Cari Blog Ini

Selasa, 24 Januari 2017

Belajar dari Semut



Aku dan si sulung (6y8m) sering mendiskusikan sesuatu. Seperti malam ini, kulihat semut di dinding sedang berbaris.
Me: Lihat deh A, semut-semut itu. Mereka lagi cari makanan..
Aa: Di mana sarangnya?
Me: Sepertinya di balik tembok ini. Semut itu rajin ya, bekerja keras. Eh lihat deh A, semutnya lagi pada ngapain? Coba perhatiin.

Aa: (diam sejenak) Lagi.... Salaman! Iya Mu, semutnya salam-salaman.

Me: Iya... Nah bagus itu. Semut nggak suka bertengkar. Kita harus tiru tuh. Oiya, Aa bisa dengar suara semut nggak?
Aa: Nggaklah. Yang bisa denger suara semut mah Nabi Sulaiman...
Me: Apa yang diomongin semut?
Aa: Lupa..
Me: Semut bilang, ‘ayooo teman-teman masuk ke sarang. Pasukan Nabi Sulaiman lewat. Nanti kita terinjak'
Aa: Iya, iya begitu bilangnya.
Me: Trus kata Nabi Sulaiman, ‘Hahaha... Tenang aja semut, kami tidak akan menginjak kalian. Masuklah ke sarang dengan tenang.’

Seringkali, di waktu lampau apa yang pernah diceritakan kepadanya ternyata masih diingatnya. Sholih ya Nak....

#hari1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasbunsayiip

Senin, 09 Januari 2017

Cantik, Ya Cantik! Part 2

Cantik part 2

Tiga tahun yang lalu, Ar datang ke kota hujan, menelusuri garis nasibnya sendiri. Dan itu dimulai sejak dia diterima menjadi jurnalis sebuah surat kabar di kota itu. Dia sendirian, belum punya kenalan. Belum ada teman. 
Iqbal yang sudah satu tahun bekerja di kantor barunya, banyak membantu Ar. 
“Kalau kamu belum tahu harus kemana, aku akan bantu carikan kosan. Atau, kamu sementara bisa tinggal di kosanku.” Tawar Iqbal.
Ar langsung kaget, “Ah, ti...tidak usah Mas. Saya bisa tinggal sendiri.”
“Hahaha.... Tenang aja, saya orang baik kok. Saya nggak akan macem-macem.” Iqbal tersenyum ramah.
“Jangan percaya sama dia Mbak. Korbannya banyak!” bisik Tasya, sesama karyawan.
“Iya termasuk kamu!” balas Iqbal. Wajah Ar yang tegang mulai mengendur karena Tasya tertawa. Iqbal kelihatannya orang baik, tapi tetap saja akan terasa aneh baginya jika harus tinggal bersama lelaki lain di kosannya. Apa kata orang nanti?
“Saya tahu kosan yang bagus dekat sini. Yuk saya anterin.” Lagi-lagi Iqbal menawarkan bantuan. Yah, apa salahnya menerima kebaikannya, Ar pun mengangguk. Toh ia masih sama sekali belum tahu mau kemana. Baru datang pagi tadi dia langsung mencari kantornya untuk interview dan langsung diterima.
Sepanjang jalan Ar diam saja, canggung untuk memulai pembicaraan. Sementara Iqbal juga tampaknya sedang sibuk dengan gadgetnya.
Mata Ar menyapu jalan, menghafal tempat-tempat yang kelak akan ia jelajahi. 
“Udah mau sampai tuh.” Kata Iqbal. Di depan mereka tampak bangunan kos-kosan berdinding biru cerah.
“Kosan saya nggak jauh dari sini.” 
Ar diperkenalkan dengan ibu pemilik kosan, kebetulan ada kamar kosong. Ar menempati satu kamar di ujung lantai atas. Iqbal membantu membawakan barang dan merapikan kamar yang sedikit berantakan.
“Makasih ya Mas, sudah repot bantuin saya.” Kata Ar.
“Ahhh bukan masalah. Sesama perantau harus saling membantu.” Jawabnya diplomatis.
“Oya, Mas dari mana?”
“Jogja.”
“Tetanggaan sama saya Mas. Saya Solo.”
“Iya. Eh jangan panggil Mas dong. Kesannya tua amat. Panggil Iqbal aja.”
Ar tersenyum. “Iya, Mm....Iqbal.”
Iqbal pamit. Sore itu Ar rapi-rapi sendiri, tinggal menata kasur dan membereskan pakaiannya. Dia merasa punya teman, jadi dia tak akan kesepian.
*
Bekerja satu tim dengan Iqbal, membuat Ar jadi tidak kesulitan. Iqbal banyak membantunya, mengajarinya banyak hal baru. Iqbal memang mudah akrab dengan siapa saja. Karyawan yang perempuan sering menggodanya, menjulukinya playboy. Kenyataannya, Iqbal masih jomblo.
Ketika mereka mencari berita dalam kota, kebersamaan semakin membuat mereka akrab. Hingga waktu terus berlalu. Membersamai mereka. Semakin dekat. Meski kedekatan itu tanpa status. Ar hanya tahu bahwa mereka tak lebih dari teman. 
Suatu siang di kantor, Ar tiba-tiba terlihat lelah. Sangat lelah. Ia terkulai lemas di sofa, bahkan menggerakkan jemarinya saja sulit. Iqbal mendekat.
“Kamu kenapa Ar?”
Ar juga sulit untuk menjawab. Terlalu lelah. Padahal dia tidak melakukan pekerjaan yang menguras tenaga.
Refleks Iqbal menyentuh dahi Ar. “Ar kamu sakit! Ayo kita ke rumah sakit!” ia berusaha menuntun Ar. Namun, Ar seketika itu pingsan. Iqbal semakin panik. Dipanggilnya semua orang untuk membantunya memapah Ar ke mobil kantor.

Bersambung
#ODOPfor99Days
#Day2

Jumat, 06 Januari 2017

Cantik, Ya Cantik!

“Kau tahu? Dia sangat cantik…” katanya dengan antusias.
 “Cantik?”
“Ya.”
“Secantik apa dia?”
Matanya menerawang, jauh…. “secantik….bintang!” namun segera ia meralat ucapannya. “Tidak! bukan bintang, sebab bintang hanya tampak pada malam hari.”
“lalu?” kejar wanita yang memainkan penanya di atas meja kerja, sementara kawannya, lelaki yang bercerita tentang wanita cantik itu terus menerawang.
“Aku melihatnya di depan gedung DPRD! saat ia berjalan membawa spanduk aksi… uhhh luar biasa! Aku mengabadikannya di kamera, kamu mau lihat? Ah! Mengapa???!” ia menggeleng lemah ketika wanita itu menhawab tidak.
“Dia sangat…..cantik!”

