Cari Blog Ini

Kamis, 12 Maret 2015

Ahli Retorika Atau Tukang Silat Lidah?




                Saya besar di Banten, terbiasa dengan kultur masyarakatnya yang terkesan to the point tapi tetap beretika. Suami dari Solo, yang katanya kalau berbicara tidak selalu langsung ke pokok permasalahan walaupun sedang marah. Benar tidaknya, wallahu a’lam. Ini sih kata suami aja.. hehe…
                Awal-awal menikah, saya masih kurang ngeh terhadap permintaan maupun perintahnya. Misalnya, kalimat “tolong ambilkan minum”, diubah menjadi “masih ada air minum nggak?” lha saya yang merasa memang masih ada air hanya menjawab “masih” tanpa bertindak apa-apa. Maka berlanjutlah “haus nih.”
                Baru deh saya ambilkan. Duh duh duh…. Kurang peka amat yak, tapi kan kenapa juga ngomongnya muter-muter dulu? Kan nggak efektif.
                Singkat cerita, anak pertama kami ini kalau diperhatikan kok ya mirip abahnya. Kalau bicara muter-muter dulu… Misalnya, dalam suatu kondisi bepergian dia bertanya “Abah, bawa uang gak?”
                Dijawab, “bawa.”
                “Bawanya banyak gak?”
                “Ng… banyak.”
                “Kalau gitu, Aa mau jajan itu. Boleh?”
                Hadeeeh, Cuma mau bilang minta jajan aja muter-muter ke pasar Tanah Abang dulu. Kemudian, belum lama ini dia menceritakan tentang temannya.
                “Mu, Aa Fahri punya pensil warna baanyaaak deh. Tapi pelit, nggak boleh pinjem. Kalau Aa (Fatih) punyanya Cuma berapa ini Mu, aa itung yah… 1,2,3,4… Tuh Cuma 4 Mu.”
                “Iya A.” aku menanggapi santai
                “Aa juga pengen beli pensil warna Mu….”
                Owalaaah itu tho maksud utamanya? Minta dibelikan pensil warna tapi ibunya nggak langsung paham.
                Entah itu namanya ahli retorika atau tukang bersilat lidah, embuh lah. Yang jelas kalau Thoriq sih to the point banget. Minta makan langsung bilang apa adanya. Minta jajan tanpa tedeng aling-aling. Tapi Fatih mah… ya gitu. Dari yang sering terjadi, terbentuklah sebuah pola. jadi, mungkin aja apa yang dia katakan sebenarnya bukan tujuan utama dia. Istilahnya apa ya, ada makna yang tersirat gitu… hehehehe….

Rabu, 11 Maret 2015

Memaklumi Kemaksiatan



            Hmm… sebenernya judul yang tepat bukan yang bermakna “permisif” terhadap kemaksiatan yang ada ya. Tapi yang saya kamsudkan, adalah memahami fakta secara mendalam kemudian menyadari bahwa diri kita juga bisa berpotensi untuk melakukan kemaksiatan serupa. Dengan demikian kita tidak akan mudah menjudge seseorang itu telah berdosa.
            Sebuah kisah yang menarik di dalam QS Yusuf, kisah lengkap yang memaparkan perjalanan hidup sang Nabi yang tampan ini. Bagian yang menarik itu adalah ketika istri al-aziz menggoda Yusuf as tapi tidak berhasil kemudian para wanita yang ada di kota itu dengan mudahnya mengatakan bahwa istri al-aziz benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.
            Istri al-aziz lantas mengundang para wanita yang berkata demikian itu, diundang makan, disajikan buah-buahan dan pisau untuk mengupas buah-buahan itu. Lalu Yusuf as disuruh keluar untuk sekadar menampakkan diri kepada para wanita itu. Apa yang terjadi? Yap! Para wanita itu, tanpa sadar telah mengiris kulit jari mereka sendiri seraya mengucap kekaguman: “ini bukan manusia. Ini adalah malaikat….”
            Saya seringkali tersenyum kalau membaca kisah ini. Para wanita itu, yah, baru saja mendengar cerita tentang pengkhianatan istri al-aziz sudah berkata “kamu berada dalam kesesatan…”. Nyatanya, ketika mereka disuruh melihat Yusuf as untuk pertama kalinya malah terpesona. Bayangin aja tuh sampai ngiris jari sendiri, apa nggak karena saking melototnya lantaran kagum akan ketampanannya sekaligus ungkapan: “ini bukan manusia, ini malaikat…”
            Wew banget kan? Baru sekali melihat aja udah kayak gitu eskpresinya, gimana dengan istri al-aziz yang sudah hidup bersama Yusuf sejak Yusuf masih kecil? Jelas-jelas melihat ketampanan Yusuf as setiap hari! Normalnya kan, kalau sekali melihat aja udah deg deg serrr apalagi setiap hari selama bertahun-tahun? Ditambah lagi akhlak Yusuf as yang sungguh mulia, ya jelas namanya juga nabi.
            Bukan memaklumi keteledoran istri al-aziz, hanya rasanya “wajar” jika cinta itu tumbuh lantaran seringnya bertemu. Betul tidak? Nah, sebagai manusia biasa, tentu sangat mungkin tergoda imannya untuk berbuat hal yang dilarang agama. Hanya, karena Yusuf as seorang nabi maka beliau senantiasa dijaga oleh Allah.
            Padahal istri al-aziz udah punya suami, seorang pembesar pula. Pastinya kaya raya dong! Namun kenapa istrinya masih saja terpikat pada budaknya?  Inilah manusia, yang selalu tidak puas pada apa yang sudah mereka miliki. Dan kalau kita yang berada dalam posisi orang yang bersalah itu, belum tentu kita sanggup menahan iman. Oleh karena itu, seperti apa yang dilakukan Yuauf as, hanya ketakwaanlah yang bisa menjaga kita dari buruknya perangai kita sebagai normalnya manusia yang penuh hawa nafsu. Bukankah manusia itu memang diciptakan penuh syahwat, terutama pada wanita, anak-anak dan harta benda? Iman dan takwa akan menjaga kita, agar bisa menjadi “extraordinary people” yang tidak selalu harus dicap “wajar” ketika melakukan dosa. ^_^

