra dengan karakter yang berbeda jauh. Fatih, 6 tahun, sosok kakak yang sayang pada adik-adiknya meski kadang usil. Namun begitu perhatian dan tahu betul apa yang disukai adiknya. Fatih sangat aktif, kegiatannya bersifat fisik. Lari, lompat, manjat, nyebur ke air, itu total. Full ekspresi. Tak ada yang dia takuti. Dia suka tantangan. Tak peduli bahaya. Makanya dia yang paling banyak terluka. Jatuh, berdarah, lecet dll. Fatih suka dibacakan cerita. Suka kisah-kisah meski belum pandai membaca. Tapi dia juga sensitif, mudah tersinggung...
Thoriq, 4 tahun, kebalikan dari Fatih. Dia penuh perhitungan. Lebih kalem, tak banyak bergerak. Makanya badannya sedikit lebih berisi dari Fatih. Karena setelah makan, dia suka leyeh-leyeh bahkan tidur. Adapun dia jadi aktif, karena mengikuti ritme bermain Fatih. Dia takut mencoba hal baru, pemalu di tempat baru, temannya tidak banyak. Tapi dia kepala batu. Sungguh keras kemauannya, sulit kompromi tak seperti Fatih. Thoriq lebih memilih nangis kejer jika permintaannya tidak dituruti. Karena itu kepada Thoriq, saya sedikit lebih lunak. Oya, kalau sedang lapar, Thoriq seperti saya. Rese. “lo bukan lo kalo lagi laper” itu benar rasanya. Dia bisa nangis sambil teriak lapar. Setelah kenyang, sungguh manis sikapnya.
Kholid, 1,5 tahun, dia mirip Fatih. Tak takut mencoba hal baru. Wajahnya pun sangat mirip Fatih. Tapi dia lebih ceria, mudah meniru kata-kata meskipun baru sekali diucapkan. Akan bagus untuk menghafal Quran.
3. Apa kekuatan potensi saya? Dalam urusa domestik, saya tak begitu pandai, ya standar sajalah. Namun ada sih rasanya kekuatan itu, yaitu manajemen waktu. Saya tidak suka telat, maka supaya bisa on time, saya harus tepat memprediksikan semuanya mulai dari persiapan, dan di perjalanan. Inilah yang suami saya kurang. Suka ngaret. Maka, alangkah bagusnya kalau saya bisa melengkapi kekurangannya.
4. Tak ada yang kebetulan mengapa keluarga saya ada di sini. Kami masih tinggal di rumah ibu saya. Saya ingin tinggal di tempat sendiri, hanya keluarga inti. Namun, ibu saya ingin agar kami tinggal di sini. Untuk sementara ini, mungkin supaya kami bisa menemani ibu saya yang sendiri sejak 3 tahun lalu ditinggal almarhum bapak saya...