Wanita yang mukanya sudah merah itu tiba-tiba beranjak dari kursinya. Menuju meja resepsionis untuk ngobrol dengan Mbak Sofia.
lelaki yang semangat bercerita itu hanya menatap wanita itu, Arnalia dengan heran. Tak biasanya dia begitu murung…

Lelaki yang memakai jaket hitam itu mengejar Arnalia ke meja resepsionis, “Ar, kamu kenapa? cemburu ya mendengar ceriataku?”
“Apa? cemburu? maaf, aku tak ada waktu untuk bermain dengan perasaan anak ingusan macam itu.” katanya, tanpa ekspresi.
“Benar?” sang lelaki meyakinkan. 
“Aku bisa menebak isi hati wanita, lho Ar.”
“Oya? aku tak tertarik. Maaf ya! Aku harus ketik berita. Deadline jam 4!” ujar Arnalia sambil menunjuk jam tangannya, menuju meja kerjanya.
Sang lelaki menatapnya dalam-dalam.
***
Seminggu kemudian….
Sang lelaki sedang membaca koran harian di sofa depan resepsionis, saat seorang wanita memasuki kantor redaksi koran tempatnya bekerja. Wanita itu yang dilihatnya seminggu yang lalu, saat ia sedang meliput unjuk rasa mahasiswa di DPRD. Wanita itu, adalah yang tercantik dalam pandangan Iqbal.
Ia segera menghampiri wanita yang mengenakan kerudung hitam dan bergamis pink polos. Ia menanyakan honor menulisnya.
“Oh, Mbak menulis di kolom pembaca ya?” tanya Iqbal.
Wanita itu tersenyum.
Setelah ia menyelesaikan urusannya, ia pamit pulang. Segera Iqbal menanyakan siapa namanya, dan di mana alamatnya. Tahulah ia bahwa wanita cantik tadi bernama Ayudya. 

Alamat rumah dan nomor HP-nya pun kini dalam genggamannya. Arnalia melihat kejadian itu, hanya bisa mendesah panjang. Lelah.
Iqbal menangkap sekilas bayangan Arnalia mengintipnya dari balik dinding. Ia tersenyum sendiri.
***
Hampir dua minggu identitas tentang si cantik mengendap dalam dompet Iqbal. Tak tersentuh, tak terjamah. Ia seakan lupa pada pesona wanita itu. Sibuk dengan urusannya sendiri. 

Mencari berita, mewawancarai narasumber, dan menuliskannya hingga menjadi makanan sehari-hari tiap pagi penduduk kota.
Sejenak ia ingin menghubunginya, sekadar kirim SMS atau telepon untuk menyambungkan tali cinta, barangkali saja ada kesempatan. Namun waktu untuk melakukan itu rasanya tak ada. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya.

“Bal, aku mau pergi!” kata Ar pagi itu, sambil membereskan barang-barangnya.
Iqbal langsung berjingkat, “Ke mana?”

“Simbokku di kampung nyuruh aku pulang. Kasihan, beliau sudah sepuh.”

Iqbal duduk kembali, “Kapan pulang ke sini lagi?”
Ar menggeleng. “Tidak!”
“Maksud kamu…. selamanya menetap di sana???” pekik Iqbal kaget.

Ar tak bereaksi, ia meneruskan saja pekerjaannya. Hingga semuanya beres, ia pun siap untuk berangkat.
“Secepat ini?? Tak ada kabar sebelum ini Ar!” ujar Iqbal.
Ar melangkah ke pintu, “Jaga dirimu!”

“Ar!” Iqbal mengejar, namun Ar menghilang di balik pintu. Bersamaan dengan itu, air matanya diterbangkan angin. Ar berusaha menghilangkan segala perasaan yang bercampur aduk di hatinya. Ia sebenarnya ingin menetap lebih lama di kota hujan ini, menjadi jurnalis seperti yang sejak dulu diidam-idamkannya. 

Namun sejak dokter memvonisnya dengan penyakit kanker otak, ia seakan hendak kehilangan hidupnya. Ibunya di kampung berkali-kali memintanya pulang, namun Ar terlalu asyik dengan kehidupannya.
“Ar! Kasih aku kabar, Ar!” teriak Iqbal saat Ar sudah naik angkot menuju Baranangsiang. Ar tak menjawab, dan itu tak butuh jawaban.
“Kau tahuuuu… dia sangat cantik….” kata-kata itu terngiang dalam gendang telinga Ar. 

Hatinya gundah. Sebab ketika Iqbal mendakwa wanita itu cantik, bahkan sangat cantik, Ar merasa inferior. Ia merasa tak ada apa-apanya dengan wanita manapun di dunia ini sebab ia lagi-lagi merasa, ajalnya sudah demikian dekat.
“Iqbal, dia memang cantik…sangat cantik….” serta merta airmatanya menetes satu-satu. Ia tertawa lirih, bahkan ia tak mengajukan surat pengunduran diri pada Pemred. Ia merasa gila.

#ODOPfor99Days
#Day1


Bersambung....

Selasa, 20 Desember 2016

Testimoni Matrikulasi IIP



Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di penghujung kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP). Mungkin ada yang belum tahu apa itu IIP dan kelas matrikulasi? 

Jadi begini, Institut Ibu Profesional adalah komunitas bagi ibu dan calon ibu untuk berproses menjadi profesional. Sepertinya aneh ya, kalau “IRT” kok disandingkan dengan kata profesional? Memangnya jadi ibu butuh profesionalisme? Memangnya jadi ibu merupakan pekerjaan? Dapet gaji aja nggak, komoh deui ada bonus kenaikan pangkat dan libur. Kerjanya aja 24 jam tanpa istirahat. 

Sedangkan kelas matrikulasi adalah “pintu gerbang” untuk menjadi member IIP. Jadi semacam masa ospek gitulah... Selama 9 pekan dengan materi yang sistematis setiap pekannya, lengkap dengan tugas yang harus dikerjakan di blog/google doc/drive. Dan ada review atas tugas kita. Lengkap dengan tanya jawab juga loh... Jadi makin jelas.

Foundernya, Ibu Septi Peni Wulandari. Terima kasih Ibu, sudah membimbing kami selama 9 pekan ini. 

Terus, apa yang dirasakan setelah kelas usai? Ada perubahan gak? Hihi... Kasih tahu gak ya? Sebenernya sih gak pengen kasih tahu, biar antunna rasakan sendiri sensasinya. Tapi, bolehlah saya kasih gambaran sedikit.

Saya itu, kadang masih “gak waras” jadi ibu. Iya stress, iya uring2an, kerjaan rumah gak beres2, perilaku anak yang luar biasa aktif, banyak lah. Nah, ditambah lagi, kebingungan saya membuat “peta terstruktur” tentang akan menjadi apakah diri saya, keluarga saya, dan khususnya anak2 saya. Dalam tugas2 yang diberikan, IIP membuat saya memetakan mana nih wilayah saya, mana wilayah saya dan suami, dan mana wilayah anak-anak. Jadi, menjadi ibu gak lantas membuat saya “kehilangan” jati diri saya. Tetap saya bisa menjalani passion saya selama ini. 