Ngidam #2



            Acara ngidam selanjutnya, ngidam dodol yang dijual di Banten Lama. Di sana, penjual dodol berderet-deret dengan harga kira-kira 15ribu/kg. sebenernya bisa aja sih beli di toko kue, tapi kalau di Banten Lama beda! Kita bisa pilih sendiri, meraup sendiri sebanyak apapun untuk kemudian dikilo.
            Lokasinya deket sebenernya dari rumah, sekitar 8km. namun karena hari itu sedang berada di Serang, sekalian aja nyoba rute baru yaitu dari Sawahluhur. Ini rute yang sangat jauh, padahal lebih mudah lewat Pasar Lama, terus Kasemen. Nah ini Sawahluhur beneran memanjakan mata deh.
            Selain perjalanan yang sangat jauh nggak nyampe-nyampe, pemandangan di sawahluhur itu sangaaaaaat alami. Sawah menghampar sejauh mata memandang, aliran sungai dan irigasi pertanian, dan tambak… aiiiih udaranya juga wangi banget….
            Alhamdulillah sih nyampe Banten Lama juga, dengan sensasi baru dalam perjalanan yang mengesankan. Tapi lain kali kayaknya nggak mau deh lewat sini lagi, jauh banget! ^_^

Ngidam #1



Aku nggak begitu percaya dengan falsafah ngidam, yang katanya kalau nggak diturutin bakalan bikin anaknya ngiler terus nantinya. Tapi aku ngerasain sendiri, kalau ngidam nggak diturutin, dia akan terus menghantui pikiranku sekian waktu lamanya.
                Contohnya, aku ngidam bakso XYZ yang letaknya sekitar 10 km dari rumah. Wow banget kan jaraknya hanya demi semangkok bakso? Padahal di depan rumah tukang bakso berserakan, bisa pilih yang mana aja. Eeeh ini ngapain jauh-jauh ke pusat kota segala buat bakso tersebut?
                Jadi ceritanya begini, pertama kali saya merasakan bakso XYZ (saya sensor ya namanya, karena nggak dibayar juga kalau saya promosiin, hihii) ketika saya hamil Fatih 7 bulan (anak pertama). Saya tipe orang yang susah move on  dalam soal rasa makanan. Jadi nggak ada ceritanya icip sana icip sini berbagai kuliner. Kalau udah stuck sama yang pas di lidah, aku mah setia. Wkwkwk.
                Itu bakso, selain lintongnya yang terbuat dari daging sapi yang empuk , ada kikilnya juga, kadang potongan daging. Selain itu, rasa rempah-rempahnya kerasa banget, terutama mie ayamnya yummy dan maknyus banget. Saosnya, bukan saos murah yang bikin kuah berwarna merah. Tapi saos bermerk yang… ah sulit dilupakan cita rasanya. Seporsinya murah, padahal di warung bakso lainnya dengan harga yang sama kualitasnya nggak sebagus bakso XYZ ini.
                Akhirnya kami jadi langganan, sering banget datang ke sana. Jadi Fatih udah terbiasa dengan bakso itu sejak dalam kandungan. Namun sayang beberapa tahun kemudian kios itu tutup. Yah, bangkrut kali ya.
                Alhamdulillah, tahun lalu saat kami jualan Rujak Eskrim, ada pembeli yang ternyata bosnya bakso XYZ itu. Dia bilang kiosnya pindah, tak jauh dari kontrakan kami kala itu. Langsung deh didatangi. Luar biasa, sekarang kiosnya berubah. Dulu yang hanya sepetak, sekarang jadi lebih luas dengan kursi yang banyak jumlahnya. Ada saung lesehannya beberapa buah, ada kolam ikan ukuran kecil, kamar mandi dan mushola. Bakso lesehan ini jugalah yang sangat tepat untuk keluarga. Jadi Fatih dan Thoriq bisa bebas duduk di mana aja. Mau tidur2an juga boleh.
                Jadi begitulah, karena aku telah terbiasa dengan bakso XYZ, wajar ya kalau sekarang kepikiran terus untuk ke sana. Walaupun dalam perjalanan pulang ya laper lagi karena jaraknya yang lumayan jauh itu. Dan yang bakalan ngiler bukan anak deh, tapi aku sendiri, hehehe…. Yah, selagi harganya terjangkau ( 10ribu/porsi. Mie ayam 7ribu/porsi. Teh anget gratis) kan nggak apa-apa menuruti ngidam itu. Daripada kebawa mimpi selama hamil? Dan kalau udah lahiran harus menjaga makanan, mana bisa seenaknya makan bakso pedas? Orang hamil itu harus selalu bahagia, biar debay dalam perut juga ikut relaks sehingga lahirannya nanti nggak stress. Bisa jadi, salah satu cara biar bahagia adalah menuruti ngidam. Tapi jangan jadi pembenaran buat yang ngidamnya mobil, motor, rumah, tahi kucing, monas, air comberan, dan sebagainya. Harus yang normal lho ya!
***