Juga wilayah saya dan suami, pernah satu kesempatan kami ditugaskan membuat surat cinta untuk suami. Ada yg suaminya cuek aja, ada yg balas romantis, dsb. Intinya, komunikasi dengan suami akan melancarkan proses kita menjadi ibu profesional.

Dalam wilayah saya dan anak-anak, lebih luar biasa lagi. Gimana caranya mendidik mereka sesuai dengan gaya belajar masing-masing, apa yang harus dilakukan untuk menjadi apa. Dan seterusnya. Amazing!

Kadang, saya ngerasa gak habis-habis dengan aneka pekerjaan rumah. Selalu berantakan, Cuma menguras e energi dan pikiran. Abis itu, ngeluh kurang piknik. Padahal ada caranya, supaya kita gak stress dengan segudang urusan domestik itu.

Nah, kata siapa menjadi ibu gak perlu profesionalisme? Memanage semua urusan dapur, sumur, kasur kan harus cerdas. Kalau asal-asalan ngikutin arus sih, gimana coba nantinya? Sedangkan zaman sudah penuh fitnah. Zaman dulu sih iya aja, belum ada FB, belum ada medsos, belum ada racun2 yang merusak perkembangan anak. Kalau sekarang kan, wuiiihhh tahu sendirilah. Jika kita sebagai ibu, yang katanya dan memang benar adanya, “madrasah pertama” bagi anak-anaknya ternyata gak mengatur rumah tangga dengan baik, mau jadi apa generasi masa depan kelak? Ingat, kualitas pemimpin masa depan ditentukan oleh kita, kaum ibu.

Terima kasih IIP... Terima kasih Bu Septi... Terima kasih Bu Rizqie, Bu Tati, Bu Ulfah, Bu Marfa, Bu Dewi dan semuaaaaa yang sudah membimbing saya di IIP ini. Thanks a lot juga buat Bu Neneng, yang sudah mengajak saya ke sini. Buat teman2 di wilayah Banten, boleh deh kita inbox2 kalau ingin tanya2 lebih lanjut. Kalau di luar Banten, bisa googling tentang IIP ini. 
Wassalam

Rabu, 14 Desember 2016

NHW #9

Ini NHW terakhir. Rasanya sedih harus mengakhiri kelas matrikulasi ini. Tapi kan harus berlanjut proses belajarnya dengan praktik.
Bismillah. Semoga bermanfaat....

Sabtu, 10 Desember 2016

NHW #8

NHW #8 
Misi Hidup dan Produktivitas

1. Salah satu hal yang saya ambil di NHW 7 tentang apa yang saya suka dan bisa adalah MENULIS
2. Karena itulah saya ingin menjadi penulis, lalu saya ingin menulis, dan ingin memiliki tulisan yang bisa menginspirasi banyak orang sehingga semoga tulisan saya menjadi amal yang tiada terputus meskipun saya telah tiada.
3. Tujuan hidup saya adalah ingin menjadi orang baik, bisa masuk surga.
5-10 tahun kemudian saya ingin bersama-sama dengan suami membangun pesantren. Karena mewujudkan cita-cita suami adalah cita-cita saya juga.
1 tahun ke depan, saya ingin menerbitkan Buku. Ide-ide sudah terkonsep di kepala, tinggal eksekusi.

Selasa, 29 November 2016

Jangan Jadi Istri Kufur



Seorang ibu bercerita tentang anaknya, lalu ceritanya mulai ke arah dirinya semasa masih bekerja. Menurutnya, saat masih bekerja dia bisa menghasilkan uang yang lumayan untuk bantu2 suami. Namun ketika suaminya melarangnya bekerja untuk fokus di rumah, dia pun bersedih dan menyesal. Ada beberapa tawaran bekerja dari tetangganya tapi gajinya kecil maka ia menolaknya. “Kerjanya capek, nungguinnya sebulan, gajinya Cuma segitu. Buat beli sabun aja gak keliatan.”
Sy sepakat tentang harga yang semakin gila. Uang 50ribu dibawa masuk mart-mart paling dapat sabun dan minyak. Gak kerasa. Namun, sambil terus mendengarkan dia bercerita, tiba2 sy terperenyak.
“Astaghfirullah... Memang harga2 sekarang mahal semua. Tapi, khawatir jika keluh kesah itu berlanjut, akan membuat kita para istri tidak bersyukur atas rizki yg didapat suami.”.
Sy sering bingung menjinakkan uang, agar jangan sampai lepas kendali. Harga semua kebutuhan terus naik, bikin resah dan gelisah menunggu di sini di sudut sekolah.. Aihhh nyanyi!
“Karena skrg sy gak kerja, jadinya begini. Susah. Kerjaan suami gak jelas, sy jualan juga banyak ruginya.” Lanjutnya.
Mendadak sy jadi sedih dan kasihan sama suaminya. Mbrabak mata saya. Keinget sama suami sy sendiri. Suami udah susah cari nafkah buat istri dan anaknya, tapi istrinya ngeluh terus. Menganggap dirinya berjasa besar kalau bisa punya penghasilan sendiri. Bahkan mungkin lebih besar dr pendapatan suami. Jauhkan sy dr sikap kufur nikmat ya Allah..

#selfreminder
Yuni Astuti

Rabu, 23 November 2016

NHW #6

NHW #6
Belajar Menjadi Manajer Keluarga Handal
1) 3 aktivitas yang paling penting:
a) Mendidik Anak
b) ODOJ
c) Merapikan rumah
3 aktivitas yang paling tidak penting:
a) Online
b) Nonton TV
c) Tidur
2) Anehnya, waktu saya selama ini habis untuk kegiatan yang mana? Tidak jelas juga. Menemani anak bermain, tapi sambil menjaga bayi yang selalu butuh ASI kapan saja dia mau. Bahkan, kadang (atau malah seringnya) sampai saya ketiduran. Aktivitas yang sangat tidak penting malah menghabiskan waktu saya. Sungguh tragis.
3) Insya Allah. Mulai sekarang harus lebih konsisten lagi agar jangan melakukan hal-hal yang tidak penting di waktu yang penting.
4) Aktivitas rutin dikumpulkan dalam satu waktu. Urusan mencuci dari jam 08.00-09.00. bersih-bersih rumah dari jam 15.00-16.00
5) Insya Allah.
6) Jadwal harian:
Jenis kegiatan Terlaksana  / Tidak Terlaksana X
ODOJ
Sholat Dhuha
Menyiapkan sarapan
Antar anak sekolah
Mencuci
Memberi ASI
Menemani anak bermain
Tidur
Baca buku
Persiapan sekolah TPA
Menunggu anak di TPA
persiapan solat dan makan
Mendongeng sebelum tidur
Relax Time: Nulis
Tidur

7) Insya Allah akan saya amati

Jumat, 18 November 2016

NHW #5

NHW #5 kali ini cukup membuat saya merenung lama. Sebenarnya, metode pembelajaran yang “gue banget” itu yang seperti apa?
Yah, mau tidak mau harus saya tulis juga. Baiklah, meskipun sederhana, tetap akan saya tulis.
Saya suka menulis. Maka saya fokuskan di bidang ini.
Bagaimana cara belajar saya?
Sebenarnya, pola pembelajaran itu sudah sejak kecil terbentuk.
Yakni:
1. Membaca: buku pelajaran, novel, majalah, koran, dll
2. Menyalin: menuliskan kembali apa yang sudah saya baca. Meringkas dan mengambil poin pentingnya.
3. Berlatih menulis. Ini sudah pasti ya. Lagipula, setiap menulis saya gembira sekali.
4. Nonton film. Ya, saya suka nonton dan menganalisa alur serta konfliknya. Suatu saat saya berharap bisa membuat skenario film yang bagus.
Nah, soal waktunya, saya hanya bisa menulis saat malam hari. Ketika anak-anak sudah tidur. Karena siang hari saya disibukkan dengan kegiatan emak-emak. Mencuci, nyapu, mengurus anak dll.

Secara alamiah, saya menularkan kegemaran membaca ini kepada anak. Sebelum tidur saya ceritakan kepadanya kisah-kisah. Secara rutin pula saya ajak mereka ke perpustakaan untuk membaca dan meminjam buku. Semoga mereka terbiasa dengan suasana perpustakaan. Dan secara alamiah jadi suka menulis juga, itu harapan saya. Tapi tidak memaksa.

Sekiranya itu saja dulu.

Kamis, 10 November 2016

NHW #4 Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

NHW #4
a. Sampai sekarang, saya tetap pada passion saya. Tidak ingin mengubahnya.
b. Sudah lebih baik. Saya mulai lebih rapi dan rajin. Kalau biasanya menyetrika seminggu sekali, sekarang jadi seminggu tiga kali. Sedikit demi sedikit checklist itu bisa diikuti.
c. Saya ingin menjadi seorang ibu yang bisa tetap menjadi diri sendiri. Saya suka menulis, maka saya akan menulis buku yang bisa mencerahkan orang lain. Semoga bisa menjadi amal yang tiada terputus bagi saya kelak.
Misi hidup: menginspirasi orang lain untuk berbuat baik
Bidang: menulis
Peran: Penulis
d. Ilmu yang harus dipelajari adalah ilmu kepenulisan, serta ilmu lainnya yang berhubungan dengan tema tulisan.
e. Saya akan menetapkan milestone dalam 1 tahun saya harus bisa menulis minimal 1 buku.
f. Dengan begitu, maka saya harus menambah jam terbang. Menulis minim selama 1 jam/hari.


Kamis, 03 November 2016

NHW #3

NHW #3
1. Surat cinta. Sudah lama aku tak menulisnya. Dulu pernah kuberikan pada suamiku surat cinta, tapi responnya datar saja. Yowis... Suamiku memang tipe plegmatis, tak banyak ekspresi. Datar dan damai sentosa saja. Marah juga hampir tak pernah. Yang penting rumah tangga ayem tentrem. Nah kali ini kubuat lagi surat cinta sepanjang satu halaman saja. Dan yaaa mimik wajahnya datar saja, bahkan bacanya cepet banget biar segera selesai. Trus Cuma ngacungin jempol. Abang Sayang, ini bukan status FB ya... Jadi gak butuh like. Lalu dibalasnya di bawah surat itu. Dua huruf dengan satu tanda baca, yaitu: OK!. Hmmm..... Abang, daku sudah menulis panjang ya masa dibalasnya Cuma segituuu? Lalu, diralatlah. Setelah cukup lama menulis katanya saya tak boleh komentar. Apapun itu. Okelah... Dan balasannya adalah:
“wa’aasyiruuhunna bil ma’ruuf. Fain karihtumuuhunna fa’asaa an tukrihu syai’an wa yaj’alallahu khoiron katsiro”.
Sayang, terima kasih karena menjadi suamiku. Aku bahagia. Mungkin engkau tak romantis, mungkin tak pandai merayu, tapi... Perlakuan baikmu selama ini sudah lebih dari cukup. Ketika engkau ridho, engkau sangat baik. Ketika engkau marah, diriku tak pernah kausakiti, meski hanya seujung kuku. Bahkan marahmu selama 7 tahun pernikahan ini bisa dihitung denga jari. Terima kasih telah menerimaku menjadi istrimu, dengan segala kekuranganku.
2. Anak-anakku, 3 orang putra dengan karakter yang berbeda jauh. Fatih, 6 tahun, sosok kakak yang sayang pada adik-adiknya meski kadang usil. Namun begitu perhatian dan tahu betul apa yang disukai adiknya. Fatih sangat aktif, kegiatannya bersifat fisik. Lari, lompat, manjat, nyebur ke air, itu total. Full ekspresi. Tak ada yang dia takuti. Dia suka tantangan. Tak peduli bahaya. Makanya dia yang paling banyak terluka. Jatuh, berdarah, lecet dll. Fatih suka dibacakan cerita. Suka kisah-kisah meski belum pandai membaca. Tapi dia juga sensitif, mudah tersinggung...
Thoriq, 4 tahun, kebalikan dari Fatih. Dia penuh perhitungan. Lebih kalem, tak banyak bergerak. Makanya badannya sedikit lebih berisi dari Fatih. Karena setelah makan, dia suka leyeh-leyeh bahkan tidur. Adapun dia jadi aktif, karena mengikuti ritme bermain Fatih. Dia takut mencoba hal baru, pemalu di tempat baru, temannya tidak banyak. Tapi dia kepala batu. Sungguh keras kemauannya, sulit kompromi tak seperti Fatih. Thoriq lebih memilih nangis kejer jika permintaannya tidak dituruti. Karena itu kepada Thoriq, saya sedikit lebih lunak. Oya, kalau sedang lapar, Thoriq seperti saya. Rese. “lo bukan lo kalo lagi laper” itu benar rasanya. Dia bisa nangis sambil teriak lapar. Setelah kenyang, sungguh manis sikapnya.
Kholid, 1,5 tahun, dia mirip Fatih. Tak takut mencoba hal baru. Wajahnya pun sangat mirip Fatih. Tapi dia lebih ceria, mudah meniru kata-kata meskipun baru sekali diucapkan. Akan bagus untuk menghafal Quran.
3. Apa kekuatan potensi saya? Dalam urusa domestik, saya tak begitu pandai, ya standar sajalah. Namun ada sih rasanya kekuatan itu, yaitu manajemen waktu. Saya tidak suka telat, maka supaya bisa on time, saya harus tepat memprediksikan semuanya mulai dari persiapan, dan di perjalanan. Inilah yang suami saya kurang. Suka ngaret. Maka, alangkah bagusnya kalau saya bisa melengkapi kekurangannya.
4. Tak ada yang kebetulan mengapa keluarga saya ada di sini. Kami masih tinggal di rumah ibu saya. Saya ingin tinggal di tempat sendiri, hanya keluarga inti. Namun, ibu saya ingin agar kami tinggal di sini. Untuk sementara ini, mungkin supaya kami bisa menemani ibu saya yang sendiri sejak 3 tahun lalu ditinggal almarhum bapak saya...