Main Kotor Siapa Takut?



Eit, ini sih maksudnya bukan kotor dalam artian konotasi. Tapi yang kayak iklan deterjen itu lho, berani kotor itu baik. Iyah, masih berkelanjutan dengan catatan sebelumnya tentang hobi Fatih dan Thoriq main tanah dan kotor-kotoran.. Ternyata, eng ing eng….
                Berdasarkan penelitian, lupa deh siapa yang neliti, bahwa dengan seringnya terpapar oleh kotor maka ketahanan tubuh akan semakin kuat. Lho, kok bisa? Kan ada tuh ortu yang melarang anak-anaknya main kotor-kotoran lantaran takut sakit. Ya, ada bener dan salahnya sih.
                Benernya tuh gini, jadi tanah yang mengandung berbagai bakteri itu bisa membuat anak sakit. Tapi salah kalau kita menganggap tanah semata-mata hanya akan membuat anak kita sakit. Justru itu bisa menjadi semacam imunisasi alami. Sederhananya, kita ini hidup di alam yang dimana-mana penuh mikroba. Kayak iklan sabun itu  tuh “kuman ada di mana-mana, kalau bukan saya yang merawat mereka, siapa lagi?” kira-kira begitu ya.
                Nah, kalau udah terbiasa bersinggungan sama mikroba, tubuh jadi gak kaget kalau sewaktu-waktu terkena mikroba tersebut. Justru kalau terlalu steril, dia jadi rentan alergi, rentan sakit dan sebagainya. Yang bagus bukan steril ya, tapi tangguh!
                Selain penelitian tersebut, ada lagi fakta lainnya yaitu, begini lho. Jadi, suatu hari saya di Puskesmas, ada seorang balita yang gak bisa diam. Ibunya lalu menggunakan jurus saktinya untuk membuat anak itu anteng dan berhasil. Jurusnya sih jelas bukan jurus kunyuk melempar buah ya, dia mengeluarkan smartphonenya dan mengajak anaknya bermain dengan teman imajinasi yang terkenal di kalangan ibu-ibu muda. Yap, apa lagi coba kalau bukan “Pou”. Itu tuh semacam peliharaan virtual yang harus rajin dimandiin dan dikasih emam. Halah. Yang jelas tuh balita jadi gak banyak gerak. Manjur banget kan jurusnya?
                Nah, masih inget kan di catatan sebelumnya saya bilang kalau anak-anak bos Google aja pada mainan tanah daripada main gadget. Karena kalau diperkenalkan dengan gadget itu bisa bikin anak pasif, anti social dan gak yakin deh bisa cerdas dengan cara itu.
                Jadi, mari kita buat anak kita kotor. Ups! Maksudnya sih bukan sengaja dilumurin tanah atau pasir yang udah tercemar tahi kucing, tapi membiarkan mereka bebas layaknya anak-anak pada umumnya. Yang suka main tanah, hujan, dan memang alaminya mereka selalu ingin tahu. Singkirkan itu Pou, Tom yang suka niruin apa yang kita ucapkan, dan lainnya. Masa sih anak yang masih dalam periode emas dijejali dengan permainan yang manipulatif begitu, semata agar mereka anteng terus kita bisa asyik FBan gitu? Hehe