Jumat, 28 Oktober 2016

Ibu Bahagia

Bismillah...
Tugas NHW #2

Tugas kali ini membuat saya harus banyak merenung. Indikator ibu profesional itu seperti apa yang diharapkan suami dan anak-anak saya. Saat kutanyakan pada mereka, jawaban yang singkat dan sedikit tapi cukup membuat saya tambah bingung.

Suamiku menuliskan tiga poin sebagai kriteria istri macam apa yang membuatnya bahagia.
1. Rajin ngaji
2. Rajin beberes
3. Nggak suka marah-marah
Sedangkan anakku, saat ditanya tentang ibu seperti apa yang membuat dia bahagia, jawabnya juga sama: Umu nggak marah-marah.

Tertegun saya, memang kalau saya marah-marah itu benar-benar menyebalkan. Seperti orang tidak waras. Kalau soal beberes rumah, semampu saya sudah saya kerjakan. Meski memang harus upgrade lagi terlebih sudah dapat ilmu 5R.

Sedangkan, untuk jadi istri solehah, mana bisa saya dapatkan kalau tiap hari marah-marah gak jelas?

Maka, inilah prioritas saya. Saya harus menekan marah ini. Marah-marah ini emosi negatif yang harus saya singkirkan. Saya bisa mengatakan dengan baik-baik tanpa meregang otot leher!

Lagipula, harapan suami dan anak-anak untuk saya tidak muluk-muluk. Mereka hanya ingin saya bahagia. Ya, ternyata kebahagiaan mereka adalah jika saya bahagia. Mana ada orang bahagia yang marah-marah melulu?

Untuk saat ini, seminggu ke depan,  sebulan ke depan, saya akan melatih emosi ini agar lebih “jinak”. Setelah itu barulah menerapkan ilmu kerumahtanggaan lainnya. Bismillah...

Adab Menuntut Ilmu

Tugas NHW #1
Yuni Astuti
1. Satu jurusan ilmu yang ingin saya tekuni adalah menulis.
2. Alasan terkuat yang saya miliki adalah saya sangat mencintai bidang ini.  Saya ingin menjadi penulis yang menginspirasi banyak orang,  dengan demikian apa yang sudah saya sebarkan lewat tulisan itu semoga menjadi amal yang tiada terputus.  Walaupun saya kelak sudah meninggal  dunia. 3. Strategi yang harus dilakukan dalam menuntut ilmu menulis adalah banyak membaca serta terus berlatih menulis. Mengasah mata dan telinga untuk membaca segala hal yang ada di sekitar.
4. Terkait adab menuntut ilmu,  sikap yang harus diperbaiki adalah lebih rajin lagi membaca serta konsisten dalam menentukan waktu menulis.  Tidak boleh menunda-nunda dan menjaga semua yang berkaitan dengan peralatan menulis.
Sekian

Selasa, 24 Maret 2015

Pengalihan Isu, Murahan!



                Saya teringat zaman SD, waktu itu menjelang pilpres. Kira-kira tahun 1999-ya, berarti saya kelas 5. Berarti wali kelas saya Bu Mustimar. Berarti saya umur 11 tahun. Berarti…. Ah sudahlah bagian ini nggak penting.
                Yang mau saya ceritakan adalah, pada tahun-tahun itu sungguh sangat mencekam. Di rumah, di sekolah, horror aja keadaannya. Bukan karena ada hantu suster ngesot yang nikah sama hantu pocong, lalu melahirkan suster keramas. Tapi, lebih serem dari itu semua yaitu… anak angkatnya Mak Lampir yang bergentayangan di tempat tinggal saya. Ini mah serius….
                Waktu itu lagi tenar sinetron “Mak Lampir”, apa tuh judulnya… Misteri Gunung Merapi ya? Di situ ka nada tokoh namanya Gerandong. Nah, di bagian ini nih yang serem. Konon kabarnya, sebagaimana biasa isu berembus di udara bahwa ada sosok Gerandong telah memasuki desa kami.
                Dia adalah manusia yang cari pesugihan, dengan tumbal harus memperkosa sejumlah perawan, sejumlah ibu-ibu dan sejumlah nenek-nenek. Nah lho gimana nggak serem tuh! Saya kan waktu itu(11 thn) udah tergolong perawan, kan? Takut jadi sasaran dong. Apalagi kabarnya, siapa aja yang udah jadi korban, maka akan mati! Sebab, senjatanya Gerandong itu akan menjadi seukuran paha orang dewasa, ada kawatnya. Ih pokoknya serem deh.
                Jadilah setiap malam kami semua yang ada di kampung nggak ada yang berani tidur di kamar! Lalu tidur di mana? Di teras rumah. Beneran ini kayak pengungsi aja. Kalau udah lepas Isya langsung gelar tikar di teras, lalu pakai baju yang dirangkap celana panjang dobel-dobel deh. Para pria berjaga-jaga di halaman, gak tidur. Luar biasa ya isu kala itu, sampai mendengar suara gedebuk di loteng aja langsung dibilang itu gerandong. Ada suara di belakang pintu, gerandong juga. Padahal mah bisa jadi itu Cuma tikus jatoh!
                Tetangga kami, tengah malam katanya berantem sama Gerandong. Sampai diumumkan di masjid, supaya semua warga berjaga-jaga. Huffft…. Ini benar-benar membuat saya nggak berani berada di dalam kamar sendirian pada waktu malam!
                Setelah isu Gerandong ini hilang dengan sendirinya, dan nggak pernah ada pengakuan korban secara langsung sih baik dari pihak perawan maupun nenek-nenek, Cuma katanya katanya doing… jadi ya kita semua kembali ke kehidupan normal. Tapi muncul lagi kasus serupa, yaitu kolor ijo. Kalau ini sih masuk TV dan ada pengakuan korban. Namun akhirnya si korban mengaku juga kalau itu hanya trik dia supaya cari sensasi, numpang tenar. Gak ada sosok kolor ijo dalam dunia nyata. Cuihhh! Berkali-kali kena isu murahan.
                Oya, sebelumnya, ada juga isu yang nggak kalah serem menjelang pilpres yaitu isu Ninja yang menyerang para kyai di kegelapan malam. Hah kalau ini sih saya nggak tahu pasti, namanya aja sasarannya kyai, jadi saya nggak begitu takut seperti isu Gerandong.
                Kini, begitu banyak isu. Yaaaa….hati-hati aja jangan sampai kena tipu. Bisa jadi, apa yang sedang ramai dibahas di media ini sekadar pengalihan isu aja buat menutupi masalah yang sebenarnya. Ya misalnya aja, Mister Joko mau diculik sama gerandong lalu ditutupi oleh isu begal lah, teroris lah, teh manis lah, bang kumis lah, atau sosis ya entahlah…semua bisa jadi isu murahan yang tergetnya bikin takut warga.
                Sehingga, bisa jadi, bisa jadi lho yaaaa… kita akan mengabaikan masalah yang lebih serius dibandingkan msalah yang Cuma rekayasa. Ada ular phyton  yang akan memangsa semua orang di negeri ini, eeeh kita malah ngeributin isu teroris yang sebenarnya ditujukan ke umat islam. Lihat ikhwan berjenggot dan sering baca buku jihad langsung ditangkap, jangan-jangan ntar pedagang Iqro keliling juga ditangkep. Hadeeeh…. Aya2 wae negri ini.
                Bukankah yang menjadi teroris sebenarnya adalah orang2 yang ngakunya berpangkat tapi korupsi dan ngejual-jualin asset Negara ke asing? Barang tambang milik Negara dibiarkan dikelola asing sampai tahun kapan itu selesainya… Lalu rakyat dibiarkan aja beli beras mahal, gas mahal, listrik mahal, mau berobat harus dipalak dulu tiap bulan pake BPJS, bensin naiknya gak ketahuan, dan ujung-ujungnya batu akik jadi mahal. Hahaha… siapa yang gila coba?
                Cuma mericin dan rambutan yang sekarang lagi murah!

Sabtu, 21 Maret 2015

My First Love #2




                Berita di berbagai media penuh dengan permainan politik yang pelik. Kritik dan demo datang dari berbagai kalangan, terutama mahasiswa. Mereka semua menuntut adanya perubahan, seperti yang pernah dijanjikan oleh bapak Presiden. Nyatanya, baru beberapa bulan berjalan pemerintahannya yang baru, yang diangkat dari jalan demokrasi, rakyat sudah begitu gerah dan geram. Bapak Presiden, kebijakannya lebih banyak membuat rakyat mencekik lehernya sendiri.
                Tentang kebobrokan penguasa, Randy bercerita. Bagaimana ia dan kawan-kawan BEM-nya merencanakan aksi yang akan mengguncang istana. Katanya demokrasi itu palsu, bukan untuk rakyat melainkan hanya untuk pejabat. Tiap kali aku mendengar ceritanya, aku selalu tersenyum. Sejak SMA, Randy memang terlihat berbeda. Aktivitasnya lebih banyak berkutat dalam hal politik seperti itu. Sedangkan aku, seperti tuan puteri yang lebih banyak diam di rumah. Apa yang dipikirkan anak SMA selain tugas sekolah, jalan ke mall bersama genk dan pacaran, iya kan? Namun Randy tidak begitu….
                “Kalau bukan kita yang memikirkan bangsa ini, siapa lagi? Apa kamu mau Negara kita perlahan-lahan terenggut oleh penjajah berwajah pribumi? Jangan dikira kita sudah merdeka, kenyataannya kita selalu menderita!”
                Ah, Randy… bagaimana aku merasa menderita? Hidupku aman terjamin. Papa dan mamaku bekerja. Aku anak tunggal yang segala keinginanku pasti akan dipenuhi oleh mereka. Sekolah diantar jemput sopir, kuliah boleh bawa mobil. Uang saku tak pernah kurang, lalu apa yang harus kupikirkan tentang perubahan? Toh selama ini aku aman-aman saja, baik-baik saja, tak bisa merasakan apa yang kaurasakan…
                Kutahu, kamu pun orang berada. Seringkali kamu bercerita tentang keluargamu yang katanya memiliki sawah berhektar-hektar dan kalau musim panen kamu bisa beli mobil terbaru. Kebun di kampung-kampung yang dikelola oleh warga sekitar dan segalanya kau serba ada. Mengapa harus berlelah-lelah memikirkan perubahan?  Rupanya, kau sudah sejak lama berlepas diri dari dana orang tuamu. Bekerja sendiri, dengan hasil keringat sendiri demi mencukupi biaya kuliah dan hidup sehari-hari. Jadi itukah sebabnya kau kurus?
                “Aku salut sama kamu. Orang macam kamulah yang dibutuhkan rakyat. Biar bagaimanapun aku selalu mendukung perjuanganmu.” Ungkapku kala itu.
                “Rara… Kau tahu, kita bisa makan nasi dan buah-buahan, sebagiannya bukan kita yang menanam. Kita tinggal membelinya saja di pasar. Semua itu orang lain yang menanam, dan ini yang mesti kamu sadari. Kebaikan apa saja yang kita tanam, bisa jadi bukan kita yang menikmati tetapi orang lain. Dan oleh karena itulah kita menjadi pahlawan sejati, yang mungkin namanya tidak terpatri dalam prasasti. Namun, ada banyak orang yang akan berbahagia nanti, bila perubahan yang kita lakukan ini penuh arti. Jadi jangan sia-siakan kebaikan sekecil apapun yang kita perbuat.”
                Aku selalu tersenyum saat mendengar ceritamu. Kaukirim e-mail, kaukirim foto, dan itu membuatku merasa selalu ada di sampingmu. Kita pernah tinggal satu kota, dan hanya satu kali kita pernah bersua. Satu kali, di toko buku dan tidak lama. Itu pun aku mengajak teman baikku.
                “Jadi, kamu.. Rara?” kamu memastikan.
                “Ya, dan ini sahabatku, Diani.” Aku memperkenalkan mereka. Randy dan Diana bersalaman.
                Lalu, kita hanya saling senyum, tak tahu harus bicara apa. Padahal kalau kita bertelepon atau SMS, bisa seharian tanpa pernah putus. Mungkin karena baru pertama bertemu dengan sahabat udara…
                “Ra, kapan-kapan kita bisa ketemu lagi kan?” tanyamu. Aku mengangguk. Akan kupersiapkan diriku jika ada kesempatan bertemu lagi.
                “Kalau begitu, sekarang aku pamit ya…” dan pandanganku melepas kepergiannya sampai sosoknya hilang dari jangkauan. Aku merasakan telapak tanganku sangat dingin. Diani senyum-senyum melihatku. Itulah pertemuan pertama dengannya, tetapi sejak itu tak pernah lagi ada jadwal pertemuan. Kami masih sering berkomunikasi, masih sering dia menjadikan aku tempat curhatnya, bahkan hingga ia pindah ke kota lain untuk kuliah. Hingga nyaris aku merasa bahwa hubungan ini bernama LDR. Terasa manis bila itu terjadi pada sepasang kekasih, nyatanya aku dan dia tetap seperti ini. Dia menyebutnya: sahabat.
***
                Tanpa terasa, mataku berkaca-kaca. Laju angkot yang begitu cepat tak kurasakan hingga tersadar diri ini sudah dibawa amat jauh oleh pak sopir. Kebablasan! Rumahku sudah terlewat dan ya ampuuuun ini sih sudah kelewat jauhnya. Sekalian saja aku berhenti di titik akhir dan masuk ke dalam mall terdekat. Barangkali dengan shopping sebentar, bisa meredakan debur-debur kegundahan hati ini.
                Melihat-lihat tas, sepatu dan baju keluaran terbaru di butik dalam mall itu ternyata cukup ampuh membuatku agak baikan. Setidaknya window shopping ini bisa menjadi referensi untuk nanti kalau benar-benar niat belanja.
                Mengapa aku harus bertemu lagi dengan makhluk itu? Seharusnya dia sudah lenyap selamanya dalam ingatan paling buruk tentangnya. Namun ia menyeruak paksa, membuka lembaran lama kisah kami berdua di masa lalu. Andai saja aku dan dia tak pernah bertemu, atau andai saja tak ada Bulan di antara kami… ah itu sulit untuk kupikirkan.
                Bukankah sangat menyakitkan bagi seorang gadis yang sudah diberikan perhatian dan dijadikan tempat curhat oleh seorang lelaki yang terus-menerus seperti itu hingga sang gadis menganggapnya special dan merasa diistimewakan tetapi sang lelaki menganggapnya hanya sebagai sahabat? Sebaliknya ia menjadikan gadis lainnya sebagai tambatan hatinya, begitu mesra dengannya hingga tampak seperti….suami dan istri??
                Aku sangat tak menyangka Randy yang begitu menggebu dan semangat ingin melakukan perubahan untuk negeri ini agar lebih baik, ternyata berhubungan dengan Bulan seperti sepasang kekasih yang kehausan.
                “Di setiap SMS dan telepon, Randy kadang minta dipeluk, dicium, dicumbu rayu. Bermanja-manja, seakan kami sedang berdua. Aku turuti saja, toh ini Cuma main-main, dan tidak secara langsung… Aku sih nggak tahu yang kami lakukan itu bikin dia horny apa nggak….” Dengan polosnya Bulan menceritakan itu. Membuatku mual jika membayangkan sosok Randy dan Bulan yang tengah melakukan phone sex .
                Apa kau tahu, Randy, sejak aku tahu kenyataan itu aku pulang ke rumah dalam kondisi hatiku hancur berkeping-keping. Pecah semua harapan yang sudah terukir indah, yang kau sendiri yang mengukirnya dalam hatiku.
                “Mungkin aja Bulan itu berbohong….” Hibur Diani.
                “Kalau dia sendiri yang cerita, bisa jadi dia bohong. Tapi aku melihat sendiri dalam HP-nya. Suatu bukti yang gak bisa dibantah. Apa yang harus aku lakukan Dy….” Hanya kepadanya, aku berani curhat. Dia saja sahabatku yang paling mengerti.
                “Ya sudah… Kamu bersikap biasa saja. Kalau memang nggak ada kepentingan, ya gak usah berurusan dengan Randy. Untung dia nggak melakukan itu sama kamu. Itu tandanya dia masih menghargai kamu. Tentang Bulan, lupakan saja. Randy menganggapnya hanya sebagai pemuas imajinasi gratisnya. Pelacurnya…”
                “Kok Randy bisa begitu sih….. teganya!”
                “Apa kamu mau klarifikasi sama Randy? Siapa tahu ada orang iseng yang menggunakan nomornya untuk kepentingan dia sendiri. Jadi bukan Randy pelakunya. Bisa jadi, temannya.”
                “Aku nggak mau lagi berurusan dengan Randy! Sejak saat ini.” Aku pun bertekad kuat untuk menghapus ingatanku tentangnya, mulai dengan menghapus nomornya dari HP-ku, memblokir pertemanan dengannya, dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya aku hilangkan. Bagiku berakhir sudah, harapan-harapan yang belum lagi mekar telah terbakar sampai hangus. Aku tak peduli lagi tentang perasaan GR yang kurasakan. Nyatanya Randy memang tak pernah menganggapku sebagai kekasihnya.
                Memangnya ada rasa yang lebih menyakitkan dari di-PHP-in?----

Jumat, 20 Maret 2015

My First Love #1



Cuaca hari ini sedang susah ditebak, seperti dalamnya hati seorang wanita. Yaah…kadang panas terik, kadang hujan deras. Katanya sih ini namanya musim pancaroba. Sebab itulah banyak yang ambruk karena daya tahan tubuhnya kurang fit. Aku termasuk yang kena flu dan sekarang terpaksa harus mampir ke apotek untuk membeli obat.
                Tiba-tiba saja, saat sedang menunggu antrean, seseorang menegurku.
                “Rara? Kamu Rara, kan? Ah… apa kabar…?” sapanya begitu ramah. Aku agak tak ingat, hanya mengangguk sopan.
                “Kamu pasti lupa!”
                Lagi aku mengangguk. Dia tersenyum seraya duduk di bangku tak jauh dariku. “Aku ini kan sahabatmu dulu. Randy…”
                Aku terperanjat, ah masa iya aku bisa lupa pada lelaki ini. Apa karena tampilannya sekarang lebih kebapakan dan berkacamata serta sedikit lebih gemuk dibandingkan dulu yang selalu pakai celana jeans, jaket dan tentu saja kurus. Aku benar-benar pangling dibuatnya. Dan karena itulah kini aku merasa debaran jantungku semakin cepat dari biasanya.
                “Kamu kok, ada di sini?” tanyaku kaku.
                “Liburan aja. Oya, kamu…sibuk apa?”
                “Aku ngajar…”
                ***
                Randy adalah pendengar setia radio kesukaanku. Saat kami masih SMA, setiap sore Randy tak pernah bosan menelepon operator radio untuk berkirim pesan dan lagu. Lambat laun, aku mengenalnya, karena sering juga bertegur sapa lewat radio itu. Seiring perkembangan teknologi, kami punya ponsel dan bertukar nomor untuk saling berkirim pesan yang lebih pribadi. Kehadirannya senantiasa mewarnai hari-hariku di sekolah abu-abu.
                Aku serasa punya kekasih, sama seperti teman-temanku meskipun mereka bisa bertemu setiap hari dengan pacar mereka di sekolah. Kadang aku bertanya-tanya dalam hati, statusku ini apanya Randy? Apa benar dia menganggapku lebih dari sahabatnya? Sebab aku merasakan perhatiannya begitu besar, sering menghubungiku, mencandaiku walaupun kami jarang bertemu.
                “Itu sih namanya TTM-an, Rara…” ujar temanku, ketika tahu hubunganku dengan Randy. “Kamu itu dianggap apa oleh dia? Pacar nggak resmi tapi mesra banget.” Komentarnya.
                Menyakitkan sekali kalau ternyata benarlah komentar dia. Sejak itu aku tak menceritakan tentang Randy kepada siapapun. Hingga kami lulus sekolah. Hingga kami masuk universitas. Kami menempuh studi yang berbeda. Aku tetap di kota ini, sedangkan Randy pindah ke kota lain yang kultur pergerakannya lebih terasa. Awal-awal perkuliahan kami masih saling berkirim kabar.
                Randy sering menceritakan tentang teman-temannya, kelasnya, kosannya, bahkan hal-hal tak penting dia sering kabarkan padaku. Begitupun aku, berusaha untuk selalu bersamanya meski lewat udara.
                Teknologi semakin maju, sekadar SMS sungguh tak begitu seru. Ada fasilitas media social yang bisa semakin mendekatkan orang yang jauh. Randy masih tak lupa padaku. Foto-foto terbarunya terus bermunculan di media itu. Menggambarkan sosoknya yang semakin kurus, karena katanya sering ikut aksi bareng anak BEM di kampusnya. Syukurlah Rand, kamu sekarang jadi aktivis mahasiswa. Namun seiring itu pulalah dia menjadi semakin jauh dariku…
                Aku tak ingin terpaku pada kesendirian itu, meski memang duniaku mendadak sepi tanpa kehadirannya. Kini semua terasa seperti abu-abu, hambar saja. Hingga seseorang datang menggantikannya. Bukan lelaki melainkan perempuan, yang kukenal lewat media social juga. Namanya Bulan.
                Ada yang menarik darinya, Bulan dan aku sama-sama pecinta buku. Karenanyalah pembicaraan kami lebih banyak tentang buku. Kami pun sering berkirim buku ke rumah masing-masing. Persahabatan dengannya berjalan dengan baik, sampai suatu saat dia mengajak kopi darat. Tentu saja aku senang, apalagi jarak kotaku dengan kotanya tak begitu jauh. Kami memutuskan untuk bertemu di satu titik, dan terjadilah pertemuan itu.
                “Aku seneng banget kita bisa ketemu…” ujarnya.
                “Aku juga senang. Kamu tinggal di deket sini?”
                “Ya, nanti kamu nginap di kosanku kan?” lalu setelah berbasa-basi kami jalan-jalan. Perjalanan berakhir kala petang dan aku benar-benar menginap di kosannya. Sederhana, hanya ada satu kamar dan ruang tamu serta kamar mandi.
                “Kamu mau langsung tidur atau mandi dulu?” tawarnya.
                “Badanku lengket. Mau mandi dulu ya…” lalu aku menuju kamar mandi, segar rasanya terkena guyuran air setelah seharian berjalan-jalan. Setelah itu aku kembali ke kamar. Bulan sedang asyik dengan ponselnya, dia senyum-senyum sendiri. Aku duduk di dekatnya. Agak salah tingkah, dia lalu keluar katanya mau mandi.
                Fiuuuhh…. Aku berbaring di kasur. Ponsel Bulan bergetar, tanda ada SMS masuk. Iseng-iseng aku melihat layarnya, dan terkejut bukan main melihat sebuah nama tertera di sana: Randy. Apakah, Randy yang ini sama dengan Randy-ku?
                Penasaran, aku buka saja pesan yang masuk itu. Maka terpampanglah riwayat percakapannya dengan Bulan. Banyak haha-hihi dan ah-uh-ah-uh yang membuat kepalaku pening. Ini maksudnya apaaaaa? Kucek nomor Randy dalam ponsel Bulan, ternyata memang nomornya sama dengan nomor Randy-ku. Saat itu juga, aku merasa jantungku seakan tercabut paksa dari dadaku.
                Bulan datang tak lama kemudian. Tentu saja ekspresiku sudah berubah, dan Bulan menangkap perubahan itu. “Kamu kenapa?”
                “Kamu yang kenapa!” balasku.
                “Hey hey hey… ada apa sih? Kok tiba-tiba jadi galak gitu?”
                “Lan! Kamu kenal Randy?!” tanyaku tanpa basa-basi.
                “Kenal, memangnya kenapa? Kamu kenal juga?”
                “Dia pacar kamu?” tanyaku lagi.
                “Bukan…. Cuma teman…” jawabnya.
                “Kalau Cuma teman, kok bisa begitu mesra? Bahkan….sms-sms itu…. Memalukan!” aku tak sanggup menahan emosiku. Bulan mungkin tak mengira bahwa aku adalah sahabat Randy.
                “Kamu….cemburu?” dia balik bertanya.
                “Nggak penting Lan.”
                Bulan menghela napas panjang, lalu ia duduk bersila di hadapanku. “Well, oke. Sebelumnya maaf karena aku nggak nyangka ternyata kalian saling kenal. Aku dengan Randy, sebatas teman saja. Namun, yah… maaf jika terdengar sangat vulgar, tapi kenyataannya aku memang dekat dengannya…”
                “Termasuk PS juga?!!” tembakku.
                 Bulan mengangguk. “Aku anggap itu main-main saja. Habisnya Randy manja banget sih… suka gitu-gituan kalau SMS…”
                Aku pun menghela napas panjang.
                “Tapi sungguh, aku nggak suka sama dia. Bagiku dia seperti anak kecil, entahlah… Aku nggak suka sama cowok manja.”
                “Oke. Terima kasih atas penjelasanmu.” Meski rasa hatiku masih berdebum-debum tak karuan, aku mencoba menenangkan diri. Besoknya pagi-pagi sekali aku pamitan pada Bulan dan pulang ke rumah. Sejak itulah aku menghapus nomor Randy dari daftar kontak meski aku masih sangat hafal nomornya. Dia sesekali masih berkirim kabar padaku, aku tahu tapi tak pernah kubalas. Hingga bertahun-tahun lamanya, hingga aku nyaris lupa pada peristiwa itu.
                ***
                “Oya, kamu…sudah menikah?” Tanya Randy. Aku lebih banyak diam sambil berharap kasir segera memanggil namaku agar aku bisa cepat menebus obat.
                “Belum!” jawabku.
                “Sama dong… Aku juga belum.”
                Terus kenapa? Bahagia gitu karena menemukan teman yang masih jomblo? Hah!
                “Kamu tak pernah lagi membalas pesanku, Ra… Kenapa? Apa ada yang salah denganku? Kenapa kamu nggak pernah cerita?”
                “Ibu Rara…!”
                Ah syukurlah…… aku segera menuju kasir. Dan membayar obatku lalu berpamitan sebentar pada Randy. Dia malah mengejarku keluar apotek.
                “Ra! Rara!”
                “Ada apa! Aku pikir kamu udah menikah sama Bulan.”
                Wajahnya tampak keheranan. “Bulan…? Dia hanya temanku.”
                “Oh begitu? Ya sudah aku pulang duluan.” Kataku tanpa mendengar penjelasannya, lalu mencegat angkot yang lewat di depan apotek. Bagaimana pula kabar Bulan? Entahlah, yang jelas sejak peristiwa itu aku pun malas berteman lagi dengannya. Mungkin benar aku telah cemburu, tapi bukankah sangat wajar? Aku tak ingin lagi berurusan dengan dua makhluk itu! Bahkan selamanya!


bersambung.....